Bikin Cepat Pikun, Awas 6 Faktor Ini Menyebabkan Otak Mengecil Lebih Cepat!

Ririn Indriani

Selasa, 10 Maret 2020 | 15:27 WIB
Bikin Cepat Pikun, Awas 6 Faktor Ini Menyebabkan Otak Mengecil Lebih Cepat!
Ilustrasi hati-hati kepikunan juga bisa dialami kaum muda, karena gaya hidup yang tidak sehat. (Shutterstock)

Suara.com - Pikun yang dulunya banyak dialami lanjut usia (lansia), ternyata bisa juga dialami kaum muda alias usia produktif.

Kondisi tersebut terjadi selain karena faktor genetik, gaya hidup tidak sehat juga bisa menjadi pemicunya. 

Apalagi kehidupan modern yang serba cepat dan instan menyebabkan gaya hidup sebagian besar masyarakat cenderung tak sehat, termasuk pola makan tidak sehat, kebiasaan buruk seperti merokok, stres, kurang tidur karena lembur atau alasan lainnya, minim aktivitas fisik, dan masih banyak lagi.

Padahal gaya hidup yang tak sehat itu, kata Dr. dr. Yuda Turana Sp.S, penulis buku “Stop Pikun di Usia Muda” bisa memicu masalah kesehatan seperti hipertensi dan diabetes.

Ilustrasi penyakit demensia (foto: Shutterstock)
Ilustrasi penyakit demensia (kepikunan). (foto: Shutterstock)

Berbagai fakta penelitian bahkan menunjukkan hipertensi, diabetes, merokok, kurang tidur, stres, dan kesendirian (kesepian, sambung dia, bisa menyebabkan otak mengecil lebih cepat.

Lantas, apa dampaknya bila otak mengecil? "Tentu saja bisa mengakibatkan gangguan memori yang berujung kepikunan (demensia)," ujar Yuda yang juga pakar neurologi dari Universitas Atmajaya ini.

Umumnya demensia, lanjut dia, lumrah ditemui pada orang lanjut usia. Ini dikarenakan, kata Yuda, seiring bertambahnya usia, volume otak akan mengecil disebabkan sebagian sel mulai mengalami kerusakan.

Namun, gaya hidup tak sehat atau kebiasaan buruk di usia muda juga bisa menyebabkan proses penyusutan otak terjadi lebih cepat.

Oleh karena itu ia mengimbau generasi muda (usia produktif) untuk menerapkan gaya hidup sehat dan menjauhi kebiasaan buruk agar terhindar dari risiko kepikunan di usia muda.

baca juga

"Olahraga, nutrisi, kebiasaan hidup sehat, istirahat cukup dan berkualitas, serta mampu mengelola stres dapat mencegah kepikunan di usia muda,” jelas dia.

Nah, bila Anda penasaran mengapa hipertensi, diabetes, merokok, kurang tidur, stres dan kesepian bisa menyebabkan otak mengecil sehingga berisiko mengalami kepikunan (demensia), simak ulasan lengkapnya di halaman selanjutnya.

1. Hipertensi
Sebuah penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Neurology berhasil mengungkap bahwa peningkatan tekanan darah (hipertensi) ketika memasuki usia 30-40 tahun diikuti oleh penurunan kesehatan otak.

Para ilmuwan menemukan fakta hipertensi yang terjadi di usia 30-40 tahun dapat menyebabkan rusaknya pembuluh darah di otak ketika menginjak usia 70 tahun nanti sehingga dapat memperkecil volume otak.

Ilustrasi hipertensi (Shutterstock)
Ilustrasi hipertensi (Shutterstock)

"Penelitian ini memungkinkan kami untuk mengungkap hubungan antara tekanan darah dan kesehatan otak. Dalam penelitian ini kami menemukan fakta bahwa hipertensi dapat memiliki efek pada kesehatan otak untuk empat dekade mendatang," terang Profesor Jonathan Schott dari University Collage London, seperti yang dikutip dari The Independent.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh ahli fisiologi dari Universitas Nasional Irlandia, Dr Karen Doyle.

Menurutnya, meningkatnya tekanan darah penderita hipertensi di usia paruh baya berpotensi menyebabkan lesi otak dan mengecilnya volume otak di kemudian hari.

Meski ilmuwan tidak menemukan hubungan antara hipertensi dengan penyakit Alzheimer, namun meminimalisir penyebab hipertensi terdengar masuk akal untuk melindungi fungsi otak di kemudian hari.

2. Diabetes
Pengidap diabetes atau disebut pula diabetesi biasanya akan mengkhawatirkan komplikasi, seperti luka yang tak kunjung sembuh karena bisa menyebabkan infeksi atau bahkan amputasi.

Padahal, ada banyak sekali komplikasi lain dari penyakit yang memang sangat sulit untuk disembuhkan. Salah satunya yang banyak orang belum tahu adalah bisa menyebabkan ukuran otak mengecil. Kok bisa?

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Daily Mail, diabetes bisa membuat ukuran otak penderitanya yang berada di usia pertengahan mengecil dengan signifikan.

Ilustrasi diabetes. (Shutterstock)
Ilustrasi diabetes. (Shutterstock)

Kondisi tersebut pada gilirannya berdampak pada penurunan kondisi kesehatan mental diabetesi saat lanjut usia.

Menurut para peneliti, diabetesi tipe dua bahkan bisa mengalami penurunan kemampuan memori dan lisan hanya dalam waktu 5 tahun.

Dalam penelitian ini, para peserta dengan usia rata-rata 68 tahun yang menderita diabetes tidak mengalami kerusakan otak di awal penelitian, namun setelah beberapa tahun, ukuran otak mereka mengecil dan akhirnya mulai mengalami berbagai masalah kesehatan, termasuk kecerdasan dan gangguan mental.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Tasmania dan dipublikasikan dalam jurnal berjudul Diabetologia ini, disebutkan bahwa diabetes ternyata berpengaruh besar pada risiko demensia.

Para peneliti juga menyebutkan bahwa penyebab utama dari kondisi ini terkait dengan obesitas, gaya hidup, dan pola makan atau diet.

3. Merokok
Penelitian yang dilakukan peneliti di Montreal Neurological Institute di McGill University dan University of Edinburgh mengungkap bahwa rokok tak hanya menghambat pertumbuhan fisik, melainkan juga otak.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa merokok alam jangka waktu lama bisa membuat bagian penting pada otak mengecil.

Bagian tersebut adalah lapisan cortex pada otak. Lapisan cortex merupakan bagian paling luar dari otak yang berkaitan dengan fungsi kognitif penting seperti penyimpanan ingatan, kemampuan berbahasa, dan persepsi.

Cold turkey bukan metode terbaik berhenti merokok. (Shutterstock)
Ilustrasi berhenti merokok. (Shutterstock)

Tak hanya itu, dikutip Science Daily, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa berhenti merokok bisa membantu mengembalikan keadaan lapisan cortex menjadi lebih baik meski tidak persis sama dengan semula, seperti dilansir oleh

Kesimpulan ini didapat setelah peneliti mengamati 244 lelaki dan 260 perempuan yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok perokok, mantan perokok, dan orang yang tidak merokok.

Usia rata-rata partisipan adalah 73 tahun. Semua partisipan diperiksa pada mas kanak-kanak, yaitu di tahun 1947. Selanjutnya peneliti menggunakan data tersebut untuk dibandingkan dengan scan MRI saat partisipan dewasa.

"Kami menemukan bahwa lapisan cortex mantan perokok dan perokok, pada usia 73 tahun, lebih tipis dibandingkan dengan orang yang tak pernah merokok. Meski begitu, mantan perokok memiliki cortex yang lebih baik dibandingkan yang masih merokok," terang ketua peneliti Dr Sherif Karama dari McGill University.

Meski begitu, lanjut dia, tak semua mantan perokok memiliki lapisan cortex yang sehat dan kembali pulih seperti semula.

Orang yang merokok lebih dari 25 tahun masih memiliki lapisan cortex yang tipis dan lebih rapuh.

Lapisan cortex memang bisa menipis secara alami karena proses penuaan, namun pada perokok lapisan cortex menipis lebih cepat.

"Para perokok harus mengetahui bahwa kebiasaan merokok akan membuat lapisancortex pada otak mereka semakin menipis dan bisa memicu penurunan kemampuan kognitif saat mereka menua," jelas Dr Karama

4. Kurang istirahat atau tidur
Sebaiknya seseorang tidur selama 7-8 jam. Saat tidur, tak hanya tubuh yang istirahat, tetapi juga otak. Oleh karena itu tidur atau istirahat cukup dan berkualitas sangat berpengaruh pada kesehatan otak.

Kurang tidur bisa membuat sel-sel otak lebih cepat mengalami kerusakan, termasuk volume otak yang mengecil lebih cepat.

Ilustrasi susah tidur, insomnia. (Shutterstock)
Ilustrasi kurang tidur. (Shutterstock)

5. Stres
Banyak penelitian menunjukkan stres buruk bagi kesehatan, tapi tahukah Anda bahwa faktanya stres ternyata juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan otak.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology menyebutkan bahwa orang dewasa paruh baya dengan tingkat kortisol atau hormon stres tertinggi memiliki volume otak dan fungsi kognitif yang lebih rendah daripada orang yang tingkat stresnya lebih rendah.

Hormon kortisol sendiri dibutuhkan dalam berbagai proses tubuh termasuk metabolisme, pembentukan kekebalan, hingga pembentukan ingatan. Namun pada orang yang tingkat stresnya tinggi, hormon kortisol dapat memberi efek buruk bagi kesehatan.

Penulis studi Dr. Sudha Seshadri, seorang profesor neurologi di UT Health San Antonio, mengatakan bahwa temuan ini melibatkan lebih dari 2.200 orang dewasa yang berpartisipasi dalam Studi Jantung Framingham, dengan usia rata-rata 48 tahun.

Ilustrasi stres kerjaan. (Shutterstock)
Ilustrasi stres kerjaan. (Shutterstock)

Setiap orang menjalani pemeriksaan psikologis, yang menguji memori dan kemampuan berpikir selama 8 tahun.

Responden juga diminta untuk memberikan sampel darah, yang digunakan para peneliti untuk mengukur kadar kortisol, dan melakukan scan MRI untuk mengukur volume otak.

Setelah menganalisis hasil penilaian tersebut, peneliti menemukan hubungan antara peningkatan kadar kortisol dan volume total otak yang lebih rendah, serta skor yang lebih rendah pada tes memori dan kecerdasan pada responden.

Seshadri pun merekomendasikan masyarakat untuk melakukan relaksasi di sela-sela kesibukannya.

Tak hanya bermanfaat untuk meredakan stres, tetapi juga sekaligus dapat menurunkan kadar kortisol.

Kegiatan yang telah terbukti dapat mengurangi stres antara lain meditasi, olahraga, yoga, tidur yang cukup, dan berosialisasi.

"Ini adalah beberapa upaya yang dapat menurunkan kortisol. Selain membuat Anda tidak stres, kegiatan ini juga dapat membawa keuntungan bagi fungsi kognitif Anda," tandas dia.

6. Kesepian
Tinggal seorang diri di tempat yang terisolasi dan menyebabkan rasa kesepian dapat menyebabkan otak mengecil.

Dikutip dari Live Science, studi terbaru yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine menemukan bahwa orang yang menghabiskan waktu menyendiri ternyata punya ukuran otak yang akan mengecil seiring waktu.

Penelitian ini dilakukan pada orang yang melakukan ekspedisi di Antartika selama 14 bulan. Peneliti memindai otak para ekspedisi sebelum dan sesudah perjalanan.

Hasilnya, peneliti menemukan adanya beberapa bagian otak yang mengalami penyusutan sehingga membuat otak mengecil.

Bagian yang menyusut paling signifikan adalah hippocampus, bagian penting untuk pembelajaran dan memori yaitu hippocampus. Rata-rata bagian otak itu menyusut 4-10 persen dalam 14 bulan.

Ilustrasi lelaki sedang menyendiri. (sumber: Visualphotos)
Ilustrasi lelaki sedang menyendiri (kesepian). (sumber: Visualphotos)

Penyusutan pada bagian itu dapat membuat stimulasi otak berkurang.

Peneliti dari University of Pennsylvania, Alexander Stahn menjelaskan penyusutan otak akan merusak kemampuan proses emosi dan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini terjadi karena hippocampus merupakan bagian penting untuk fungsi kognitif.

Para ekspeditor yang kehilangan volume otak juga terbukti memiliki kinerja yang lebih buruk pada tes spasial dan perhatian, dibandingkan dengan skor sebelum melakukan ekspedisi.

Area lain dari otak yang juga menyusut di antaranya adalah korteks serebral atau lapisan luar otak yang keribur, parahippocampal kiri, korteks prefrontal dorsolateral, dan korteks orbitofrontal kiri.

Hasil ini serupa dengan pengamatan yang sebelumnya dilakukan pada tikus. Studi itu menemukan isolasi dan rasa kesepian yang lama membuat otak menyusut. Hidup di lingkungan yang monoton membuat otak bagian hippocampus mengecil.

Peneliti lalu menyimpulkan bahwa rasa kesepian atau isolasi yang berkepanjangan membuat otak mengecil dan merusak fungsi kognitif seperti memori.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

10 Gejala Pikun di Usia Muda, Corona Covid-19 Bisa Menular Lewat Seks?

10 Gejala Pikun di Usia Muda, Corona Covid-19 Bisa Menular Lewat Seks?

Health | Jum'at, 06 Maret 2020 | 22:05 WIB

Waspada, Ini 10 Gejala Pikun di Usia Muda yang Bisa Menyerang Anda

Waspada, Ini 10 Gejala Pikun di Usia Muda yang Bisa Menyerang Anda

Health | Jum'at, 06 Maret 2020 | 20:10 WIB

Penelitian: Risiko Demensia atau Pikun Lebih Rendah pada Laki-Laki Tinggi

Penelitian: Risiko Demensia atau Pikun Lebih Rendah pada Laki-Laki Tinggi

Health | Kamis, 13 Februari 2020 | 12:17 WIB

Terkini

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

News | Selasa, 15 September 2026 | 00:17 WIB

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 00:04 WIB

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

News | Senin, 14 September 2026 | 23:56 WIB

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 23:54 WIB

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 23:42 WIB

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

×