Array

Ketahui Gejala, Obat dan Harapan Hidup Anak Terinfeksi HIV

Selasa, 16 Juni 2020 | 14:37 WIB
Ketahui Gejala, Obat dan Harapan Hidup Anak Terinfeksi HIV
Ilustrasi bayi sakit (Pexels)

Suara.com - Sains membuktikan bahwa tidak semua orangtua yang positif HIV akan menularkan virus yang sama pada buah hatinya.

Terlebih bagi orangtua yang rutin mengonsumsi antiretroviral (ART) saat hamil, melahirkan dan menyusui setiap hari.

Lalu bagaimana gejala saat anak terinfeksi virus HIV yang dapat menyebabkan penyakit AIDS? 

Dokter Spesialis Anak sekaligus Sekretaris Satgas HIV Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Endah Citraresmi, Sp. A(K) mengatakan karena HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, maka gejala anak yang terinfeksi HIV adalah anak mudah sakit dan berulang.

"Anak yang terinfeksi HIV berat badannya sulit naik, gizi buruk, biasanya alami infeksi berulang dan lama, pneumoni radang paru berulang, sering kena TBC, anak yang sakit gizi cenderung turun, maka HIV salah satu diagnosis yang harus diperiksa semua dokter," ungkap dr. Endah dalam diskusi di IDAI IG Live, Selasa (16/6/2020).

Sementara terinfeksi HIV AIDS kini tidak sama seperti dulu yang dianggap sebagai penyakit mematikan dengan harapan hidup kecil.

HIV telah masuk kategori penyakit kronis, di mana pasien harus mendapat obat ART untuk menekan jumlah patologi virus sehingga tidak bisa menyebar lebih jauh.

"Saat ini jadi penyakit kronis, kita bisa tekan kadar virus sehingga tidak ada lagi infeksi berat pada anak, kita punya anak tumbuh sehat seperti anak-anak lain, dengan syarat pengobatan diberikan terus menerus tidak terputus," paparnya.

Dr. Endah bercerita ia kerap memberikan pemahaman kepada para pasiennya untuk tidak takut minum obat seumur hidup, karena seperti penyakit kronis lainnya banyak anak yang sedari kecil harus meminum obat setiap hari.

Baca Juga: Pasien Suspect Corona yang Berpenyakit HIV AIDS Pernah Berobat di Singapura

Jadi, tidak perlu sungkan begitu juga dengan HIV, yang penyintasnya disebut ODHA.

"Seperti anak lain, dengan catatan pengobatan berjalan baik, anak kondisi stabil tidak ada lagi infeksi asal pengobatan yang baik. Biasanya beberapa bulan setelah pengobatan anaknya udah nggak sakit-sakitan, jadi kulitas hidupnya sangat baik," paparnya.

"Nah, yang PR minum obat setiap hari. Kita bisa bandingin dengan anak penyakit lain, karena anak lain yang butuh obat terus menerus bukan hanya HIV banyak sekali anak-anak penyakit kronos lainnya yang harus minum obat setiap hari," lanjutnya.

Sementara itu obat yang diberikan pada anak pada dasarnya sama seperti ODHA dewasa, memang ada beberapa kententuan umur, dan kondisi si anak. Misalnya beberapa obat yang baru bisa diberikan setelah anak berusia 3 tahun.

"Atau sediaan obat pada dewasa itu kan tablet, kalau di anak itu ada sirup atau bubuk. Jadi intinya obatnya sama cuma penyajiannya mungkin yang berbeda," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI