alexametrics

Kontak Seksual Tinggi di Usia Remaja, Kepala BKKBN Ingatkan Vaksinasi HPV

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Kontak Seksual Tinggi di Usia Remaja, Kepala BKKBN Ingatkan Vaksinasi HPV
Ilustrasi vaksin HPV. (Shutterstock)

Kanker serviks dan kanker ovarium jadi dua jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan. Padahal penyakit infeksi menular itu bisa dicegah.

Suara.com - Kanker serviks dan kanker ovarium jadi dua jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan. Padahal penyakit infeksi menular itu bisa dicegah, salah satunya dengan penyuntikan vaksin HPV.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG., mengatakan bahwa kedua kanker itu memang paling banyak ditularkan karena gaya hidup hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.

"Kalau kita lihat di sini paling tinggi ovarium dan serviks, hampir semua faktor risiko ada hubungannya dengan seksualitas," kata Hasto dalam webinar 'Vaksin HPV Sebelum Menikah', Rabu (10/3/2021).

Hasto mengatakan bahwa hal itu harus jadi perhatian penting karena perilaku seks benas di Indonesia, terutama oleh remaja, semakin banyak dilakukan.

Baca Juga: Cegah Stunting, BKKBN Imbau Status Gizi Calon Pengantin Harus Baik

Sehingga hubungan seks di usia yang masih dini menjadi risiko terjadinya kanker mulut rahim.

Data BKKBN dalam Standar Diagnosasis Keperawatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 tercatat bahwa usia orang Indonesia berhubungan seksual paling banyak terjadi pada rentang 15-19 tahun.

"Oleh karena itu infeksi HPV ini cukup tinggi kejadiannya. Maka kalau kita ingin mencegah kontak seksual di usia dini, sulit. Buktinya semakin tahun juga usianya semakin muda untuk terjadi kontak seksual pada remaja. Sehingga kalau kita ingin mencegah mendewasakan usia kontak seksual, susahnya setengah mati. Kalau mendewasakan usia nikah masih lebih mudah," paparnya.

Program deteksi dini juga, menurut Hasto, hanya berperan kurang dari 10 persen untuk upaya mengurangi angka kasus kanker serviks dan kanker ovarium.

Ia menegaskan bahwa penyuntikan vaksin HPV menjadi upaya paling efektif dan efisien untuk mengurangi jumlah kasus.

Baca Juga: Berantas Stunting di Kepri, DPR Dorong BKKBN Terus Koordinasi dengan Pemda

"Kita harus melakukan pencegahan pada mereka dengan cara vaksin, jadi cara yang paling efektif dan efisien untuk pemerintah untuk lakukan pencegahan. Karena upaya lain seperti misalnya melakukan deteksi dini itu kesuksesannya hanya dibawa 10 persen, sudah terbukti," ucapnya.

Komentar