alexametrics

Studi: Ibu yang Depresi saat Hamil dan Usai Melahirkan Picu Risiko Depresi Anak

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Studi: Ibu yang Depresi saat Hamil dan Usai Melahirkan Picu Risiko Depresi Anak
Ilustrasi ibu hamil sedang bersedih. (Shutterstock)

Anak dari orangtua dengan depresi lebih berisiko mengalami depresi juga saat dewasa.

Suara.com - Anak-anak yang lahir dari ibu yang mengalami depresi selama dan setelah kehamilan lebih cenderung mengembangkan gejala depresi di usia 24 tahun. Hal ini dinyatakan oleh penelitian yang dipimpin oleh University of Bristol.

Pada usia 24 tahun, kaum muda yang dilahirkan ibu dengan depresi antenatal (selama kehamilan) dan pascanatal (usai melahirkan), memiliki skor depresi yang hampir tiga poin lebih tinggi daripada keturunan ibu tanpa depresi. Studi ini juga mempertimbangkan dampak depresi ayah, meskipun sampelnya sangat kecil.

Diterbitkan di British Journal of Psychiatry, penelitian ini melihat survei dari 5.029 individu selama periode 14 tahun dari usia 10 hingga 24 tahun. 

Para peneliti juga menemukan bahwa keturunan ibu dengan riwayat depresi pascanatal memiliki peningkatan gejala depresi dari waktu ke waktu, sementara mereka yang memiliki ibu dengan riwayat depresi antenatal memiliki tingkat depresi secara keseluruhan yang lebih tinggi. 

Baca Juga: Ingin Rencanakan Kehamilan Kedua, Perhatikan Dulu Hal Ini

Kondisi ini menunjukkan pentingnya dukungan dan intervensi depresi antenatal dan pascanatal.

Ilustrasi Ibu Hamil. (Pixabay/Cparks)
Ilustrasi Ibu Hamil. (Pixabay/Cparks)

"Dengan melacak lintasan langkah-langkah suasana hati yang berulang dalam keturunan ibu yang depresi, kami dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang bagaimana risiko intergenerasi (pada anak)," ujar Rebecca Pearson, penulis senior dan dosen senior dalam epidemiologi psikiatrik di Universitas Bristol/Profesor Psikologi di Universitas Manchester Metropolitan.

Dokter Priya Rajyaguru, penulis pertama menjelaskan bahwa studi ini menunjukkan anak-anak dari orangtua dengan depresi antenatal dan pascanatal memeiliki risiko depresi terbesar. Risiko ini tampaknya bertahan sepanjang masa remaja ke masa dewasa awal. 

"Studi ini juga menimbulkan pertanyaan penting tentang visibilitas kesehatan mental ayah, meskipun sampel ayah kecil. Ketika kesehatan mental mereka tidak di screening secara rutin, tetapi kemungkinan masih mempengaruhi kesehatan mental anak di masa depan. Kita membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami lebih baik tentang apa yang mungkin juga terlihat pada ayah," jelasnya.

Baca Juga: Lesti Kejora Umumkan Positif Hamil, Yuk Ketahui 4 Tanda Kehamilan Awal

Komentar