Studi Baru: Parasit Malaria di Afrika Mulai Resisten terhadap Obat ACT yang Disetujui WHO

Yasinta Rahmawati, Rosiana Chozanah

Selasa, 28 September 2021 | 12:17 WIB
Studi Baru: Parasit Malaria di Afrika Mulai Resisten terhadap Obat ACT yang Disetujui WHO
Ilustrasi obat malaria. (Shutterstock)

Suara.com - Para ilmuwan mengumumkan bahwa parasit malaria, Plasmodium falciparum, di Afrika mulai resisten terhadap obat yang disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni Artemisinin Combination Therapy (ACT), Senin (27/9/2021).

WHO menyetujui regimen kombinasi obat ACT yang terdiri atas artemether dan lumefantrine, artesunate dan amodiaquine, dihydroartemisinin dan piperaquine, dan artesunate, sulfadoxine, dan pyrimethamine.

Sebuah studi baru yang terbit dalam New Egland Journal of Medicine menunjukkan penurunan obat dalam merawat penderita malaria, lapor The Guardian Nigeria.

Penelitian yang dilakukan di Uganda dari 2017 hingga 2019 ini menunjukkan perlu lebih dari lima jam untuk menghilangkan setengah Plasmodium falciparum yang menginfeksi 14 pasien malaria. Padahal, umumnya pengobatan artesunate hanya perlu beberapa jam untuk menghilangkan setengah parasit.

Penurunan kemampuan yang memenuhi definisi resistensi WHO itulah yang membuat ilmuwan berpikir parasit telah kebal terhadap pengobatan ACT.

Ilustrasi malaria (Shutterstock)

Sebenarnya, tanda resistensi sudah lama terlihat di benua tersebut. Misalnya, di Rwanda pada 2012 hingga 2015, para ilmuwan mendeteksi adanya mutasi gen terkait resistensi parasit malaria.

Gejala resistensi terhadap artemisinin dan obat lainnya juga muncul di Kamboja pada awal 2000-an. Beberapa tahun kemudian, parasit malaria di Asia Tenggara mulai kebal terhadap beberapa obat ACT.

Hal itu membuat beberapa kombinasi obat paling efektif tidak berguna lagi di wilayah tersebut dan membuat pemerintah kesehatan setempat mencari obat kombinasi yang manjur.

"Kita semua sudah memperkirakannya dan menjadi takut akan hal itu selama beberapa waktu," jelas ahli biokimia Leann Tilley dari University of Melbourne, Australia.

baca juga

Tilley juga menyatakan keprihatinannya atas perkembangan baru di Afrika, menggambarkan kondisi itu sebagai hal mengerikan. Sebab, lebih dari 90 persen kasus malaria dan kematian di seluruh dunia terjadi di benua tersebut.

Para ilmuwan khawatir skenario di Asia Tenggara juga akan terjadi di Afrika. Terlebih kurangnya akses ke fasilitas kesehatan memadai di banyak bagian Afrika Sub-Sahara. Masalah ini dapat menimbulkan banyak korban.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Duh, Peneliti Temukan Malaria yang Resisten Terhadap Obat Utama

Duh, Peneliti Temukan Malaria yang Resisten Terhadap Obat Utama

Health | Jum'at, 24 September 2021 | 15:30 WIB

Cegah Kena Malaria, Panitia dan Atlet PON XX Papua Perlu Lindungi Diri

Cegah Kena Malaria, Panitia dan Atlet PON XX Papua Perlu Lindungi Diri

Health | Rabu, 22 September 2021 | 06:15 WIB

Jelang PON XX Papua, Kemenkes Waspadai Penularan Malaria di Stadion

Jelang PON XX Papua, Kemenkes Waspadai Penularan Malaria di Stadion

Health | Selasa, 21 September 2021 | 23:20 WIB

Terkini

Tembus Barikade Aparat, Ribuan Mahasiswa dan Elemen Sipil Padati Bundaran HI

Tembus Barikade Aparat, Ribuan Mahasiswa dan Elemen Sipil Padati Bundaran HI

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:29 WIB

Pelatih Persib Bongkar Penyebab Mariano Peralta Lebih Gacor di Asia ketimbang Super League

Pelatih Persib Bongkar Penyebab Mariano Peralta Lebih Gacor di Asia ketimbang Super League

Bola | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:27 WIB

BRI Luncurkan Qlola Mobile, Permudah Akses Keuangan dan Transaksi Bisnis

BRI Luncurkan Qlola Mobile, Permudah Akses Keuangan dan Transaksi Bisnis

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:26 WIB

Angkut 8.400 Liter Solar Subsidi, Sindikat BBM Lintas Provinsi Digulung di Lampung Selatan

Angkut 8.400 Liter Solar Subsidi, Sindikat BBM Lintas Provinsi Digulung di Lampung Selatan

Lampung | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:24 WIB

Menjemput Surya, Menyalakan Desa: Orkestrasi Raksasa Transisi Energi Era Prabowo

Menjemput Surya, Menyalakan Desa: Orkestrasi Raksasa Transisi Energi Era Prabowo

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:23 WIB

Tren Makeup Korea: Bibir Glossy dan Complexion Glowing Masih Jadi Andalan

Tren Makeup Korea: Bibir Glossy dan Complexion Glowing Masih Jadi Andalan

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:23 WIB

Hey, Somebody oleh Xiaojun WayV: Lagu Debut Solo Penuh Pesan Penyemangat

Hey, Somebody oleh Xiaojun WayV: Lagu Debut Solo Penuh Pesan Penyemangat

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:20 WIB

KPK Turun ke Kudus, Kantor Pusat Djarum Kena Geledah

KPK Turun ke Kudus, Kantor Pusat Djarum Kena Geledah

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:18 WIB

Bapak Kesal Sama Saya? Ini Buat Gaji Anda Juga! Ucapan Mahasiswa kepada Polisi

Bapak Kesal Sama Saya? Ini Buat Gaji Anda Juga! Ucapan Mahasiswa kepada Polisi

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:17 WIB

Sinopsis Pirunduk: Hasrat Terlarang, Ilmu Hitam, dan Teror Satu Desa

Sinopsis Pirunduk: Hasrat Terlarang, Ilmu Hitam, dan Teror Satu Desa

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:15 WIB

×