Diduga Alami Gejala Virus Corona, Keluarga ini Tolak Anaknya Dikarantina!

Dany Garjito | Shevinna Putti Anggraeni
Diduga Alami Gejala Virus Corona, Keluarga ini Tolak Anaknya Dikarantina!
Seorang petugas medis di Zhongnan Hospital of Wuhan University, Wuhan, China, Jumat (24/1), menangani pasien yang terduga terkena virus corona. (ANTARA/HO-Xinhua/Xiongqi/mii)

Satu keluarga menolak anaknya yang masih balita 2 tahun dikarantina karena mengalami gejala virus corona.

Suara.com - Wabah virus corona semakin meluas. Terhitung sudah ada 1600 orang yang terinfeksi dan 54 orang meninggal dunia akibat virus corona Wuhan, China.

Tetapi, satu keluarga di Tiongkok justru menolak salah satu anggota keluarganya harus dikarantina di Malaysia karena diduga mengalami gejala terinfeksi virus corona.

Salah satu anggota keluarganya itu merupakan anak balita usia 2 tahun. Keluarga menolak balita 2 tahun itu dikarantina karena mereka harus mengejar penerbangan ke China.

Dalam sebuah laporan polisi, tertulis dokter yang bertanggung jawab atas pasien tersebut meminta izin keluarga untuk merujuknya ke Rumah Sakit Sultanah Aminah. Karena balita 2 tahun itu menunjukkan gejala seperti influenza yang diduga ada keterkaitan dengan virus corona.

Setelah dokter menyampaikan hal tersebut, orangtua balita tersebut bersikeras bahwa anaknya hanya perlu obat flu lalu mereka melarikan diri dari rumah sakit. Padahal dokter sudah memeriksa gejalanya melalui alat vital dan semacamnya.

Orang asal China yang mengalami gejala virus corona melarikan diri (Facebook/Asam)
Orang asal China yang mengalami gejala virus corona melarikan diri (Facebook/Asam)

"Dalam pemeriksaan saya, anak itu mengalami gejala demam, flu dan batuk. Tetapi, kedua orangtuanya berusaha menyembunyikannya," ujar seorang dokter yang menangani pasien dikutip dari worldofbuzz.com.

"Saya memberi tahu mereka bahwa anaknya perlu dikarantina. Jika mereka menolak karantina, maka keadaannya akan lebih buruk di bandara dan mereka tidak akan bisa terbang," jelasnya.

Dalam laporan polisi menyatakan bahwa insiden itu terjadi pada 24 Januari 2020 pukul 22:00 waktu setempat.

Setelah dokter mengidentifikasi bahwa anak tersebut memiliki gejala virus corona Wuhan, kedua orangtuanya mengabaikannya karena mereka harus terbang ke China esok harinya.

Sehingga mereka pun bersikeras menyembunyikan gejala anaknya dan menolak perintah dokter untuk karantina.

Menurut Wakil OCPD Johor Bharu Selatan, Supt Mohd Afzanizam Yahaya, laporan yang dibuat oleh dokter dari Departemen Kecelakaan dan Darurat (A&E) Rumah Sakit Sultanah Aminah telah diterima oleh departemennya. Lalu Departemen Kesehatan Johor akan mengirimkan laporan ini kepada Kementerian Kesehatan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS