Penting, Begini Cara Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan

Vania Rossa
Penting, Begini Cara Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan
Ilustrasi anak kalah main catur. (Shutterstock)

Menang memang menyenangkan, tapi anak-anak perlu belajar bahwa kalah pun tidak apa-apa.

Suara.com - Penting, begini cara mengajarkan anak menerima kekalahan.

Anda yang punya anak usia prasekolah, pasti tahu betapa kompetitifnya mereka. Bukan hanya tak mau kalah dari teman-temannya, mereka juga tak bisa menerima kekalahan, yang seringkali diekspresikan dengan marah ataupun menangis.

Ya, anak-anak memang selalu ingin menang, mulai dari hal sepele seperti siapa yang lebih dulu menghabiskan makanannya, siapa yang pertrama tiba di sekolah, hingga soal siapa yang bisa berayun paling tinggi di ayunan. "Anak-anak hanya tahu bahwa menang itu menyenangkan," demikian dikatakan Eileen Kennedy-Moore, Ph.D., Parents Advisor sekaligus penulis buku Smart Parenting for Smart Kids, seperti dilansir dari laman Parents.

Karena berpikir bahwa memang itu menyenangkan, beberapa anak mungkin akan terdorong untuk melakukan hal-hal curang, yang merugikan teman-temannya. Bagaimana cara Anda menyikapinya?

"Anda dapat mengatakan pada anak, 'Kamu tahu tindakan (curang) seperti itu akan membuat kalah temanmu. Bagaimana kalau kamu yang diperlakukan seperti itu?'" kata Dr. Kennedy-Moore.

Kemudian, mengajarkan anak untuk menerima kekalahan juga akan lebih mudah jika anak dibiasakan untuk menghargai usaha daripada hasil akhir. Salah satu contohnya, memuji anak ketika ia melakukan usaha yang baik. Misalnya, "Waktu lomba lari kemarin, kamu baik banget mau membantu temanmu yang sempat jatuh."

Meski demikian, jiwa kompetitif juga tak selalu buruk, dan persaingan pada anak-anak biasanya dimulai dengan persaingan antar kakak dan adik. "Persaingan sangat penting untuk perkembangan anak - interaksi ini adalah mikrokosmos dari bagaimana dia akan menanggapi persaingan serupa di dunia luar," kata Hilary Levey Friedman, Ph.D., seorang sosiolog dari Harvard sekaligus penulis Playing to Win : Raising Children in a Competitive Culture.

Bersaing itu sendiri bukanlah hal yang negatif, tetapi belajar bagaimana menerima kemenangan atau kekalahan dengan sportif membutuhkan latihan. "Untuk anak-anak prasekolah, memainkan permainan yang dibuat semakin kompleks, akan membantu mereka mengalami persaingan dengan cara yang positif," kata Dr. Kennedy-Moore.

Mulailah dengan mengajak anak untuk mengalahkan dirinya sendiri. Maksudnya seperti ini, "Anak-anak prasekolah suka stopwatch, karena mereka juga hanya belajar tentang konsep waktu," kata Dr. Kennedy-Moore.

Anda dapat menyarankan satu atau dua tantangan, misalnya, seberapa cepat dia bisa berlari ke pohon itu dan kembali? Bisakah dia membaca alfabet lebih cepat hari ini daripada yang dia lakukan kemarin? Ajari anak bahwa menang adalah tentang menjadi diri terbaiknya dan selalu ada ruang untuk perbaikan.

Berikutnya, ajari anak beberapa permainan berkelompok - kegiatan di mana keluarga bekerja bersama untuk mencapai satu tujuan. "Dengan begitu, tidak ada orang yang menang atau kalah - Anda mengubahnya menjadi upaya kelompok untuk menyelesaikan masalah bersama-sama," kata Dr. Kennedy-Moore.

"Kemampuan untuk bangkit kembali setelah gagal atau mengalami kekalahan menjadi semakin penting ketika anak mulai masuk usia sekolah dasar," kata Dr. Levey Friedman.

"Mengajarkan anak soal ketahanan dan kemampuan menerima kekalahan akan membuat mereka sukses, karena mereka belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dunia. Ini hanya kesempatan untuk mencoba lagi," tandas Friedman.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS