Asupan Nabati Turunkan Risiko Kematian Demensia Perempuan hingga 21 Persen

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Senin, 01 Maret 2021 | 12:32 WIB
Asupan Nabati Turunkan Risiko Kematian Demensia Perempuan hingga 21 Persen
Gaya hidup sehat dengan buah-buahan. (Shutterstock)

Suara.com - Makan makanan nabati dapat memiliki banyak manfaat bagi kesehatan otak terutama dalam hal menangkal bahaya demensia bagi perempuan. Bahkan, pola makan nabati dapat menurunkan risiko kematian akibat demensia pada perempuan sebesar 21 persen. 

Melansir dari Healthshots, menurut sebuah studi klinis yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association, perempuan pascamenopause yang mengonsumsi protein nabati dalam kadar cukup memiliki risiko kematian mendadak, infeksi kardiovaskular, dan kematian terkait demensia.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data dari lebih dari 100.000 wanita pascamenopause usia 50 hingga 79 yang berpartisipasi dalam studi National Women’s Health Initiative di Amerika Serikat antara 1993 hingga 1998. Data tersebut diteliti sampai Februari 2017.

Selama masa penelitian, terjadi total 25.976 kematian di mana 6.993 kematian akibat penyakit kardiovaskular, 7.516 kematian akibat kanker, dan 2.734 kematian akibat demensia.

Ilustrasi sayuran brokoli. [Shutterstock]
Ilustrasi sayuran brokoli. [Shutterstock]

Para peneliti mencatat tingkat dan jenis protein yang dilaporkan dikonsumsi perempuan dan membaginya menjadi beberapa kelompok untuk membandingkan siapa yang makan paling sedikit dan siapa yang makan paling banyak dari setiap protein. Berikut adalah inti hasil penelitian, antara lain:

1. Dibandingkan dengan perempuan pascamenopause yang memiliki jumlah asupan protein nabati paling sedikit, mereka yang memiliki jumlah asupan protein nabati tertinggi memiliki risiko kematian 9 persen lebih rendah akibat penyakit apapun, 12 persen lebih rendah akibat penyakit kardiovaskular, dan 21 persen lebih rendah terkait demensia lebih rendah.

2. Konsumsi daging merah olahan yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko kematian akibat demensia 20 persen lebih tinggi.

3. Konsumsi yang lebih tinggi dari daging, telur, dan produk susu yang tidak diolah dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 12 persen, 24 persen dan 11 persen lebih tinggi.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi: Konsumsi Kacang-kacangan di Usia 40-an Turunkan Risiko Demensia

Studi: Konsumsi Kacang-kacangan di Usia 40-an Turunkan Risiko Demensia

Health | Minggu, 28 Februari 2021 | 10:00 WIB

Membahayakan Kesehatan, Tidur Kurang dari 5 Jam Tingkatkan Risiko Demensia

Membahayakan Kesehatan, Tidur Kurang dari 5 Jam Tingkatkan Risiko Demensia

Batam | Minggu, 28 Februari 2021 | 08:30 WIB

Gaya Berjalan Bisa Jadi Prediktor Alzheimer di Masa Depan, Begini Polanya

Gaya Berjalan Bisa Jadi Prediktor Alzheimer di Masa Depan, Begini Polanya

Health | Minggu, 28 Februari 2021 | 07:50 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×