Para Pakar Sebut Pandemi Berasal dari Kerusakan Lingkungan, Ulah Manusia!

Angga Roni Priambodo | Fita Nofiana | Suara.com

Rabu, 17 Juni 2020 | 20:29 WIB
Para Pakar Sebut Pandemi Berasal dari Kerusakan Lingkungan, Ulah Manusia!
Ilustrasi Lingkungan Hidup. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah pandemi seperti virus corona adalah hasil dari kerusakan alam yang dilakukan manusia. Hal tersebut dinyatakan oleh para pemimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta WWF Internasional yang merupakan lembaga nirlaba berfokus pada konservasi terbesar di dunia.

Dilansir dari The Guardian, perdagangan satwa liar yang ilegal dan tidak berkelanjutan serta kehancuran hutan dan tempat-tempat liar lainnya masih menjadi kekuatan pendorong di belakang meningkatnya jumlah penyakit yang melompat dari satwa liar ke manusia.

Mereka menyerukan pemulihan hijau dan sehat dari pandemi Covid-19, khususnya dengan mereformasi pertanian yang merusak dan diet yang tidak berkelanjutan.

"Risiko penyakit (margasatwa-ke-manusia) baru yang muncul di masa depan lebih tinggi dari sebelumnya, dengan potensi untuk mendatangkan malapetaka pada kesehatan, ekonomi, dan keamanan global," menurut sebuah laporan WWF yang ditebitkan pada Rabu (17/6/2020).

Para pakar keanekaragaman hayati terkemuka dunia mengatakan wabah penyakit yang bahkan lebih mematikan kemungkinan terjadi di masa depan kecuali jika kehancuran yang merajalela dari alam dengan cepat dihentikan.

Sebelumnya pada bulan Juni, kepala lingkungan PBB dan seorang ekonom terkemuka mengatakan Covid-19 adalah sinyal SOS untuk manusia.

“Kami telah melihat banyak penyakit muncul selama bertahun-tahun, seperti Zika, Aids, Sars, dan Ebola dan semuanya berasal dari populasi hewan dalam kondisi tekanan lingkungan yang parah,” kata Elizabeth Maruma Mrema, kepala konvensi PBB tentang keanekaragaman hayati dan Maria Neira, direktur WHO untuk lingkungan dan kesehatan, serta Marco Lambertini, kepala WWF Internasional dalam artikel Guardian.

“Dengan virus corona, wabah ini adalah manifestasi dari hubungan kita yang sangat tidak seimbang dengan alam”, kata mereka.

Mereka semua mengilustrasikan bahwa perilaku destruktif manusia terhadap alam membahayakan kesehatan manusia itu sendiri.

Laporan WWF menyimpulkan bahwa pendorong utama penyakit yang berpindah dari hewan liar ke manusia adalah kerusakan alam, intensifikasi pertanian dan produksi ternak, serta perdagangan dan konsumsi satwa liar yang berisiko tinggi.

Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]
Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Laporan tersebut mendesak semua pemerintah untuk memperkenalkan dan menegakkan hukum untuk menghilangkan perusakan alam dari rantai pasokan barang.

Daging sapi, minyak sawit, dan kedelai adalah beberapa komoditas yang sering dikaitkan dengan deforestasi dan para ilmuwan mengatakan menghindari daging dan produk susu adalah cara tunggal terbesar bagi manusia untuk mengurangi dampak lingkungan di Bumi.

Kita tidak boleh terlibat dalam meningkatkan risiko pandemi berikutnya. Kita membutuhkan undang-undang dan kesepakatan dagang yang kuat untuk menghentikan mengimpor makanan hasil dari deforestasi," kata Tanya Steele, Kepala WWF Inggris.

Laporan WWF mengatakan 60-70 persen penyakit baru yang muncul pada manusia sejak 1990 berasal dari satwa liar. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Melarikan Diri dari Wabah Corona, Wanita Ini Berjalan Ratusan Kilometer

Melarikan Diri dari Wabah Corona, Wanita Ini Berjalan Ratusan Kilometer

Health | Rabu, 17 Juni 2020 | 18:29 WIB

Tak Punya Penghasilan karena Pandemi Corona, Sopir Bajaj Bunuh Diri

Tak Punya Penghasilan karena Pandemi Corona, Sopir Bajaj Bunuh Diri

News | Rabu, 17 Juni 2020 | 18:21 WIB

Buntut Kasus Covid-19 Melonjak, Beijing Batalkan Sejumlah Penerbangan

Buntut Kasus Covid-19 Melonjak, Beijing Batalkan Sejumlah Penerbangan

News | Rabu, 17 Juni 2020 | 18:20 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB