Jangan Ditiru, 5 Perilaku Orangtua yang Jadi Contoh Buruk untuk Anak

M. Reza Sulaiman, Dinda Rachmawati

Jum'at, 02 Agustus 2019 | 12:41 WIB
Jangan Ditiru, 5 Perilaku Orangtua yang Jadi Contoh Buruk untuk Anak
Perilaku buruk orangtua. (Shutterstock)

Suara.com - Jangan Ditiru, 5 Perilaku Orangtua yang Jadi Contoh Buruk untuk Anak

Setiap orangtua tentu mencintai anak-anak mereka. Saatnya, saat menjadi orangtua, tak sedikit dari kita merasa bahwa mereka memiliki keistimewaan atau hak yang berlebih daripada orang lain.

Seperti, mereka membiarkan anak-anak gaduh di tempat atau transportasi umum, hingga tidak mau mengantre saat di supermarket, ini hanya beberapa contoh dari perilaku negatif yang dimiliki beberapa orangtua.

Nah, sebenarnya, ada sikap ekstrem lainnya yang kerap dilakukan orangtua, dan menganggap semua itu harus dimaklumi oleh orang-orang di sekitar kita.

Nah, ingin mengetahui apa saja perilaku tersebut? Dilansir dari Bright Side, berikut tingkah orangtua yang tidak hanya membuat orang lain kesal, tetapi juga membahayakan diri maupun anak-anak mereka.

1. Melanggar standar sosial dengan alasan seorang anak

Untuk beberapa orang dewasa, anak-anak berfungsi sebagai izin untuk perilaku tertentu, bahkan jika itu melanggar aturan yang berlaku umum. Itu bisa apa saja, besar atau kecil, seperti berjalan tanpa mengantre di supermarket, membuka celana anak untuk buang air kecil di taman, atau membawa anak lelaki yang hampir dewasa ke ruang ganti perempuan.

Jika Anda meminta orangtua untuk menahan diri dari melakukan hal-hal ini, mereka mungkin mulai berteriak tentang memiliki hak yang sama.

2. Berpikir bahwa anak-anak selalu benar

baca juga

Dulu, puluhan tahun yang lalu, anak-anak mungkin bisa hanya mengikuti apa pun yang dikatakan orang tua mereka dan hampir tidak memiliki suara dalam keluarga. Beberapa orangtua modern, sebaliknya, yakin bahwa anak mereka adalah anggota keluarga yang paling penting dan kritik apa pun dapat membuat mereka trauma seumur hidup.

Mereka akan sering menemukan pembenaran atas kesalahan yang dilakukan anak mereka. Dia memukuli anak-anak lain? Anak lain yang mungkin memulainya dulu. Dia mencuri uang dari saudara perempuannya? Dia mungkin menganggapnya sebagai lelucon. Dia makan permen di toko yang tidak dia beli? Dia hanya seorang anak kecil, wajar jika dia menginginkan permen!

Orang dewasa seperti itu sering tidak mau bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang dilakukan anak-anak mereka dan akan sering mengatakan 'namanya juga anak-anak, mereka hanya bermain,'. Tentu saja ini membuat orang lain benar-benar marah.

3. Berpikir bahwa mereka lebih baik daripada orang yang tidak memiliki anak

Anak-anak bukan anggota keluarga baru untuk semua orang. Terkadang, anak-anak digunakan sebagai cara untuk meningkatkan status sosial orang tua mereka. Beberapa orang dewasa berpikir bahwa ketika mereka melahirkan, mereka memenuhi semacam tugas besar, dan anak mereka membuat mereka lebih penting dan signifikan.

Sayangnya, ini terutama terlihat pada orang yang tidak memiliki prestasi atau minat lain dalam hidup. Hanya dengan menjadi orang tua, mereka dapat dengan mudah merasa lebih baik daripada teman mereka yang memiliki karier yang sukses dan tidak memiliki anak.

anak dan orangtua
ilustrasi perilaku anak dan orangtua. (Shutterstock)

Atau mereka seenaknya mengatakan jika teman mereka belum dewasa karena mereka pergi berlibur 5 kali setahun daripada menikah dan berkeluarga. Tetapi satu-satunya hasil yang datang dari perilaku ini adalah orang-orang tidak ingin berbicara dengan mereka lagi.

4. Memiliki sikap menghina terhadap pekerjaan

Setelah melahirkan, beberapa perempuan memutuskan untuk mendedikasikan sepenuhnya untuk membesarkan anak-anak mereka, terutama ketika mereka memiliki lebih dari satu anak.

Namun, mereka menyadari bahwa pilihan mereka bukan satu-satunya pilihan yang tepat. Ada yang ingin kembali bekerja sesegera mungkin, beberapa bahkan siap menyerah untuk memiliki anak agar memiliki karier yang sukses.

Nah, ini akan sangat berbeda bagi perempuan yang menganggap bahwa anak-anak mereka adalah panggilan dan menjadi ibu adalah profesi mereka. Ibu-ibu semacam itu menuntut orang lain untuk menghormati mereka hanya karena mereka mempunyai anak dan mereka dengan serius berpikir bahwa semua orang membenci pekerjaan mereka tetapi harus bekerja demi uang. Jadi, ibu seperti itu memiliki sikap negatif terhadap ibu lain yang bekerja.

5. Bangga bahwa anak-anak mereka selalu menjadi yang utama

Beberapa orangtua berpikir bahwa anak-anak harus mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Seorang ibu dari keluarga semacam itu dapat dengan bangga menjelaskan bagaimana dia melepaskan kariernya yang sukses untuk merawat anaknya, dan seorang ayah dapat mengatakan bahwa dia belum berlibur selama beberapa tahun karena anak-anaknya selalu membutuhkan sesuatu, apakah itu mainan baru, perangkat baru, dan sebagainya.

Sangat sulit untuk mengatakan seberapa baik atau buruk pendekatan ini untuk anak-anak. Seorang anak yang berpikir bahwa mereka adalah pusat dunia tidak mungkin tumbuh dan tidak mau mengurus diri sendiri karena orangtua mereka akan selalu melakukannya.

Ini sering mengarah pada situasi di mana kerabat lanjut usia masih merawat putra dan putri mereka yang sudah dewasa karena ada merela tidak berhasil mendidik anak mereka mandiri dan menganggap bahwa mereka selalu membutuhkan bantuan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cegah Anak Akses Konten Porno, Orang Tua Perlu Melek Teknologi

Cegah Anak Akses Konten Porno, Orang Tua Perlu Melek Teknologi

Health | Rabu, 31 Juli 2019 | 13:27 WIB

Isi Formulir Pendaftaran Sekolah, Tulisan Ayah Ini Bikin Ngakak

Isi Formulir Pendaftaran Sekolah, Tulisan Ayah Ini Bikin Ngakak

Tekno | Minggu, 28 Juli 2019 | 11:30 WIB

Cegah Anak Lakukan Kekerasan, Ini Pesan Psikolog untuk Orangtua

Cegah Anak Lakukan Kekerasan, Ini Pesan Psikolog untuk Orangtua

Health | Rabu, 24 Juli 2019 | 13:04 WIB

Terkini

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

The Walk Hadir di Serpong, Satukan Kuliner dan Beauty dalam Satu Destinasi Lifestyle

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 02:04 WIB

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

×