Epidemiolog UI: Hentikan Pandemi, Pemerintah Harusnya Gratiskan Vaksin

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Selasa, 15 Desember 2020 | 17:02 WIB
Epidemiolog UI: Hentikan Pandemi, Pemerintah Harusnya Gratiskan Vaksin
Ilustrasi vaksin Covid-19. [Shutterstock]

Suara.com - Penyediaan vaksin Covid-19 menjadi perbincangan di Indonesia. Pasalnya ada wacana bahwa vaksin akan diberikan dalam dua versi, yakni berbayar dan gratis.

Vaksin Covid-19 gratis sendiri adalah vaksin yang biayanya ditanggung dan dibayarkan oleh pihak pemerintah. Sedangkan vaksin Covid-19 mandiri adalah vaksin berbayar yang biayanya ditanggung dan dibebankan kepada masyarakat.

Sayangnya target penerima vaksin gratis hanya mencapai 30 persen, sisanya harus membayar. Hal ini tentu menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat.

Dalam menanggapinya, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, berpendapat bahwa program vaksin harusnya digratiskan untuk seluruh warga Indonesia.

"Ya kenapa enggak digratiskan, ini kan untuk mengatasi pandemi, vaksin kan bagian dari mengatasi pandemi," ujar Pandu saat dihubungi Suara.com melalui telepon, Selasa (15/12/2020).

"Kalau lagi pandemi, itu (vaksin) adalah public health tools, jadi suatu intervensi kesehatan publik dan di masa pandemi itu jadi kewajiban negara untuk menyediakan bagi setiap warga negara di negara tersebut," imbuhnya.

Ilustrasi vaksin Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Shutterstock)

Vaksin berbayar sendiri bisa membuat distribusi tidak merata karena tak semua warga memiliki daya beli. Hal ini yang kemudian bisa memperlambat berakhirnya pandemi Covid-19.

"Banyak orang yang tak bisa divaksinasi. Bagaimana pandemi ini mau cepat selesai, kalau vaksin harus membayar," tambah Pandu.

Pandu menegaskan bahwa pemberian vaksin seharusnya menjadi tugas dan kewajiban negara.

baca juga

"Hampir semua negara memberikan akses gratis, negara mana yang ada opsi berbayar, hanya Indonesia" ungkap Pandu.

Menurut Pandu, protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak (3 M) memang bisa mengendalikan laju pandemi. Namun dengan hadirnya vaksin, maka pandemi mungkin bisa diakhiri.

"Vaksin kan secondary prevention, primary prevention itu ya test, isolasi sama 3M, semua negara bisa menekan kasus nah vaksin untuk mengakhiri," kata Pandu.

Menurutnya, vaksin itu dibutuhan untuk mengakhiri supaya virus corona Covid-19 betul-betul hilang di Indonesia. Sehingga pemberian akses  vaksin gratis bagi seluruh warga harus terjamin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Bisa Tekan Biaya Distribusi Vaksin dengan Cara Ini

Indonesia Bisa Tekan Biaya Distribusi Vaksin dengan Cara Ini

Bisnis | Selasa, 15 Desember 2020 | 16:11 WIB

Tanggapan Ketua IDI Soal Daftar Pre-Order Vaksin Covid-19 Berbayar

Tanggapan Ketua IDI Soal Daftar Pre-Order Vaksin Covid-19 Berbayar

Video | Selasa, 15 Desember 2020 | 16:30 WIB

Vaksin Sinovac Belum Dapat Sertifikat Halal, MUI: Tunggu Lengkapan Dokumen

Vaksin Sinovac Belum Dapat Sertifikat Halal, MUI: Tunggu Lengkapan Dokumen

Banten | Selasa, 15 Desember 2020 | 15:49 WIB

Terkini

Korban Gempa NNT Butuh 30 Ton Beras, Tenda hingga Obat-obatan

Korban Gempa NNT Butuh 30 Ton Beras, Tenda hingga Obat-obatan

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 15:10 WIB

Kapal Pesir Berlogo Kemhan Viral! Ternyata Milik Haji Isam untuk Proyek Pangan

Kapal Pesir Berlogo Kemhan Viral! Ternyata Milik Haji Isam untuk Proyek Pangan

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:55 WIB

Ayah, Aku Hanya Ingin Didengar

Ayah, Aku Hanya Ingin Didengar

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:52 WIB

Perjuangan Kang Edai di Kemiren, Merajut Asa Bersama Desa Sejahtera Astra

Perjuangan Kang Edai di Kemiren, Merajut Asa Bersama Desa Sejahtera Astra

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:50 WIB

Lebih dari Sekadar Kopi dan Hujan: Membedah Makna Spiritual Lirik Bersenja Gurau

Lebih dari Sekadar Kopi dan Hujan: Membedah Makna Spiritual Lirik Bersenja Gurau

Your Say | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:44 WIB

Persija Jakarta Uji Kekuatan 2 Tim Thailand, Bukan Lawan Sembarangan

Persija Jakarta Uji Kekuatan 2 Tim Thailand, Bukan Lawan Sembarangan

Bola | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:37 WIB

Apa Penyebab Bedak Cakey dan Crack di Garis Senyum? Ini 5 Cara Mengatasinya

Apa Penyebab Bedak Cakey dan Crack di Garis Senyum? Ini 5 Cara Mengatasinya

Lifestyle | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Alarm Keamanan Digital, Indonesia Dihantam 15 Ribu Serangan Seluler di Kuartal I 2026

Alarm Keamanan Digital, Indonesia Dihantam 15 Ribu Serangan Seluler di Kuartal I 2026

Tekno | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:20 WIB

Gempa NTT Tewaskan 14 Orang, Puluhan Rumah Rusak hingga Warga Butuh Makanan

Gempa NTT Tewaskan 14 Orang, Puluhan Rumah Rusak hingga Warga Butuh Makanan

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:20 WIB

8 Benda di Kamar Tidur yang Bisa Menghalangi Datangnya Jodoh Menurut Feng Shui

8 Benda di Kamar Tidur yang Bisa Menghalangi Datangnya Jodoh Menurut Feng Shui

Lifestyle | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:20 WIB

×