Peneliti: Klamidia Mungkin Tingkatkan Risiko Kanker dan Kehamilan Etopik

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana | Suara.com

Selasa, 24 Agustus 2021 | 19:30 WIB
Peneliti: Klamidia Mungkin Tingkatkan Risiko Kanker dan Kehamilan Etopik
Ilustrasi vagina, organ intim perempuan. [Shutterstock]

Suara.com - Klamidia adalah salah satu masalah kesehatan vagina yang umum terjadi dan dapat disembuhkan. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa kondisi tersbeut bisa meningkatkan risiko kanker dan kehamilan etopik. 

Melansir dari Independent,  para ilmuwan di University of Bristol dan University of Edinburgh telah menyatakan bahwa adanya kemungkinan infeksi klamidia menyebabkan peningkatan risiko kanker dan kehamilan ektopik.

Mengikuti tinjauan bukti dari studi berbasis laboratorium, klamdia atau infeksi menular seksual bakteri yang paling umum di seluruh dunia ini merangsang perubahan sel saluran reproduksi. Perubahan ini yang dikenal sebagai transisi epitel ke mesenkimal (EMT) yang dapat menyebabkan peradangan dan pertumbuhan sel.

Para peneliti mengusulkan bahwa perubahan sel ini berkontribusi pada perkembangan penyakit saluran reproduksi lebih lanjut termasuk kanker dan kehamilan ektopik. Studi mereka menemukan bahwa klamidia juga dapat dikaitkan dengan cara penyakit radang panggul dipicu pada beberapa perempuan.

"Klamidia adalah infeksi bakteri yang merangsang EMT, yang dapat bertahan setelah infeksi klamidia sembuh," ujar Peneliti utama Dr Paddy Horner dari National Institute for Health Research (NIHR) di University of Bristol.

ilustrasi vagina. (Shutterstock)
ilustrasi vagina. (Shutterstock)


"Kami berpikir bahwa hubungan klamidia dengan kanker ovarium dan serviks dapat dijelaskan dengan bertahannya perubahan EMT dalam kombinasi dengan kerusakan DNA yang disebabkan oleh klamidia setelah infeksi klamidia," imbuhnya. 

Sel EMT juga merusak integritas lapisan sel saluran reproduksi yang terinfeksi, membuatnya lebih rentan terhadap invasi bakteri lain. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit radang panggul dari bakteri yang menyerang.

"Selanjutnya, sel epitel (penghalang) di tuba fallopi yang sebelumnya telah terinfeksi klamidia memiliki lebih banyak reseptor di permukaannya yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kehamilan ektopik. Ada bukti bahwa perubahan reseptor permukaan sel ini dapat disebabkan oleh EMT," ujar dokter Horner. 

"Jika hipotesis kami tentang peran EMT setelah infeksi klamidia pada wanita benar, itu dapat membantu menjelaskan beberapa pengamatan epidemiologis baru-baru ini tentang klamidia dan penyakit reproduksi yang sulit untuk dijelaskan menggunakan konsep terkini tentang respons imun terhadap klamidia," imbuhnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jangan Remehkan 3 Tanda Usus Tak Sehat Ini, Bisa Sebabkan Kanker Usus

Jangan Remehkan 3 Tanda Usus Tak Sehat Ini, Bisa Sebabkan Kanker Usus

Bogor | Selasa, 24 Agustus 2021 | 16:26 WIB

Ingin Tahu Rasanya Jadi Ibu Hamil, Lelaki Ini Balut Tubuhnya dengan Melon dan Semangka

Ingin Tahu Rasanya Jadi Ibu Hamil, Lelaki Ini Balut Tubuhnya dengan Melon dan Semangka

Lifestyle | Senin, 23 Agustus 2021 | 17:03 WIB

Aurel Hermansyah Jalani Tes NIPT, Ini Fungsi dan Prosesnya

Aurel Hermansyah Jalani Tes NIPT, Ini Fungsi dan Prosesnya

Health | Senin, 23 Agustus 2021 | 15:30 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB