Bahaya Penyakit Tidak Menular Bikin Negara Semakin Rugi, Kok Bisa?

M. Reza Sulaiman, Risna Halidi

Minggu, 08 Desember 2019 | 21:21 WIB
Bahaya Penyakit Tidak Menular Bikin Negara Semakin Rugi, Kok Bisa?
Ilustrasi serangan jantung, salah satu penyakit tidak menular. (Shutterstock)

Suara.com - Bahaya Penyakit Tidak Menular Bikin Negara Semakin Rugi, Kok Bisa?

Penyakit tidak menular merupakan tantangan yang semakin mengkhawatirkan yang dihadapi berbagai negara di dunia.

Menurut data WHO, sebanyak 75 persen beban kematian karena penyakit tidak menular terjadi di negara berkembang. Itu terjadi karena kasus penyakit tidak menular meningkat lebih cepat pada kelompok usia yang semakin muda.

Sekitar 80 persen faktor risiko penyakit tidak menular sendiri disebabkan oleh gaya hidup seperti kurang aktifitas fisik, kurang konsumsi sayur dan buah, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol.

"Hampir dua pertiga dari total kematian akibat penyakit tidak menular terkait dengan konsumsi rokok, konsumsi alkohol yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, aktivitas fisik yang kurang, dan polusi udara," ungkap Dr Farrukh Qureshi dari WHO Indonesia dalam International Symposium on Health Research di Prime Plaza Sanur, Bali, pada akhir November 2019 lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Representatif Aliansi Penyakit Tidak Menular Indonesia, Ibnu Haykal, mengungkapkan penyakit tidak menular telah menghambat pertumbuhan ekonomi di tingkat global dan nasional dengan memengaruhi produktivitas pekerja secara negatif dan mengalihkan sumber daya dari tujuan produktif ke pengobatan penyakit.

Bahkan penyakit tidak menular diperkirakan telah menyebabkan kerugian ekonomi global kumulatif $ 47 triliun USD pada tahun 2030, atau sekitar 75 persen dari PDB global 2010.

Penelitian yang dilakukan World Obesity Federation memprediksi pada tahun 2025 sepertiga populasi dunia akan hidup dengan obesitas.

Pada tahun yang sama, WHO memprediksi akan ada lebih banyak anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas daripada berat badan kurang. Sementara jumlah total orang yang menderita diabetes akan mendekati 500 juta. Pada tahun 2025 lebih dari 320 juta orang akan meninggal karena penyakit tidak menular.

Kasus penyakit tidak menular di Indonesia

baca juga

Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi Penyakit Tidak Menular di Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan dengan data Riskesdas 2013.

ilustrasi penyakit tidak menular diabetes. (Shutterstock)
ilustrasi penyakit tidak menular diabetes. (Shutterstock)

Prevalensi kanker naik dari 1,4 persen pada Riskesdas 2013 menjadi 1,8 persen pada 2018. Prevalensi stroke juga naik dari 7 persen pada 2013 menjadi 10,9 persen pada 2018.

"Berdasarkan data yang tercatat pada Sistem Registrasi Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, angka kematian karena penyakit tidak menular pada 1990 adalah 37 persen. Satu dekade kemudian, angka ini meningkat menjadi 49 persen. Kemudian, meningkat lagi menjadi 58 persen pada 2010. Lalu naik menjadi 71 persen pada 2014. Penyakit kardiovaskular dan diabetes menempati urutan teratas pada beban penyakit tidak menular secara nasional," papar dr. Asmoko Resta Permana, Sp.JP dari Yayasan Jantung Indonesia.

Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular juga terlihat pada kasus dimensia.

Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia (ALZI), Patricia Tumbelaka mengungkapkan jumlah orang dengan demensia (ODD) telah mencapai 1,2 juta orang pada 2019. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga 4 juta orang di tahun 2050 dan akan memberi beban ekonomi senilai lebih dari USD2,2 miliar.

Dampak Sosial-Ekonomi

WHO menyatakan penyakit tidak menular mengancam kemajuan menuju Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang mencakup target untuk mengurangi kematian dini akibat penyakit tidak menular sebesar sepertiga pada tahun 2030.

Ilustrasi kanker paru, salah satu penyakit tidak menular. (Shutterstock)
Ilustrasi kanker paru, salah satu penyakit tidak menular. (Shutterstock)

Dikatakan, orang yang rentan dan kurang beruntung secara sosial menjadi lebih sakit dan akan mati lebih cepat daripada orang-orang dari posisi sosial yang lebih tinggi, terutama karena mereka berisiko lebih besar terpapar produk berbahaya seperti tembakau, atau praktik diet yang tidak sehat, dan memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan.

Dalam pengaturan sumber daya yang rendah, biaya perawatan kesehatan untuk penyakit tidak menular dengan cepat menghabiskan sumber daya rumah tangga. Biaya penyakit tidak menular yang selangit, termasuk perawatan yang seringkali panjang dan mahal serta hilangnya pencari nafkah, memaksa jutaan orang jatuh miskin setiap tahun dan menghambat pembangunan.

Untuk itu, dibutuhkan komitmen global demi memerangi penyakit tidak menular. Beberapa waktu lalu, PBB melakukan pertemuan tingkat tinggi tentang Penyakit Tidak Menular pada 2018 yang diselenggarakan pada 23 September 2019 untuk membahas cakupan kesehatan universal (UHC) di tingkat politik tertinggi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Zodiak Kesehatan 8 Desember 2019: Taurus Jaga Paru, Leo Makan Salad Hijau

Zodiak Kesehatan 8 Desember 2019: Taurus Jaga Paru, Leo Makan Salad Hijau

Health | Minggu, 08 Desember 2019 | 08:06 WIB

Kartu Sehat Andalan Pemkot Bekasi Bakal Diberhentikan Awal 2020?

Kartu Sehat Andalan Pemkot Bekasi Bakal Diberhentikan Awal 2020?

News | Sabtu, 07 Desember 2019 | 14:25 WIB

3 Top Kesehatan: Tips Daniel Mananta Sehat Hingga Fakta Sulit Tidur

3 Top Kesehatan: Tips Daniel Mananta Sehat Hingga Fakta Sulit Tidur

Health | Sabtu, 07 Desember 2019 | 13:37 WIB

Terkini

Bukan Fraksi, PDIP Usul Syarat Capres Didukung Minimal 2 Parpol dan Maksimal 4 Partai

Bukan Fraksi, PDIP Usul Syarat Capres Didukung Minimal 2 Parpol dan Maksimal 4 Partai

News | Senin, 21 September 2026 | 16:18 WIB

Telur Ayam Cuma Rp15 Ribuan di Indomaret, Bayarnya Pakai Promo BRImo

Telur Ayam Cuma Rp15 Ribuan di Indomaret, Bayarnya Pakai Promo BRImo

Bri | Senin, 21 September 2026 | 16:17 WIB

Teaser Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Dirilis, Kisah Ale Ingin Akhiri Hidup

Teaser Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Dirilis, Kisah Ale Ingin Akhiri Hidup

Your Say | Senin, 21 September 2026 | 16:15 WIB

Rupiah Paling Anjlok se-Asia Hari Ini, Ditutup di Level Rp17.847

Rupiah Paling Anjlok se-Asia Hari Ini, Ditutup di Level Rp17.847

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 16:13 WIB

Cara Menurunkan Desil Online Pakai HP, Begini Langkah Mudahnya!

Cara Menurunkan Desil Online Pakai HP, Begini Langkah Mudahnya!

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 16:11 WIB

PDIP Soal Syarat Capres: Setuju Minimal 2 Parpol, tapi Harus Ada Batas Maksimal

PDIP Soal Syarat Capres: Setuju Minimal 2 Parpol, tapi Harus Ada Batas Maksimal

News | Senin, 21 September 2026 | 16:11 WIB

Nonton Ulang Your Name: Saat Gen Z Terhubung dengan Banyak Orang, tapi Merasa Kesepian

Nonton Ulang Your Name: Saat Gen Z Terhubung dengan Banyak Orang, tapi Merasa Kesepian

Your Say | Senin, 21 September 2026 | 16:08 WIB

12 Cara Cepat Mendinginkan HP Panas Agar Tak Sampai Meledak

12 Cara Cepat Mendinginkan HP Panas Agar Tak Sampai Meledak

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 16:05 WIB

7 Makanan-Minuman yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Tidur, Bisa Bikin Susah Terlelap

7 Makanan-Minuman yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Tidur, Bisa Bikin Susah Terlelap

Sumut | Senin, 21 September 2026 | 16:05 WIB

Sinyal Peluncuran Yamaha NMAX Turbo Facelift Menguat untuk Model 2027

Sinyal Peluncuran Yamaha NMAX Turbo Facelift Menguat untuk Model 2027

Otomotif | Senin, 21 September 2026 | 16:05 WIB

×