Liputan Khas: Ilmuwan Beberkan Bahaya Tersembunyi Polusi Udara

M. Reza Sulaiman, Risna Halidi

Senin, 17 Juni 2019 | 08:10 WIB
Liputan Khas: Ilmuwan Beberkan Bahaya Tersembunyi Polusi Udara
Greenpeace melakukan aksi di depan Gedung Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Kamis (28/9). (Dok. Suara.com)

Beban Ekonomi Penyakit Bersumber Polusi Udara

Dalam penelitiannya, Prof Budi tidak hanya menyinggung risiko penyakit akibat pencemaran udara, namun juga prediksi beban ekonomi yang bisa ditimbulkan.

Kebakaran hutan di Sumatra pada 2015 menyebabkan kematian pada setidaknya 10 orang yang disebabkan oleh masalah pernapasan. Angka pasien rumah sakit yang membutuhkan penanganan jauh lebih besar, mencapai lebih dari 560 ribu orang.

Di Jakarta, di mana sektor ekonomi berhubungan langsung dengan transportasi, mengalami penyakit akibat pernapasan bisa berdampak lansung terhadap kondisi ekonomi seseorang.

Beban ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit asma, PPOK, pneumonia hingga bronkitis bisa mencapai Rp 38,5 triliun. Angka ini menurut Prof Budi, sangat tinggi mengingat anggaran belanja Kementerian Kesehatan yang hanya Rp 20 triliun.

Oleh karena itu, harus ada langkah serius dari pemerintah terkait masalah polusi udara. Bila pemerintah tidak melakukan aksi nyata secepat mungkin, maka kasus pesakitan dan beban ekonomi akibat masalah pencemaran udara akan terus meningkat dan semakin parah.

"Kita bernapas tidak bisa memilih (udara). Kualitas udara kita seperi apa, itu yang ada di paru-paru kita. Kalau begini terus, secara perlahan terjadi pembiaran kemudian sakit dan meninggal dunia yang sebenarnya ini semua dapat dicegah," terang Prof budi.

Data emisi pencemaran udara yang dirilis melalui riset Prof Budi Haryanto. (Dok. Budi Haryanto/Researhgate)
Data emisi pencemaran udara yang dirilis melalui riset Prof Budi Haryanto. (Dok. Budi Haryanto/Researhgate)

Belum Terlambat untuk Mencegah

Dampak bahaya polusi udara sudah tidak diragukan lagi. Tak hanya berisiko menyebabkan kesakitan dan kematian, polusi udara juga bisa membuat keadaan ekonomi terpuruk.

baca juga

Meski begitu, dr. Agus mengatakan belum terlambat untuk melakukan penanganan, dan mencegah efek buruk polusi udara menyerang masyarakat. Dikatakannya, pencegahan dampak polusi udara harus dilakukan secara holistik atau menyeluruh.

Ada tiga klasifikasi upaya pencegahan dampak polusi udara menurut dr. Agus. Yang pertama, upaya pencegahan bisa dilakukan dengan mengurangi polutan yang ada di perkotaan. Hal ini bisa dicapai dengan memperketat uji emisi kendaraan, membuat peraturan dan undang-undang terkait polusi udara yang lebih bijak, serta pemantauan kadar nilai polutan secara berkala.

Di tingkat individu, pencegahan bisa dilakukan dengan mengadopsi gaya hidup sehat. Misalnya, masyarakat yang menggunakan moda transportasi umum tak lupa menggunakan masker saat melakukan perjalanan.

Upaya pencegahan sekunder bisa dilakukan dengan rutin melakukan pemeriksaan medis atau medical check-up minimal enam bulan sekali. Pemeriksaan medis bisa dilakukan untuk beberapa penyakit, seperti kanker paru dan PPOK, yang gejala awalnya tidak terlihat jelas.

Ilustrasi polusi udara berbahaya bagi anak-anak. (Shutterstock)
Ilustrasi polusi udara berbahaya bagi anak-anak. (Shutterstock)

Disebutkan dr. Agus, pemeriksaan medis sangat dianjurkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi, serta yang rutin terpapar asap baik itu dari kendaraan bermotor, pabrik, maupun rumah tangga.

Upaya pencegahan tersier lebih diutamakan bagi pasien penyakit paru, atau pasien penyakit lain yang keadaannya bisa memburuk jika terpapar polusi udara. Bagi kelompok sensitif ini, pemantauan kadar polusi udara secara rutin dan berkala menjadi penting.

Tentu saja, upaya pencegahan dampak polusi udara tidak bisa dilakukan seorang diri. Pemerintah, baik itu pemerintah daerah maupun pusat, kelompok masyarakat, pemerhati lingkungan, hingga individu harus berupaya maksimal agar dampak polusi udara tidak lagi mematikan.

"Selain itu individu juga bisa melakukan aktivitas seimbang, dengan cara menghindari lokasi dengan polutan tinggi dan mengupayakan pergi ke daerah hijau seminggu sekali sebagai suplai udara segar," tutup dr. Agus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk saat Libur Lebaran

Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk saat Libur Lebaran

Tekno | Senin, 10 Juni 2019 | 22:01 WIB

Ditinggal Warga Mudik, Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk dan Berbahaya

Ditinggal Warga Mudik, Kualitas Udara Jakarta Masih Buruk dan Berbahaya

News | Selasa, 04 Juni 2019 | 15:54 WIB

Polusi Udara Tak Ditangani Serius, Jokowi Bakal Digugat Aktivis Lingkungan

Polusi Udara Tak Ditangani Serius, Jokowi Bakal Digugat Aktivis Lingkungan

News | Selasa, 04 Juni 2019 | 05:37 WIB

Terkini

Ekonom Unsri Hitung Kerugian Karhutla Sumsel 2026 Capai Rp5,7 Triliun

Ekonom Unsri Hitung Kerugian Karhutla Sumsel 2026 Capai Rp5,7 Triliun

Sumsel | Senin, 02 November 2026 | 21:04 WIB

Merayakan Rindu dan Kegelisahan lewat Puisi di Buku Kidung Para Pencari

Merayakan Rindu dan Kegelisahan lewat Puisi di Buku Kidung Para Pencari

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 21:00 WIB

Fakta TPPO Modus Tentara Bayaran Rusia, Cuma Modal Latihan Sebulan Langsung Tempur

Fakta TPPO Modus Tentara Bayaran Rusia, Cuma Modal Latihan Sebulan Langsung Tempur

News | Senin, 02 November 2026 | 20:55 WIB

Santriwati Tidur Digeledah Polisi, KPAI Ungkap Dugaan Penodongan Senjata

Santriwati Tidur Digeledah Polisi, KPAI Ungkap Dugaan Penodongan Senjata

News | Senin, 02 November 2026 | 20:49 WIB

Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia, Korban TPPO Cuma Dilatih Sebulan Sebelum ke Medan Perang

Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia, Korban TPPO Cuma Dilatih Sebulan Sebelum ke Medan Perang

News | Senin, 02 November 2026 | 20:36 WIB

Wanita Diduga ODGJ Melahirkan di Pinggir Jalan Pematangsiantar, Bayi Meninggal Dunia

Wanita Diduga ODGJ Melahirkan di Pinggir Jalan Pematangsiantar, Bayi Meninggal Dunia

Sumut | Senin, 02 November 2026 | 20:26 WIB

Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat

Proteksi Double! 4 Sunscreen Lokal PDRN Ini Bikin Wajah Awet Muda dan Sehat

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 20:25 WIB

Debut Sistem Skor 3x15 BWF, 707 Pebulu Tangkis dari 8 Negara Siap Bersaing di Superliga Junior 2026

Debut Sistem Skor 3x15 BWF, 707 Pebulu Tangkis dari 8 Negara Siap Bersaing di Superliga Junior 2026

Sport | Senin, 02 November 2026 | 20:24 WIB

Tergiur Bonus Ratusan Juta, 58 Korban TPPO Nyaris Dikirim ke Medan Perang Rusia

Tergiur Bonus Ratusan Juta, 58 Korban TPPO Nyaris Dikirim ke Medan Perang Rusia

News | Senin, 02 November 2026 | 20:21 WIB

Cara Mengaktifkan BPJS PBI yang Tidak Aktif, Ini Langkah Reaktivasi dan Syaratnya

Cara Mengaktifkan BPJS PBI yang Tidak Aktif, Ini Langkah Reaktivasi dan Syaratnya

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 20:20 WIB

×