Ini yang Harus Dilakukan Orangtua Bila Anak Terlanjur Alami Stunting

Kamis, 04 Maret 2021 | 13:56 WIB
Ini yang Harus Dilakukan Orangtua Bila Anak Terlanjur Alami Stunting
Ilustrasi Anak Stunting. (Shutterstock)

Suara.com - Mencegah anak stunting bisa dilakukan dengan memastikan ibu hamil tidak kekurangan gizi, dan tidak mengalami infeksi virus maupun bakteri mencegah anak lahir prematur. Tapi apa jadinya jika anak sudah terlanjur mengalami stunting, apa yang harus dilakukan?

Stunting adalah kondisi anak gagal tumbuh baik secara fisik (lebih pendek) maupun pikiran, dan biasanya terjadi di 1.000 hari awal kehidupan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik RSIA Bina Medika Bintaro, dr. Amalia Primahastuti, Sp.GK, mengatakan jika anak terlanjur stunting, ia menyarankan orangtua untuk membawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan terapi.

"Pada stunting fase awal, terapi dapat dilakukan karena cukup terbukti ada anak-anak yang menjalankan terapi, mampu kembali ke tinggi normalnya," ujar dr. Amalia berdasarkan siaran pers Sequis, Selasa (2/3/2021).

Biasanya, terapi yang diberikan dokter pada anak stunting adalah pemberian makanan bergizi seimbang dengan kalori yang adekuat dan diberikan suplementasi gizi mikro.

Apalagi saat ini, kata dr. Amalia, penanganan anak stunting sudah mendapat bantuan dan dukungan dari pemerintah Indonesia, yang punya target penurunan stunting hingga 14 persen di 2024. Hal ini mengingat angka stunting Indonesia masih di angka 27,67 persen berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019.

"Pemerintah Indonesia pun sudah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan asupan makan melalui Program Makanan Tambahan (PMT) dan suplementasi seperti kapsul vitamin A, taburia (multivitamin), dan zinc," papar dr. Amalia.

Perlu diingat, jika tidak semua anak balita pendek adalah anak stunting, karena diagnosis stunting harus diukur dari standar ukuran tinggi badan berdasarkan usia, yang diberikan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Dan, inilah beberapa ciri anak stunting yang harus diwaspadai oleh setiap orangtua, mengutip dari Hello Sehat:

Baca Juga: Angka Stunting di Kota Bandung Tinggi, Ini Deretan Penyebabnya

  • Pertumbuhan melambat.
  • Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya.
  • Pertumbuhan gigi terlambat.
  • Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya.
  • Usia 8 hingga 10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya.
  • Berat badan balita tidak naik bahkan cenderung menurun.
  • Perkembangan tubuh anak terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama anak perempuan).
  • Anak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI