Muncul Wacana Vaksinasi Covid-19 Dosis Ketiga, Ini Tanggapan Pakar

Risna Halidi, Dini Afrianti Efendi

Jum'at, 09 Juli 2021 | 10:55 WIB
Muncul Wacana Vaksinasi Covid-19 Dosis Ketiga, Ini Tanggapan Pakar
Petugas medis menunjukkan vaksin COVID-19 Sinovac yang akan disuntikan kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Duren Sawit, Jakarta, (14/1/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Wacana mengenai vaksinasi dosis ketiga menggunakan jenis dan merek vaksin Covid-19 berbeda ditanggapi pakar alergi dan imunologi.

Ketua Pengurus Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia - Profesor Iris Rengganis memastikan penelitian vaksin Sinovac di Bandung sudah selesai, terkait berapa lama antibodi yang dihasilkan vaksin akan bertahan.

"Jadi memang ada penelitian di Bandung sudah selesai terkait vaksin Sinovac, tapi kita nunggu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang memberi pengumumannya," ujar Prof. Iris dalam diskusi virtual, Kamis (8/7/2021).

Selesainya penelitian ini juga jadi pemicu adanya wacana vaksinasi Covid-19 ketiga untuk para tenaga kesehatan (nakes), lantaran banyak nakes yang terinfeksi Covid-19 meski sudah mendapatkan vaksinasi lengkap dua dosis.

Namun wacana vaksinasi Covid-19 ketiga menjadi polemik karena jumlah dosis yang tersedia belum mencukupi untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity Indonesia, di mana sebanyak 181 juta penduduk harus divaksinasi.

Profesor Iris mengatakan ada masalah lain dari wacana vaksinasi lanjutan yaitu mencampurkan platform atau teknologi pembuatan vaksin berbeda digunakan pada vaksinasi dosis ketiga.

"Tidak ada perusahaan farmasi yang mau mencampurkan dua macam platform, dari dua merk berbeda, tapi tentu semuanya berdasarkan penelitian yang lain," terang Profesor Iris.

Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mencontohkan dua dosis vaksin Sinovac yang menggunakan platform inactivited (virus yang dimatikan), lalu dosis ketiga menggunakan vaksin Pfizer dengan platfrom mRNA.

"Sebenernya kalau dalam suatu penelitian yang ideal adalah vaksin yang sama dari satu platform, supaya evidence basenya ketahuan atau hasilnya ketahuan," imbuh Profesor Iris.

baca juga

Kata Profesor Iris, beberapa negara seperti Jerman dan Afrika sudah melakukan metode ini dalam sebuah penelitian, sehingga perlu ditinjau lebih lanjut.

Meski begitu, ia mengakui pencampuran merek dan platform vaksin yang berbeda akan memperluas cakupan vaksinasi Covid-19.

"Dalam ilmu imunologi, ini masuk di akal karena tentu untuk memperluas cakupan daripada strain atau virus yang bermutasi, jadi cakupan nya jadi lebih luas. Walaupun belum ada yang khusus untuk varian delta, tapi akan membuat cakupan yang lebih luas, saya kira akan baik hasilnya," pungkas Profesor Iris.

Sekedar informasi, varian Delta adalah mutasi virus corona penyebab sakit Covid-19 yang disebut 10 kali lebih menular dibanding varian jadul yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China.

Virus corona varian Delta, pertama kali ditemukan di India, dan menyebabkan negara itu dihantam berkali-kali gelombang pandemi Covid-19. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tim Medis Datangi Suku Pribumi Peru di Danau Titicaca untuk Vaksinasi

Tim Medis Datangi Suku Pribumi Peru di Danau Titicaca untuk Vaksinasi

Foto | Jum'at, 09 Juli 2021 | 10:35 WIB

Kisah Gerai Vaksinasi Presisi Mobile Polres Grobogan Blusukan ke Pedesaan

Kisah Gerai Vaksinasi Presisi Mobile Polres Grobogan Blusukan ke Pedesaan

Jawa Tengah | Jum'at, 09 Juli 2021 | 10:10 WIB

Studi: Vaksinasi Covid-19 Dua Dosis Efektif Kasih Perlindungan dari Varian Delta

Studi: Vaksinasi Covid-19 Dua Dosis Efektif Kasih Perlindungan dari Varian Delta

Health | Jum'at, 09 Juli 2021 | 10:10 WIB

Terkini

Acara Anti-Hoaks Berujung Bumerang, Raffi Ahmad Dituding Lakukan Pencitraan Lewat Massa Settingan

Acara Anti-Hoaks Berujung Bumerang, Raffi Ahmad Dituding Lakukan Pencitraan Lewat Massa Settingan

Entertainment | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:14 WIB

Duduk Perkara Empat Siswi SMA di Muba Diminta Lepas Seragam oleh Wakil Kepala Sekolah

Duduk Perkara Empat Siswi SMA di Muba Diminta Lepas Seragam oleh Wakil Kepala Sekolah

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:11 WIB

Jangan Takut Meniru! CEO BlokBojonegoro Ungkap Strategi Media Lokal untuk Berkembang

Jangan Takut Meniru! CEO BlokBojonegoro Ungkap Strategi Media Lokal untuk Berkembang

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Perkuat Layanan Kanker, Pemprov DKI Resmikan Pusat Onkologi

Perkuat Layanan Kanker, Pemprov DKI Resmikan Pusat Onkologi

Foto | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:57 WIB

MA Putuskan Suket SMA Tidak Sah, PDIP Kembali Layangkan Desakan Gibran Mundur!

MA Putuskan Suket SMA Tidak Sah, PDIP Kembali Layangkan Desakan Gibran Mundur!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:55 WIB

Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei

Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:50 WIB

Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta

Godzilla El Nino Muncul di Aksi Keadilan Iklim Jakarta

Foto | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:46 WIB

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kepuasan Publik 57,4 Persen, Lingkungan Jadi Sorotan

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kepuasan Publik 57,4 Persen, Lingkungan Jadi Sorotan

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:43 WIB

Kritik Pajak Pembalut 11 Persen, Dosen UGM: Pajakilah Orang Kaya, Bukan Kebutuhan Dasar!

Kritik Pajak Pembalut 11 Persen, Dosen UGM: Pajakilah Orang Kaya, Bukan Kebutuhan Dasar!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:41 WIB

MA Nyatakan Suket SMA Gibran Tidak Sah, Andreas PDIP: Memang Tak Punya Ijazah

MA Nyatakan Suket SMA Gibran Tidak Sah, Andreas PDIP: Memang Tak Punya Ijazah

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:31 WIB

×