Ayah, Ibu, dan Bayi Berisiko Alami Shaming, Apa Dampaknya Bagi Mental?

M. Reza Sulaiman | Vessy Dwirika Frizona
Ayah, Ibu, dan Bayi Berisiko Alami Shaming, Apa Dampaknya Bagi Mental?
Mom shaming bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental perempuan. [shutterstock]

Ada banyak sekali bullying atau shaming dilemparkan kepada setiap anggota keluarga lewat berbagai media. Apa bahayanya?

Suara.com - Ayah, Ibu, dan Bayi Berisiko Alami Shaming, Apa Dampaknya Bagi Mental?

Perilaku menyerang kesehatan mental kini semakin rentan bagi keluarga Indonesia. Ada banyak sekali bullying atau shaming dilemparkan kepada setiap anggota keluarga lewat berbagai media.

Psikolog klinis, Dessy Ilsanty M. PSi., mengatakan bentuk shaming atau tindakan mempermalukan seseorang kini dihadapi semua lapisan usia, mulai dari bayi hingga orang tua.

"Baby shaming, tindakan mengeluarkan kata-kata negatif yang dilakukan seseorang terhadap bayi. Anak kecil sudah dibully. Misalnya dengan mengatakan bayi itu botak, pesek, hitam, dan lain sebagainya. Selain fisik juga seringkali mengarah ke perilaku si bayi seperti mengatakan anak cengeng, jorok, berantakan mainnya, dan masih banyak lagi," ucap Dessy Ilsanty kepada Suara.com belum lama ini di Jakata, ditulis Selasa (22/10/2019).

Lebih lanjut ia menyampaikan, tindakan baby shaming tidak hanya berdampak kepada si bayi, tetapi juga ibu yang merasakan mom shaming. Perasaan seorang ibu bisa hancur ketika anaknya dihujani kata-kata negatif atau dicemooh karena perilaku dari si anak.

Mom shaming sering dilakukan dengan menyalahkan pola asuh ibu terhadap apa saja yang terjadi pada anak.

"Kalau anaknya dikatain negatif, fisiknya dibully, kan perasaan ibu yang hancur. Walau ketika di hadapan pelaku ibu ikut tertawa anaknya dikatain pesek, nanti kalau lagi sendiri di rumah kadang bergumam juga, 'iya ya anak gue kok pesek ya', nah efeknya itu yang merusak mental. Kemudian dibully juga soal pola asuh. 'Kok anaknya makannya instan, kok minum susu formula, kok cengeng anaknya'. Penyampaian-penyampaian seperti itu efeknya bisa merusak mental," lanjut Dessy lagi.

Ayah juga rentan mengalami dad shaming. (Shutterstock)
Ayah juga rentan mengalami dad shaming. (Shutterstock)

Dari dua bentuk shaming yang sudah disampaikan tadi, ada juga tindakan mempermalukan yang dilakukan tanpa sadar terhadap ayah, yang bernama dad shaming. Ya, ternyata bukan anak dan ibu saja yang mengalami.

Ayah bisa mengalami dad shaming, yang tentu saja juga akan berdampak pada kesehatan mentalnya.

"Hanya saja ayah, tipe yang lebih cuek dan santai, tak ambil pusing apa kata orang. Contohnya, anaknya yang dibully, tapi serangannya juga ke ayah. Kata-katanya seperti, 'aduh ini anak kayak bapaknya ya pecicilan', 'duh rambutnya botak kaya papanya', dan sebagainya. Ya walau ayah masih bisa mengatasi. Tapi itu semua termasuk bentuk shaming yang bisa merusak mental," tutup Dessy.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS