Pola Makan Buruk Lebih Berbahaya Daripada Merokok

Vania Rossa | Dinda Rachmawati
Pola Makan Buruk Lebih Berbahaya Daripada Merokok
Ilustrasi pola makan buruk. (Shutterstock)

Penelitian mengungkap seperlima kematian di dunia disebabkan karena pola makan buruk.

Suara.com - Merokok selama ini diketahui sebagai pemicu berbagai masalah kesehatan berbahaya, bahkan mematikan. Tapi ternyata, ada hal lain yang lebih berisiko untuk kesehatan, yaitu pola makan buruk.

Sebuah penelitian mengungkap, bahwa seperlima kematian di dunia disebabkan karena pola makan buruk. Dilansir dari laman metro.co.uk, para peneliti mengklaim bahwa jumlah ini lebih banyak daripada kematian akibat merokok yang ada kaitannya dengan penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Untuk sampai pada kesimpulan ini, lebih dari 130 ilmuwan membandingkan pola makan dengan tingkat kematian dan penyakit di 195 negara.

Mereka menemukan bahwa pada 2017, pola makan buruk bertanggung jawab atas 11 juta kematian, atau 22 persen dari total yang dicatat.

Rincian analisis menunjukkan bahwa rendahnya asupan biji-bijian dan buah-buahan, serta konsumsi natrium yang tinggi - yang ditemukan dalam garam - menyumbang lebih dari setengah kematian terkait pola makan ini.

Sisanya dikaitkan dengan konsumsi yang tinggi daging merah dan daging olahan, minuman manis, dan makanan tidak sehat lainnya, termasuk yang mengandung lemak trans.

Sebagian besar kematian terkait pola makan buruk ini disebabkan oleh penyakit jantung, diikuti oleh kanker dan diabetes tipe 2. Para peneliti juga melaporkan dalam jurnal The Lancet, bahwa pola makan yang buruk juga menyebabkan beban kecacatan yang sangat besar.

Sebagai perbandingan, merokok tembakau dikaitkan dengan delapan juta kematian. Ilmuwan terkemuka Dr. Ashkan Afshin dari University of Washington, Amerika Serikat, mengatakan bahwa pola makan yang buruk adalah pembunuh yang memiliki peluang setara dengan merokok.

"Kita adalah apa yang kita makan dan risiko memengaruhi orang di berbagai demografi, termasuk usia, jenis kelamin, dan status ekonomi. Untuk itu, kami menyoroti bagaimana rendahnya konsumsi makanan sehat dibandingkan dengan konsumsi makanan tidak sehat yang lebih besar," ungkapnya.

Dr. Ashkan mengatakan, diet yang paling terkait dengan kematian adalah makanan yang tinggi sodium, serta rendah biji-bijian, buah, kacang-kacangan, dan lemak omega-3. Masing-masing faktor ini menyumbang lebih dari 2 persen dari semua kematian secara global.

Profesor Walter Willett dari Universitas Harvard mengatakan temuan itu mendukung penelitian terbaru tentang penyakit jantung dan arteri yang menganjurkan penggantian daging dengan protein nabati.

"Adopsi diet yang menekankan makanan kedelai, kacang-kacangan, dan sumber protein nabati sehat lainnya akan memiliki manfaat penting bagi kesehatan manusia dan planet," katanya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS