Risiko Serangan Jantung Meningkat di Musim Dingin, Ini Temuan Peneliti!

Silfa Humairah Utami | Shevinna Putti Anggraeni
Risiko Serangan Jantung Meningkat di Musim Dingin, Ini Temuan Peneliti!
Ilustrasi dada berdebar, serangan jantung. (Shutterstock)

Peneliti menemukan bahwa risiko serangan jantung cenderung meningkat di musim dingin dibandingkan musim panas.

Suara.com - Serangan jantung terjadi ketika arteri yang memasok darah dan oksigen ke jantung tersumbat. Gejalanya bisa berupa nyeri dada yang menyakitkan dan menyebar ke lengan, rahang, leher dan perut. Menurut sebuah studi yang dipresentasikan di Kongres Masyarakat Kardiologi Asia Pasifik (APSC), Anda juga perlu ekstra waspada terhadap tanda-tanda peringatan serangan jantung di musim dingin.

Studi itu menemukan bahwa serangan jantung cenderung menyerang ketika suhu rendah. Para peneliti pun menilai hubungan antara iklum dan kejadian serangan jantung.

Penelitian ini menggunakan 3 basis data yang mencakup periode 2008 hingga 2011, yang merupakan pertama kalinya ketiga basis data ini digabungkan untuk menyelidiki dampak dan interaksi cuaca terhadap kejadian serangan jantung.

Penelitian ini melibatkan 40.524 pasien serangan jantung dari Database Riset Asuransi Kesehatan Nasional Taiwan (NHIRD) dan 919.203 orang dewasa tanpa riwayat serangan jantung dan Database Asuransi Kesehatan Longitudinal.

Perempuan terkena serangan jantung. (Shutterstock)
Perempuan terkena serangan jantung. (Shutterstock)

Data iklim regional diperoleh dari Biro Cuaca Pusat Taiwan. Para peneliti pun melihat pasien lebih mungkin mengalami faktor iklim tertentu sebelum serangan jantung.

Para peneliti menemukan bahwa suhu yang lebih rendah, fluktuasi suhu dan angin yang lebih kuat secara terpisah meningkatkan risiko serangan jantung.

Ketika suhu terendah hari itu 15 dan 20 derajat celcius, risiko infark miokard akut meningkat sebesar 0,45 persen dengan masing-masing penurunan suhu satu derajat.

Saat suhu terendah hari itu di bawah 15 derajat celcius, penurunan suhu satu derajat berkaitkan dengan peningkatan 1,6 persen risiko serangan jantung.

"Kami menemukan bahwa jumlah serangan jantung berfluktuasi dengan musim, data menunjukkan lebih banyak kasus serangan jantung di musim dingin bila dibandingkan di musim panas. Kasus serangan jantung ini meningkat secara dramatis ketika suhu turun di bawah 15 derajat celcius," kata Dr Po-Jui Wu, penulis studi dan ahli jantung di Rumah Sakit Memorial Chang Chang dikutip dari Express.

Ketika suhu turun, orang-orang yang berisiko tinggi terkena serangan jantung harus waspada terhadap gejala-gejala seperti nyeri dada dan sesak napas.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS