Efek Samping Vaksin Covid-19 yang Tidak Perlu Dikhawatirkan, Apa Saja?

Senin, 19 April 2021 | 07:30 WIB
Efek Samping Vaksin Covid-19 yang Tidak Perlu Dikhawatirkan, Apa Saja?
Ilustrasi vaksinasi Covid-19 [Suara.com/Muhammad Jehan Nurhakim]

Suara.com - Banyaknya kabar tentang efek samping vaksin Covid-19 yang dinilai mengancam jiwa, seperti pembekuan darah, tentu membuat beberapa orang panik dan takut untuk mengalaminya.

Namun, sebenarnya ada efek samping umum yang justru menjadi tanda yang bagus. Artinya, sistem kekebalan Anda bekerja sebagaimana mestinya.

"Hal-hal yang kami lihat adalah nyeri lengan, nyeri tubuh, terkadang kelelahan, terkadang demam ringan," jelas ahli avksin Peter Hotez, dekan National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine, dilansir CNN.

Ia melanjutkan, tubuh yang menggigil terjadi karena vaksin sangat ampuh dalam mendorong respon kekebalan. Inilah salah satu alasan orang yang sudah divaksin mendapat tingkat perlindungan yang tinggi.

Efek samping lainnya bisa termasuk rasa sakit, kemerahan atau bengkak di tempat suntikan, sakit kepala atau mual.

Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)
Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)

Efek vaksin berbeda pada setiap individu

"Setiap tubuh berbeda. Jadi, vaksin yang persis sama dapat membuat orang merasa sakit selama sehari dan yang lainnya merasa baik-baik saja," kata Hotez.

Namun, Hotez mengingatkan bahwa efek samping tersebut tidak serius meski memang tidak membuat nyaman dan dapat terjadi selama satu atau dua hari.

Tetapi, ada beberapa yang hanya mengalaminya selama beberapa jam saja.

Baca Juga: Terima Pasokan Vaksin Covid-19 Enam Juta Dosis, Menkes: Prioritaskan Lansia

Hampir semua vaksin Covid-19 membutuhkan dua sosis suntikan. Beberapa orang melaporkan efek sampingnya lebih kuat pada dosis kedua.

Tetapi sekali lagi, itu adalah tanda lain bahwa vaksin melakukan tugasnya dengan baik.

"Dengan dosis pertama, Anda harus menghasilkan respons kekebalan dari nol. Tubuh memproduksi antibodi, tetapi juga mulai menghasilkan sel kekebalan yang disebut sel B. Itu membutuhkan waktu," jelas Michael Worobey, profesor biologi evolusi di Universitas Arizona.

Kemudian saat suntikan kedus, sel-sel tersebut membuat pasukan dan dapat segera mulai menghasilkan respons kekebalan yang sangat besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Nge-fans Kamu dengan Lisa BLACKPINK?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Maarten Paes? Kiper Timnas Indonesia yang Direkrut Ajax Amsterdam
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Seberapa Tahu Kamu tentang Layvin Kurzawa? Pemain Baru Persib Bandung Eks PSG
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI