Protein Ini Bisa Jadi Indikator Potensi Obesitas, Makin Sedikit Makin Baik?

Cesar Uji Tawakal, Fita Nofiana

Rabu, 05 Mei 2021 | 09:30 WIB
Protein Ini Bisa Jadi Indikator Potensi Obesitas, Makin Sedikit Makin Baik?
lemak perut, obesitas, perut buncit (Pixabay/jarmoluk)

Suara.com - Para ilmuwan percaya protein khusus perut memainkan peran utama dalam perkembangan obesitas. Hal ini dinyatakan dalam penelitian baru yag terbit pada Scientific Reports.

Melansir dari Medical Xpress, studi yang ditulis bersama oleh peneliti Sekolah Kedokteran Universitas Indiana tersebut dapat membantu pengembangan terapi yang akan membantu individu mencapai dan mempertahankan penurunan berat badan.

Peneliti berfokus pada Gastrokine-1 (GKN1), protein yang diproduksi secara eksklusif dan berlimpah di perut. Penelitian sebelumnya menunjukkan GKN1 tahan terhadap pencernaan, memungkinkannya masuk ke usus dan berinteraksi dengan mikroba di usus.

Dalam studi ini, para peneliti menunjukkan bahwa menghambat GKN1 menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam berat dan kadar lemak tubuh dibandingkan dengan saat protein diekspresikan.

"Sementara pola makan dan olahraga sangat penting untuk menjaga berat badan yang sehat, namun mempertahankan penurunan berat badan bisa menjadi sebuah tantangan," kata David Boone, Ph.D., profesor mikrobiologi dan imunologi di IU School of Medicine, seorang profesor tambahan di Departemen Biologi di Universitas Notre Dame, dan salah satu penulis penelitian.

"Hasil ini adalah contoh bagaimana pemahaman yang lebih baik tentang mikrobioma usus dan aspek fisiologis obesitas dapat membantu menginformasikan terapi baru," imbuhnya.

Boone dan timnya melakukan analisis mikrobioma model tikus dengan dan tanpa protein GKN1 yang diekspresikan.

Peneliti mengukur asupan makanan, ekstraksi kalori, gula darah, insulin dan kadar trigliserida.

Mereka menggunakan imajinasi resonansi magnetik untuk memantau komposisi tubuh. Tim juga menghitung pengeluaran energi dan mengamati tingkat peradangan.

baca juga

Model tanpa GKN1 memiliki berat lebih sedikit dan memiliki tingkat lemak tubuh total yang lebih rendah.

Tak cuma itu, model tanpa GKN1 juga punya persentase massa tanpa lemak yang lebih tinggi meskipun mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sama.

Saat menjalani pola makan tinggi lemak, model tanpa GKN1 menunjukkan resistensi terhadap penambahan berat badan, peningkatan lemak tubuh, dan peradangan hati yang dapat menyebabkan penyakit hati.

Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keefektifan pemblokiran GKN1 untuk mencegah obesitas, para peneliti mengatakan terapi semacam itu dapat mengurangi beban pada sistem perawatan kesehatan dan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Selain Mual dan Haid Telat, Ini Tanda Kehamilan yang Jarang Diperhatikan

Selain Mual dan Haid Telat, Ini Tanda Kehamilan yang Jarang Diperhatikan

Health | Selasa, 04 Mei 2021 | 07:30 WIB

Hati-hati, 3 Hal Ini Bisa Sebabkan Perut Melilit Ketika Puasa

Hati-hati, 3 Hal Ini Bisa Sebabkan Perut Melilit Ketika Puasa

Your Say | Senin, 03 Mei 2021 | 16:33 WIB

Ketahui, 4 Tips Bikin Perut Langsing Ketika Puasa

Ketahui, 4 Tips Bikin Perut Langsing Ketika Puasa

Your Say | Senin, 03 Mei 2021 | 16:18 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05 WIB

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis  Redakan Wasir dengan Cara Alami

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 15:55 WIB

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:18 WIB