alexametrics

Meski Jarang Terjadi, Alergi Telur juga Berisiko Alami Alergi Vaksin

Rauhanda Riyantama | Rosiana Chozanah
Meski Jarang Terjadi, Alergi Telur juga Berisiko Alami Alergi Vaksin
Ilustrasi vaksin flu. (Sumber: Shutterstock)

Namun, CDC mengatakan harus tetap mendapatkan vaksin flu dengan beberapa persyaratan.

Suara.com - Vaksinasi flu adalah pertahanan terbaik untuk melindungi diri dari virus influenza. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC US) merekomendasikan setiap orang yang berusia di atas enam bulan untuk mendapatkannya setiap tahun.

Namun, seperti beberapa orang yang alergi serbuk bunga, ada juga orang yang alergi terhadap vaksin. Meski ini jarang terjadi.

Risiko alergi parah terhadap vaksin apa pun, termasuk vaksin influenza, adalah 1,3 banding sejuta. Orang dengan alergi telur paling berisiko mengalaminya.

Di sisi lain, ada juga orang yang alergi terhadap pengawet vaksin. Tetapi ini lebih jarang lagi terjadi.

Baca Juga: Anak Sekolah Gratis, China Luncurkan Program Vaksinasi Massal Akhir Bulan

Seseorang yang alergi vaksin, kemungkinan akan mengembangkan gejala ini:

- Wajah membengkak, terutama di sekitar mata dan mulut.
- Merasa lemah.
- Pusing.
- Pucat.
- Detak jantung cepat.
- Hives.
- Sulit bernapas.

Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi vaksinasi (Sumber: Shutterstock)

Alergi telur dan vaksinasi influenza

"Alasan paling umum untuk reaksi alergiparah terhadap vaksinasi flu adalah alergi telur. Meskipun tidak ada telur dalam komponen aktif vaksin, suntikan dan semprotan hidung dibuat dengan sedikit protein telur," kata Ryan Steele, DO, ahli alergi-imunologi bersertifikat dan internis di Yale Medicine.

Tetapi hanya karena seseorang alergi telur, tidak berarti dirinya harus menghindari vaksinasi sepenuhnya, lanjut Steele.

Baca Juga: Gegara Ini, Korea Selatan Tunda Vaksinasi

CDC mengatakan harus tetap mendapatkan vaksinasi flu apabila:

Komentar