5 Alasan Mengapa Orang Sering Tunda Konsultasi ke Psikolog

Risna Halidi

Minggu, 10 Oktober 2021 | 16:30 WIB
5 Alasan Mengapa Orang Sering Tunda Konsultasi ke Psikolog
Ilustrasi konseling (Dok. Social Connect)

Suara.com - Dalam rangka Memperingati World Mental Health Day 2021, WHO kembali menggalakkan perhatian untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu kesehatan mental di dunia. Hal ini disebabkan masalah kesehatan mental masih sering kali dikesampingkan.

Padahal, sama dengan kesehatan fisik, kesehatan mental juga membutuhkan perhatian yang layak.

Imbasnya, sering kali meskipun seseorang mengalami rasa tidak nyaman atau gangguan dalam kesehatan mentalnya, banyak yang menunda untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Menurut Psikolog Klinis yang juga Co-Founder Social Connect, Falah Farras, setidaknya ada lima hal yang menjadi alasan mengapa masyarakat enggan mencari bantuan profesional. Berikut ulasannya.

Ilustrasi stres (Pixabay).
Ilustrasi stres (Pixabay).

1. Stigma dan Persepsi
Kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Sering kali ketika seseorang merasa butuh bantuan, mereka kerap dihadapkan dengan pandangan sinis yang terkesan mencibir.

Ada anggapan bahwa kesehatan jiwa yang terganggu disebabkan karena kurang beribadah, sehingga hatinya tidak dekat dengan Tuhan.

Selain itu, ada pula stigma buruk yang melekat di masyarakat. Orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering dianggap gila atau tidak waras. Stigma dan persepsi ini yang membuat kesehatan mental dianggap bukan sebagai sesuatu yang penting, sehingga dibiarkan berlarut-larut.

2. Kebiasaan untuk Menutup Masalah Rapat-rapat dari Pihak Luar
Masyarakat Indonesia terbiasa untuk menutup masalah rapat-rapat dari pihak luar. Ketika sebuah masalah datang, maka sebaiknya masalah itu diselesaikan tanpa melibatkan pihak ketiga.

Misalnya ketika seseorang merasa kesulitan, dia diharapkan untuk hanya bercerita pada pihak keluarga, teman, atau orang-orang yang dikenal dekat, bukan orang asing.

baca juga

Sayangnya, ketika orang tersebut tidak memiliki support system yang mendukung, maka ia akan merasa putus asa dan tidak mendapat jawaban. Belum lagi apabila orang-orang terdekatnya tidak memahami pentingnya kesehatan mental, ia justru akan menerima stigma sebagai orang yang lemah atau gila.

Imbasnya, ia akan merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk bercerita atau meminta bantuan.

3. Kondisi yang Dihadapi Sulit untuk Diceritakan

Ilustrasi wanita sedih (pexels.com/Anna Shvets)
Ilustrasi sedih (pexels.com/Anna Shvets)

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang sulit untuk menceritakan gangguan yang mereka hadapi atau terima.

Misalnya ketika mereka mengalami kekerasan atau pelecehan seksual. Muncul perasaan malu, tak berdaya, hingga tidak berharga.

Selain itu, kondisi ini juga mungkin terjadi di kasus-kasus yang bersifat struktural di dunia pekerjaan atau pendidikan yang sulit diceritakan jika tidak diwadahi dengan tepat. Belum lagi apabila masalah tersebut memiliki sangkut paut dengan orang-orang yang memiliki power tertentu.

4. Biaya yang Mahal
Masalah keuangan, terutama terkait biaya konsultasi dan pengobatan yang terkait kesehatan mental biasanya mahal.

Terlebih umumnya, asuransi kantor maupun pribadi tidak menanggung biaya konsultasi atau pengobatan kesehatan mental. Untungnya, bagi pemegang BPJS Kesehatan, kesehatan mental sudah masuk ke dalam salah satu penyakit yang ditanggung.

Untuk bisa menikmati fasilitas dari BPJS tersebut, pengguna harus mendatangi faskes tempat pengguna terdaftar lalu meminta surat rujukan. Alternatif lainnya, pengguna bisa langsung mendatangi RSJ terdekat dan menanyakan prosedur pengobatan menggunakan BPJS.

"Bantuan profesional itu, kan, bisa dibilang tidak murah. Obat-obatannya juga mahal, dan pengobatannya tidak satu kali sesi selesai, jadi bisa dalam jangka waktu yang panjang. Terkadang bisa bertahun-tahun, bahkan bisa seumur hidup," tutur Farras dikutip Suara.com dari siaran tertulis, Minggu (10/10/2021).

5. Takut dengan Treatment yang Akan Dihadapi

ilustrasi psikolog, psikiater, sesi konseling. (Dok. Envato)
ilustrasi psikolog, psikiater, sesi konseling. (Dok. Envato)

Kurangnya literasi dan edukasi mengenai kesehatan mental membuat banyak orang yang mengalami ketakutan bahkan sebelum sesi konsultasi atau pengobatan dimulai. Banyak orang yang sudah “termakan” dramatisasi film.

Sehingga mereka punya ekspektasi yang negatif saat hendak berkonsultasi. Misalnya takut akan adanya treatment berupa hipnosis atau penggunaan alat-alat listrik yang dihubungkan ke otak.

Menurut penuturan Farras, treatment masing-masing orang berbeda sesuai dengan masalah dan analisis para ahli yang menanganinya. Di luar itu, treatment apa pun yang akan dilakukan pada pasien juga akan dikonsultasikan terlebih dahulu oleh dokter atau terapis yang menanganinya.

Begitu pula dengan obat-obatan yang akan dikonsumsi, dokter akan memberitahukan secara mendetail masing-masing kegunaan dan efek samping dari obat tersebut.

Diakui Farras, untuk mengatasi kelima hal di atas, dibutuhkan waktu yang panjang. Untuk mengatasinya, dibutuhkan edukasi dan literasi yang mumpuni.

Ilustrasi konseling pranikah.[Unsplash/Priscilla Du Preez]
Ilustrasi konseling.[Unsplash/Priscilla Du Preez]

"Cara ini bisa dimulai dari diri sendiri dan orang-orang sekitar, yaitu dengan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mengenai kesehatan mental. Diharapkan nanti dari circle kita itu akan meluas ke circle-circle pertemanan teman kita yang lainnya," tutur Farras.

Hal inilah yang menjadi alasan dibentuknya Social Connect, sebuah komunitas kesehatan mental terbesar di Indonesia. Komunitas ini dibangun secara inklusif pada 2019 bagi siapa saja yang ingin belajar, berbagi cerita, dan bertukar pikiran seputar kesehatan mental.

Spesial World Mental Health Day 2021, Social Connect mengadakan kampanye bertaju “Mask Up: Jaga Diri dari Stigma Kesehatan Mental”. Dalam program ini, Social Connect akan mengadakan kelas gratis untuk edukasi dan pengembangan diri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pentingnya Diagnosis Depresi Sejak Dini, Dampaknya Bisa Merambat ke Penyakit Fisik!

Pentingnya Diagnosis Depresi Sejak Dini, Dampaknya Bisa Merambat ke Penyakit Fisik!

Health | Minggu, 10 Oktober 2021 | 16:28 WIB

WHO: Banyak Negara Gagal Berikan Layanan Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

WHO: Banyak Negara Gagal Berikan Layanan Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 10 Oktober 2021 | 14:02 WIB

Sederet Artis Bicara Kesehatan Mental, Ada yang Pernah Mau Bunuh Diri

Sederet Artis Bicara Kesehatan Mental, Ada yang Pernah Mau Bunuh Diri

Sumbar | Minggu, 10 Oktober 2021 | 09:40 WIB

Terkini

Masih Pentingkah Mahasiswa Punya LinkedIn di Era AI?

Masih Pentingkah Mahasiswa Punya LinkedIn di Era AI?

Your Say | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:36 WIB

Ekspor Melonjak, Tapi RI Tetap Defisit! Impor Migas Rp3,49 Miliar AS Jadi Biang Kerok

Ekspor Melonjak, Tapi RI Tetap Defisit! Impor Migas Rp3,49 Miliar AS Jadi Biang Kerok

Bisnis | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:36 WIB

Kuasa Hukum Pastikan Febrie Adriansyah Kooperatif Saat Diperiksa Tim 9 Kejagung

Kuasa Hukum Pastikan Febrie Adriansyah Kooperatif Saat Diperiksa Tim 9 Kejagung

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:35 WIB

Temuan 995 Senjata di Sekolah Disebut Ancaman Serius bagi Keamanan Negara

Temuan 995 Senjata di Sekolah Disebut Ancaman Serius bagi Keamanan Negara

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:35 WIB

Purbaya Relakan Rp 500 Triliun buat Bebas Pajak Konsolidasi BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Purbaya Relakan Rp 500 Triliun buat Bebas Pajak Konsolidasi BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun

Bisnis | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:31 WIB

Ulasan Recipe for Farewell: Memaknai Perpisahan Lewat Sepiring Masakan

Ulasan Recipe for Farewell: Memaknai Perpisahan Lewat Sepiring Masakan

Your Say | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:30 WIB

Bukan yang Pertama? KPK Endus Jejak Pemerasan Lain Staf Administrasi Selain Kasus Bupati Pemalang

Bukan yang Pertama? KPK Endus Jejak Pemerasan Lain Staf Administrasi Selain Kasus Bupati Pemalang

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:26 WIB

17 Ide Lomba 17 Agustus untuk Anak-anak TK dan SD yang Seru dan Aman

17 Ide Lomba 17 Agustus untuk Anak-anak TK dan SD yang Seru dan Aman

Lifestyle | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:25 WIB

Rilis Trailer, Choi Min-sik Rajin Jadi Anak Magang Han So-hee di The Intern

Rilis Trailer, Choi Min-sik Rajin Jadi Anak Magang Han So-hee di The Intern

Your Say | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:20 WIB

Gagal Nyalip di Jalan Gelap, Pemuda Jombang Tewas Terlindas Truk Tebu

Gagal Nyalip di Jalan Gelap, Pemuda Jombang Tewas Terlindas Truk Tebu

Jatim | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 11:19 WIB

×