Pandemi Covid-19, Tindakan Medis Pada Pasien Anak Rawan Tertunda

Risna Halidi

Senin, 31 Agustus 2020 | 11:43 WIB
Pandemi Covid-19, Tindakan Medis Pada Pasien Anak Rawan Tertunda
Ilustrasi pasien anak dirawat di rumah sakit. (Shutterstock)

Suara.com - Penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia masih tinggi. Masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan akan sangat rentan tertular Covid-19, termasuk anak-anak.

Dijelaskan Dr. Murti Andriastuti SpA(K) dari Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSCM dalam seri webinar Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) beberapa waktu lalu, sejak aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSSB dilonggarkan, angka kejadian Covid-19 pada anak terus meningkat.

"Meskipun angka kasus pada anak tidak terlalu tinggi (1-7 persen) tetapi case fatality rate anak cukup tinggi. Dan biasanya pada anak tidak menunjukkan gejala," jelas dokter yang biasa disapa dokter Andri tersebut melalui siaran pers yang diterima Suara.com. Senin (31/8/2020)

Diketahui sekitar 44 persen kasus Covid-19 pada anak memiliki kontak erat dengan orang dewasa yang positif. Oleh karena itu, orang dewasa diminta berhati-hati dan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah Covid-19 dan menggunakan masker saat ke luar rumah agar tidak menularkan anak-anak.

Dampak Covid-19 pada Pasien Kanker Anak

Di sisi lain, penderita kanker anak menjadi kelompok yang sangat rentan tertular Covid-19. Padahal, mereka harus rutin ke rumah sakit untuk menjalani tindakan maupun pengobatan.

Meski belum ada penelitian terkait Covid-19 dan pasien kanker anak di Indonesia, namun data dari Amerika Serikat, tepatnya dari Regsitri St Jude Hospital yang melibatkan 793 anak dengan kanker menunjukkan pandemi Covid-19 membuat tertundanya konsultasi dan tindakan medis untuk anak-anak dengan penyakit kanker.

Beberapa jenis tindakan yang tertunda, misalnya operasi kanker, radioterapi, tranplatasii sel punca dan lain-lain.

"Penyebabnya antara lain banyak rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 sehingga perawatan untuk pasien lain menjadi berkurang. Banyak dokter juga disibukkan dengan Covid. Bahkan dokter senior pun dilarang praktek karena termasuk kelompok yang rentan tertular," jelas dr. Andri.

baca juga

Dampak lainnya adalah ketersediaan obat kemoterapi yang berkurang, sehingga rejimen harus diubah. Semua ini berdampak pada pasien kanker anak.

Anak dengan kanker yang tertular Covid-19, lanjut dr. Andri, berisiko mengalami penyakit yang lebih berat apabila terinfeksi virus corona jenis baru tersebut. Hal ini karena anak dengan kanker memiliki daya tahan tubuh yang lemah atau disebut imunokompromais.

Dari data yang sama terlihat bahwa anak-anak berusia 5-9 tahun dalah yang paling berisiko tertular. Sebagian besar adalah penderita leukemia jenis ALL. "Anak yang terkena Covid-19 bisa saja memiliki gejala tidak khas, seperti batuk pilek biasa disertai nyeri tenggorokan. Karena gejalanya tidak khas sehingga tidak langsung terdiagnosis," ujar dr. Andri.

Namun, pada anak dengan kanker yang terpapar Covid-19, gejalanya berat dan kemungkinan mengalami kritis 8 persen lebih tinggi dibandingkan anak tanpa kanker. Dengan perawatan tepat, rata-rata mereka bisa pulang dari rumah sakit kurang dari 30 hari.

Pengobatan Kanker pada Anak selama Pandemi Covid-19

Dokter Andri menjelaskan, pasien kanker anak harus tetap berobat rutin sesuai jadwal. Ada cara yang bisa dilakukan jika pergi ke rumah sakit tidak memungkinkan. Salah satunya dengan menyesuaikan jadwal konsultasi dengan telemedicine.

"Secara umum, pengobatan tetap dilanjutkan. Jika memungkinkan minta dokter memperpanjang stok obat kanker yang jenis oral, sehingga bisa untuk digunakan beberapa bulan," kata dr. Andri.

Jika ada tanda kegawatan seperti demam tinggi, sesak napas, diare, mual dan muntah, kejang atau perdarahan, maka anak harus segera dibawa ke rumah sakit. Tanda darurat ini menunjukkan anak harus segera ditangani tenaga medis karena kemungkinan memerlukan tindakan seperti transfusi, infus atau pemberian antibiotik secepat mungkin.

"Tidak perlu takut untuk membawa pasien kanker anak ke rumah sakit karena rumah sakit memiliki protokol ketat mencegah penularan dengan skrining rutin bagi yang berisiko. Pelayanan juga dibedakan menjadi zona pasien Covid-19 dan non Covid-19," pungkas dr. Andri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Unik, Tempat Wisata Ini Hanya Terima Wisatawan yang Pernah Kena Covid-19

Unik, Tempat Wisata Ini Hanya Terima Wisatawan yang Pernah Kena Covid-19

Lifestyle | Senin, 31 Agustus 2020 | 11:35 WIB

Ahli: Risiko Kecelakaan Lebih Tinggi daripada Covid-19 pada Anak, Benarkah?

Ahli: Risiko Kecelakaan Lebih Tinggi daripada Covid-19 pada Anak, Benarkah?

Health | Senin, 31 Agustus 2020 | 11:40 WIB

Atasi Gejala Covid-19 Jangka Panjang, Dokter Ini Melayani Terapi Jarak Jauh

Atasi Gejala Covid-19 Jangka Panjang, Dokter Ini Melayani Terapi Jarak Jauh

Health | Senin, 31 Agustus 2020 | 11:31 WIB

Terkini

Rakyat Akan Marah! 470 Kepala Daerah Tak Mampu Bayar PPPK Tapi Minta Naik Gaji

Rakyat Akan Marah! 470 Kepala Daerah Tak Mampu Bayar PPPK Tapi Minta Naik Gaji

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:31 WIB

Gunakan Uang Hasil Sikat Korupsi, Prabowo Janji Investasi Besar di Sektor Pendidikan dan Riset

Gunakan Uang Hasil Sikat Korupsi, Prabowo Janji Investasi Besar di Sektor Pendidikan dan Riset

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:24 WIB

John Herdman Blak-blakan Akui Timnas Indonesia Sedang Terluka Jelang Melawan Singapura

John Herdman Blak-blakan Akui Timnas Indonesia Sedang Terluka Jelang Melawan Singapura

Bola | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:15 WIB

Pemerintah Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Haji Arab Saudi

Pemerintah Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Haji Arab Saudi

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:12 WIB

Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG

Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:11 WIB

Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini

Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:09 WIB

Calon Hakim Agung Usul RUU Perampasan Diganti Jadi Pemulihan Aset, Menkum Tunggu Langkah DPR

Calon Hakim Agung Usul RUU Perampasan Diganti Jadi Pemulihan Aset, Menkum Tunggu Langkah DPR

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:01 WIB

Dinilai Keliru, Mahasiswa Layangkan Nota Keberatan atas Inpres Koperasi Merah Putih

Dinilai Keliru, Mahasiswa Layangkan Nota Keberatan atas Inpres Koperasi Merah Putih

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:43 WIB

Kopdes Merah Putih Berpotensi Jadi 'Hambalang Kecil', Masa Depan Desa Digadaikan

Kopdes Merah Putih Berpotensi Jadi 'Hambalang Kecil', Masa Depan Desa Digadaikan

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:36 WIB

Norman Joesoef Jadi Wamenhan? Pakar: Rawan Konflik Kepentingan dan Pengalaman Birokrasi Nol

Norman Joesoef Jadi Wamenhan? Pakar: Rawan Konflik Kepentingan dan Pengalaman Birokrasi Nol

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:30 WIB

×