alexametrics

Kasus Covid-19 Berada di Titik Terendah, Ilmuwan Jepang Malah Ketakutan

M. Reza Sulaiman
Kasus Covid-19 Berada di Titik Terendah, Ilmuwan Jepang Malah Ketakutan
Ilustrasi Perempuan Jepang. (Unsplash.com)

Turunnya kasus Covid-19 menjadi prestasi bagi pemerintah Jepang. Namun rupanya, hal ini membuat khawatir ilmuwan. Apa alasannya?

Suara.com - Turunnya kasus Covid-19 menjadi prestasi bagi pemerintah Jepang. Namun rupanya, hal ini membuat khawatir ilmuwan. Apa alasannya?

Dilansir ANTARA, kasus harian baru di Jepang tersungkur ke angka 87 pada Senin (4/10) atau jumlah terendah sejak 2 November tahun lalu.

Rekor tersebut merupakan suatu penurunan tajam dari lebih dari 5.000 kasus per hari dalam gelombang Agustus yang menghantam infrastruktur medis di ibu kota.

Memulai dengan cenderung lambat, Jepang saat ini telah mencatatkan progres cepat dalam kampanye vaksinasinya dan hampir enam bulan dari pembatasan jarak darurat yang diyakini memperlambat laju penularan virus.

Baca Juga: 29 Atlet PON Papua Positif Covid-19, Pakar Kesehatan Sarankan 7 Hal Ini

Simbol Paralimpiade dipasang saat jurnalis berkumpul di wilayah Odaiba, Tokyo, Jepang, Jumat (20/8/2021). ANTARA FOTO/Yuichi Yamazaki/Pool via REUTERS/FOC/djo (REUTERS/POOL)
Simbol Paralimpiade dipasang saat jurnalis berkumpul di wilayah Odaiba, Tokyo, Jepang, Jumat (20/8/2021). ANTARA FOTO/Yuichi Yamazaki/Pool via REUTERS/FOC/djo (REUTERS/POOL)

Kendati demikian, kecepatan gelombang infeksi dan rawat inap yang disebabkan tingginya penularan varian Delta yang saat ini telah surut memicu kebingungan di antara para ahli.

Hiroshi Nishiura dari Universitas Kyoto merupakan satu di antara ahli yang meyakini lonjakan kasus di musim panas dan diikuti penurunan kasus setelahnya terutama disebabkan tren aktivitas manusia.

Dia mengatakan infektivitas yang diukur dengan angka reproduksi efektif, berkorelasi dengan liburan.

“Selama liburan, kami bertemu orang-orang yang kami sering temui dan juga ada peluang besar untuk makan bersama dalam lingkungan tatap muka,” kata ahli penularan penyakit yang juga penasihat pemerintah Nishiura kepada Reuters.

Dia menuturkan catatan kasus terkini di Korea Selatan dan Singapura kemungkinan berhubungan satu sama lain selama liburan pertengahan tahun dan gabungan liburan negara-negara Asia dan Barat akhir tahun dapat berujung pada “mimpi buruk”.

Baca Juga: REKOR BARU, Hari Ini Tak Ada Kasus Meninggal Akibat Covid-19 di Kaltim, 123 Pasien Sembuh

Namun, ahli lainnya mengatakan tren penularan tidak begitu terkait dengan perjalanan, tetapi lebih ke arah tren reguler musiman.

Komentar