Duh, Konsumsi Minuman Bergula di Indonesia Masih Tinggi

M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Duh, Konsumsi Minuman Bergula di Indonesia Masih Tinggi
Tingginya konsumsi minuman bergula di Indonesia masih perlu perhatian khusus. Hal itu disampaikan dalam Indonesian Hydration & Health Conference (IH2C) di Gedung IMERI FKUI, Rabu (7/11/2018).

Meski kebutuhan minum air cukup, masyarakat Indonesia masih sering mengonsumsi minuman bergula.

Suara.com - Meski tingkat kecukupan minum air masyarakat Indonesia membaik, masih ada kekhawatiran soal tingginya konsumsi minuman bergula di Indonesia. Studi yang dipublikasikan dalam European Journal of Nutrition menyebut 78 persen anak-anak, 79 persen remaja, dan 72 persen orang dewasa dari total 3.644 partisipan di Indonesia telah tercukupi kebutuhannya cairannya setiap hari.

Sayangnya studi yang sama juga menunjukkan adanya tingkat konsumsi minuman bergula yang tinggi. Sekitar 24 persen anak, 41 persen remaja, dan 33 persen orang dewasa di Indonesia mengonsumsi satu porsi minuman bergula setiap hari.

Menanggapi temuan ini, profesor bidang Nutrisi dari Arizona State University, Amerika Serikat, Prof Stavros A. Kavouras, mengatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan masyarakat Indonesia sudah memiliki kesadaran dalam memenuhi hidrasi sehat meski diiringi pula dengan peningkatan asupan minuman bergula.

"Total asupan cairan masyarakat lndonesia sudah meningkat, tetapi hal tersebut diiringi juga dengan peningkatan asupan minuman bergula. Asupan minuman bergula yang berlebihan sendiri terbukti dapat secara signifikan meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus, dan dapat menyebabkan penyakit lain seperti ginjal," ujar Prof Stavros dalam temu media Indonesian Hydration & Health Conference (IH2C) di Gedung IMERI FKUI, Rabu (7/11/2018).

Dalam kesempatan yang sama Ketua IHWG, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH, menambahkan, temuan ini menunjukkan bahwa jenis minuman yang dikonsumsi masyarakat masih didominasi minuman bergula. Padahal dalam sehari idealnya setiap orang mengonsumsi dua liter air putih atau setara dengan delapan gelas air sehari di mana tidak termasuk minuman manis. Sedangkan pada anak-anak harus mengonsumsi enam gelas air putih sehari.

"Ketika kurang minum maka tubuh akan mengompensasi dengan mengeksresikan hormon untuk menahan urin. Hormon terkait stres juga naik, hal ini membuat tubuh mengalami inflamasi salah satunya terjadi resistensi insulin. Jadi kurang minum air putih dan terlalu banyak minum manis busa memicu diabetes melitus," tambah dia.

Untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya konsumsi air untuk mencegah penyakit tidak menular, Prof Budi mengatakan IHWG beserta dengan PT. Tirta lnvestama (Danone-AQUA) dan Kementerian Kesehatan mengembangkan program Ayo Minum Air (AMIR).

"Melalui program AMIR, kami berupaya untuk membiasakan perilaku minum air yang sehat kepada para siswa- siswi sekolah dasar dengan menyediakan gelas dan air saat makan siang di sekolah. Intervensi pada anak untuk berperilaku yang benar tentang hidrasi sangat dibutuhkan, agar di masa mendatang mereka akan terus melakukan kebiasaan baik ini, untuk mengurangi risiko dampak negatif yang timbul akibat kurangnya pemenuhan hidrasi yang sehat," tandas dia.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS