Array

Waspada Efek Guncangan Gempa Bumi Pada Ibu Hamil dan Bayi di Perut!

Minggu, 04 Agustus 2019 | 08:10 WIB
Waspada Efek Guncangan Gempa Bumi Pada Ibu Hamil dan Bayi di Perut!
Ilustrasi ibu hamil. (Shutterstock)

Suara.com - Gempa 7,4 SR yang terjadi di Banten kemarin Jumat (2/8/2019) masih menimbulkan kekhawatiran sejumlah masyarakat yang terdampak.

Dalam kondisi ini, semua orang pasti mulai meningkatkan kewaspadaan jika terjadi gempa susulan, terlebih ibu hamil.

Anda mungkin ada yang penasaran bagaimana pengaruh guncangan gempa bumi pada kehamilan?

Sebuah studi tentang gempa bumi tahun 2005 di Chili pernah meneliti pengaruh guncangan gempa bumi pada ibu hamil.

Hasilnya, ibu hamil yang mengalami gempa bumi di trimester pertama lebih berisiko melahirkan bayi prematur.

Sementara penurunan berat lahir dan waktu kehamilan relatif kecil, hasilnya cukup signifikan menunjukkan bahwa gempa bumi yang dialami lebih dari 6 bulan sebelum melahirkan bisa berdampak buruk pada kehamilan.

"Secara statistik hasilnya signifikan, jauh di batas kesalahan dan itu bukan suatu kebetulan," kata Florencia Torche, sosiolog NYU dikutip dari Wired.

Gempa Banten
Gempa Banten

Studi baru Torche juga pernah meneliti dampak guncangan gempa bumi pada ibu dan janin dalam kandungannya. Dalam hal ini, stres maternal telah dikaitkan menjadi penyebabkan kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir lebih rendah.

Namun, studi tahun 2011 tentang gempa Northridge 1994 menunjukkan bahwa aktivitas seismik utama memberikan dampak yang cukup signifikan pada ibu hamil yang merasakannya.

Baca Juga: Konsumsi Narkoba saat Hamil, Wanita ini Lahirkan Bayi Kembar Prematur

Tetapi, bukan pada ibu hamil yang mendekati persalinan. Melainkan ibu hamil yang baru saja hamil atau trimester awal.

Ibu hamil trimester pertama atau 3 bulan pertama kehamilan berisiko melahirkan bayi seminggu lebih cepat dari tanggal yang diperkirakan.

Peneliti menduga guncangan gempa yang dirasakan oleh ibu hamil seperti mengaktifkan "jam plasenta" yang membuatnya melahirkan lebih cepat.

"Mungkin ada ledakan hormon pelepas kortikotropin, respons stres yang berfungsi sebagai sinyal bagi tubuh wanita hamil bahwa harus melahirkan bayinya lebih cepat," katanya.

Meski begitu, berat badan bayi lahir yang lebih rendah bisa juga pengaruh faktor lainnya. Sehingga peneliti memerlukan riset lebih lanjut agar mengetahui secara pasti penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI