Waduh, Polusi Udara Pengaruhi Hormon dan Sistem Reproduksi Wanita

Dany Garjito | Shevinna Putti Anggraeni
Waduh, Polusi Udara Pengaruhi Hormon dan Sistem Reproduksi Wanita
Ilustrasi polusi udara [Shutterstock]

Penelitian menemukan bahwa polusi udara memengaruhi hormon dan sistem reproduksi.

Suara.com - Anda pasti sudah mengetahui kalau polusi udara sangat buruk untuk kesehatan fisik dan kulit kita. Polusi bisa memperburuk kondisi paru-paru, menyebabkan jerawat dan kulit kusam.

Selain dua hal itu, polusi juga bisa membawa dampak buruk pada hormon dan sistem reproduksi kita. Sebuah laporan baru dilansir dari metro.co.uk, menemukan bahwa polusi dapat meningkatkan risiko keguguran lebih dari 50 persen.

Penelitian terhadap lebih dari seperempat juta wanita hamil menemukan bahwa paparan polusi sangat berbahaya untuk kesehatan bayi daripada merokok.

Hal ini tentu mengkhawatirkan untuk kondisi kesehatan ibu hamil yang banyak menghabiskan waktu di luar ruangan. Apalagi masih banyak orang yang kurang pengetahuan tentang efek polusi terhadap hormon dan reproduksi.

Spesialis kebidanan dan ginekologi, dr Shruthi Mahalingaiah mengatakan tubuh manusia memiliki dua reseptor, yakni reseptor estrogen dan progesteron. Terutama pada jaringan yang responsif hormon seperti jaringan payudara, jaringan tulang atau reproduksi.

Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]
Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Secara historis telah ditunjukkan bahwa beberapa jenis polutan sebenarnya dapat berkaitan dengan reseptor hormon. Jika ada bahan kimia lain di lingkungan kita yang dapat bereaksi silang atau berkaitan dengan reseptor homon, hal ini bisa menyebabkan masalah.

Karena tubuh kita akan menerima sinyal yang salah. Shruthi mengatakan bahwa hal yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah semuanya saling terkait ketika sudah memengaruhi sistem hormon.

"Polutan itu bisa masuk ke uterus dan tuba falopi. Jika Anda menghirup logam berat aerosol, metabolit dari tembakau seperti cotinine atau nikotin. Beberapa polutan organik yang persisten ditemukan dalam cairan di sekitar telur yang sedang berkembang," jelasnya.

Faktanya, sebuah penelitian telah menemukan ada pastikel karbon dari polusi di dalam plasenta ibu hamil. Selain itu, Shruthi juga mengamati efek paparan polusi pada ketidakteraturan menstruasi seseorang.

"Kami menemukan bahwa peningkatan paparan polusi memengaruhi risiko ketidakteraturan menstruasi di kemudian hari," ujarnya.

Studi menunjukkan bahwa peningkatan paparan polusi dapat menyebabkan:

1. Peningkatan risiko infertilitas
2. Kemungkinan periode menstruasi yang lebih tinggi
3. Meningkatkan risiko keguguran lebih dari 50 persen
4. Sinyal hormon yang membingungkan dikirim ke seluruh tubuh

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS