Kotoran Sapi dan Kulit Binatang Jadi Alternatif Pembalut di Negara Miskin

M. Reza Sulaiman, Dinda Rachmawati

Selasa, 16 April 2019 | 13:05 WIB
Kotoran Sapi dan Kulit Binatang Jadi Alternatif Pembalut di Negara Miskin
Di negara miskin, pembalut tak mudah didapat. (Foto: shutterstock)

Suara.com - Kotoran Sapi dan Kulit Binatang Jadi Alternatif Pembalut di Negara Miskin

Kondisi kemiskinan membuat begitu banyak perempuan di berbagai belahan dunia tidak memiliki akses terhadap produk sanitasi. Bahkan di Inggris, yang dikenal sebagai negara maju, 40 persen anak perempuan terpaksa menggunakan tisu toilet karena mereka tidak mampu membeli produk sanitasi.

Di bagian lain dunia, situasinya lebih mengerikan. Perempuan dan anak perempuan miskin harus menggunakan kulit binatang, kain, kotoran sapi kering, dan lainnya untuk keperluan tamu bulanan mereka.

Dilansir Metro, seorang perempuan dari Uganda mengatakan dia harus menggali lubang di tanah dan duduk di atasnya untuk mengalirkan darah menstruasinya. Beberapa dari mereka yang menstruasi bahkan tidak memiliki akses ke kebutuhan dasar seperti air bersih dan toilet.

Hal ini membuat badan amal Water Aid mengumpulkan galeri foto untuk menunjukkan metode yang digunakan para perempuan ini untuk memberikan kita gambaran mengenai realitas kemiskinan.

Water Aid melaporkan bahwa satu dari sembilan orang tidak memiliki air bersih di dekat rumah mereka dan satu dari tiga orang tidak memiliki toilet yang layak. Sebagai bagian dari galeri, Water Aid berbicara dengan beberapa perempuan yang mengungkapkan metode apa yang mereka gunakan untuk kebutuhan sanitasi mereka.

Limpo, perempuan 22 tahun dari Zambia, menggunakan kotoran sapi kering. Dia memotongnya menjadi seperti kue kecil dan membungkusnya dengan kain.

Pembalut di negara miskin mahal dan susah didapat. (Shutterstock)
Pembalut di negara miskin mahal dan susah didapat. (Shutterstock)

"Saya tidak meletakkan kotoran sapi kering tersebut langsung ke kulit saya, saya membungkusnya dengan kain dan menempatkannya dengan baik untuk menampung aliran darah menstuasi tanpa menodai pakaian lain," katanya.

Lebih lanjut kata Limpo, dia suka metode ini karena kotoran sapi kering dapat menyerap banyak darah, membuatnya tidak kesulitan saat menstruasi.

baca juga

"Setelah menyerap darah, saya dengan hati-hati membuangnya. Saya biasanya menggali lubang kecil di tanah dan menguburnya. alam budaya kita, laki-laki tidak diperbolehkan melihat hal-hal seperti itu," ungkap Limpo.

Berbeda dari Limpo, Lepera Joyce dari Uganda mengatakan dia menggunakan rok menstruasi dari kulit binatang.

"Suatu kali saya membeli sebungkus pembalut perempuan dari toko tetapi saya tidak menyukainya karena jika seseorang memiliki aliran darah yang deras ia dapat menggunakan lebih dari tiga pembalut dalam sehari dan harganya mahal," kata Lepera.

Apalagi, lanjut dia, pembalut di pasaran berukuran kecil, sehingga tidak menyerap semua darah. Sedangkan untuk rok dari kulit kambing, mereka dapat digunakan sepanjang hari.

Kotoran sapi hingga kulit binatang jadi alternatif pembalut di negara miskin. (Dok: Shutterstock)
Kotoran sapi hingga kulit binatang jadi alternatif pembalut di negara miskin. (Dok: Shutterstock)

Demikian pula, Sangita, dari Nepal, yang membuat pembalutnya sendiri.

"Pembalut di pasaran mahal dan jika Anda tidak membuangnya dengan benar, itu akan mencemari lingkungan. Di kota seperti kami di mana tidak ada rencana untuk mengelola limbah padat, pembalut semacam ini dapat mencemari sumber air kami juga jika tidak dibuang dengan benar," ungkap dia.

Jadi, melihat dampak yang lebih luas, Sangita membuat pembalut buatan sendiri yang lebih aman.

Water Aid mengatakan semua perempuan harus memiliki akses ke produk sanitasi yang bersih dan aman sebagai pilihan mereka. Badan amal ini mendesak pemerintah masing-masing negara untuk mengambil tindakan terhadap kemiskinan.

"Water Aid menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk memprioritaskan sanitasi yang layak, air bersih, dan kebersihan yang baik di sekolah, rumah, dan tempat kerja, dan akses ke produk sanitasi untuk semua, untuk memastikan bahwa perempuan tidak dikecualikan dari masyarakat akan kebutuhan sebulan sekali mereka," tutup Water Aid.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jorok! 42.000 Warga Jakarta Masih Buang Air Besar Sembarangan

Jorok! 42.000 Warga Jakarta Masih Buang Air Besar Sembarangan

News | Rabu, 10 April 2019 | 14:28 WIB

5 Negara dengan Upah Minimum Terendah di Dunia di Bawah Rp 1 Juta

5 Negara dengan Upah Minimum Terendah di Dunia di Bawah Rp 1 Juta

Bisnis | Sabtu, 30 Maret 2019 | 00:55 WIB

Bukan Perban, Perempuan Ini Hentikan Luka Pendarahan dengan Pembalut

Bukan Perban, Perempuan Ini Hentikan Luka Pendarahan dengan Pembalut

Health | Kamis, 21 Februari 2019 | 10:59 WIB

Terkini

Waspada Hujan Petir dan Asap Kabut, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kota Besar Hari Ini

Waspada Hujan Petir dan Asap Kabut, BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Kota Besar Hari Ini

Banten | Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla, anggaran Disorot

Gubernur Kaltim ke Singapura saat Karhutla, anggaran Disorot

Video | Selasa, 13 Oktober 2026 | 23:00 WIB

Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun

Pemprov Jabar Ajukan Pinjaman Rp3,4 Triliun

Jabar | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Cek Harga Cabai Merah dan Unggas di Rangkasbitung Terbaru

Cek Harga Cabai Merah dan Unggas di Rangkasbitung Terbaru

Banten | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:48 WIB

Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya

Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya

Jabar | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:41 WIB

Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 494,3 T per September 2026, Suahasil Klaim Masih On Track

Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 494,3 T per September 2026, Suahasil Klaim Masih On Track

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:39 WIB

Mobil Kijang Bawa 8 Jeriken Bensin Terbakar di Bogor, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

Mobil Kijang Bawa 8 Jeriken Bensin Terbakar di Bogor, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta

Bogor | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:37 WIB

Maya Miranda Ambarsari Tekankan Solidaritas Perempuan untuk Bangun Bengkulu

Maya Miranda Ambarsari Tekankan Solidaritas Perempuan untuk Bangun Bengkulu

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Modus Pijat Panggilan Berujung Pemerasan, Detektif Jubun Ingatkan 5 Hal Ini

Modus Pijat Panggilan Berujung Pemerasan, Detektif Jubun Ingatkan 5 Hal Ini

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:07 WIB

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memanas! Siswi Protes, 37 Orang Diciduk

Larangan Hijab di Sekolah Azerbaijan Memanas! Siswi Protes, 37 Orang Diciduk

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 21:50 WIB

×