Hari TBC Sedunia, Ini Cara Kemenkes Kejar Target Indonesia Bebas TBC

M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Hari TBC Sedunia, Ini Cara Kemenkes Kejar Target Indonesia Bebas TBC
Hari TBC Sedunia, ini langkah Kemenkes agar Indonesia bebas TBC. (Suara.com/Firsta Nodia)

Tuberkulosis atau TBC masih menjadi momok bagi Indonesia.

Suara.com - Hari TBC Sedunia, Ini Cara Kemenkes Kejar Target Indonesia Bebas TBC

Tuberkulosis atau TBC masih menjadi momok bagi Indonesia. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia dengan jumlah kasus 842 ribu, di bawah India dengan 2,74 juta kasus dan China di posisi kedua sebanyak 889 ribu.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan menargetkan pada 2030 mendatang insiden TBC menurun 80 persen dan 2050 tidak ada lagi kasus baru TBC.

Hal ini disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr Wiendra Waworuntu, M.Kes di sela-sela peringatan Hari TBC Sedunia di Kementerian Kesehatan, Selasa (19/3/2019).

"Kalau ingin mencapai target 2050 kita hanya perlu turunkan kasus dua persen tiap tahun serta harus aktif menemukan kasus baru. Kita juga harus proteksi terjadinya infeksi. Bagaimana risikonya bisa kita mitigasi dan upaya kita menekan TBC Laten," ujar dr Wiendra.

Tuberkulosis (TBC) masih jadi beban di Indonesia. (Shutterstock)
Tuberkulosis (TBC) masih jadi beban di Indonesia. (Shutterstock)

TBC sendiri lanjut dia merupakan penyakit menular langsung yang ditularkan antar manusia lewat semburan dahak atau udara. Penyakit ini kata dia sebenarnya bisa disembuhkan asal pasien mengonsumsi obat secara teratur. Sayangnya lama pengobatan menjadi faktor pasien malas mengonsumsi obat selama periode enam bulan.

"Kalau nggak teratur minum obat bisa jadi TB latent, bisa resisten. Kalau resisten obatnya semakin banyak yang diminum dan lama pengobatan juga bertambah. Belum lagi reaksi dari obat TBC resisten lebih berat dibandingkan obat TBC biasa," imbuh dia.

Yang jadi masalah, kata Wiendra, sebagian besar kasus TBC menyerang usia produktif dan anak-anak. Hal ini akan berimbas pada kerugian ekonomi karena pengobatan yang lama membuat pasien harus kehilangan pekerjaan.

Bahkan dr Wiendra menyebut bahwa pasien TB berisiko 26 persen kehilangan pekerjaan, dan pasien TB MDR berisiko 53 persen kehilangan pekerjaan. Sedangkan kerugian ekonomi yang harus ditanggung negara untuk mengobati pasien TB mencapai 130 milyar per tahun dan 6.2 milyar per tahun untuk pasien TB MDR.

Wiendra berharap Presiden Joko Widodo menunjukkan kepeduliannya dengan mendeklarasikan komitmen untuk menekan kasus TBC di Indonesia.

"Sudah ada deklarasi tingkat dunia. Kami berupaya supaya Pak Presiden mau berbicara soal tuberkulosis. Yang paling penting komitmen. Dalam komitmen itu bagaimana menyepakati 'united to end' TBC," tandasnya.

Komentar

loading...
Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS