Studi: Aktif Bergerak Turunkan Risiko Kematian akibat Serangan Jantung

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana | Suara.com

Kamis, 18 Februari 2021 | 14:22 WIB
Studi: Aktif Bergerak Turunkan Risiko Kematian akibat Serangan Jantung
Ilustrasi serangan jantung

Suara.com - Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Dalam hal ini, serangan jantung menjadi salah satu bentuk penyakit jantung yang paling mematikan.

Banyak pasien serangan jantung tidak dapat diselamatkan dan meninggal di tempat kejadian. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa pasien serangan jantung cenderung tidak meninggal di tempat jika mereka aktif bergerak atau banyak aktivitas fisik.

Melansir dari Medicinenet, para peneliti menganalisis data dari lebih dari 28.000 orang di Eropa yang menderita serangan jantung untuk melihat bagaimana aktivitas fisik dan gaya hidup dapat mempengaruhi risiko kematian mereka.

Peneliti menemukan bahwa sekitar 18 persen pasien meninggal dalam 28 hari setelah serangan jantung. Dari jumlah tersebut, lebih dari 62 persen meninggal seketika.

Tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko kematian di tempat dan 28 hari yang lebih rendah. Dibandingkan dengan pasien yang tidak aktif, mereka yang memiliki aktivitas fisiktinggi memiliki risiko kematian di tempat 45 persen lebih rendah dan risiko kematian 36 persen lebih rendah dalam 28 hari.

Mereka yang terlibat dalam aktivitas tingkat sedang memiliki risiko kematian langsung 33 persen lebih rendah. Pada 28 hari, mereka memiliki risiko kematian 28 persen lebih rendah. Sementara tingkat aktivitas fisik yang rendah tidak membuat perbedaan yang signifikan secara statistik. Penelitian ini telah diterbitkan pada European Journal of Preventive Cardiology.

Ilustrasi olahraga (shutterstock)
Ilustrasi olahraga (shutterstock)

"Hampir 18 persen pasien dengan serangan jantung meninggal dalam 28 hari yang membuktikan parahnya kondisi ini. Kami menemukan manfaat kelangsungan hidup langsung dari aktivitas fisik sebelumnya dalam pengaturan serangan jantung," kata penulis studi Dr. Kim Wadt Hansen dari departemen kardiologi di Rumah Sakit Bispebjerg di Kopenhagen, Denmark.

"Berdasarkan analisis kami, bahkan aktivitas fisik dalam jumlah kecil mungkin sebenarnya bermanfaat melawan serangan jantung yang fatal, tetapi ketidakpastian statistik menghalangi kami untuk menarik kesimpulan tegas tentang hal itu," tambahnya.

Para peneliti merekomendasikan agar orang dewasa berolahraga setidaknya 150 menit seminggu dengan intensitas sedang atau 75 menit seminggu dari aktivitas aerobik intensitas kuat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berkali-kali Hampir Mati, Demi Lovato Akui Seperti Kucing Miliki 9 Nyawa

Berkali-kali Hampir Mati, Demi Lovato Akui Seperti Kucing Miliki 9 Nyawa

Health | Kamis, 18 Februari 2021 | 13:38 WIB

Haruskan Segera Makan Protein setelah Olahraga? Ini Kata Ahli

Haruskan Segera Makan Protein setelah Olahraga? Ini Kata Ahli

Health | Kamis, 18 Februari 2021 | 10:42 WIB

Akhirnya Terungkap Penyebab Kematian Firaun

Akhirnya Terungkap Penyebab Kematian Firaun

Tekno | Kamis, 18 Februari 2021 | 07:30 WIB

Terkini

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 09:20 WIB

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB