alexametrics

Bayi Alergi Protein Susu Sapi Bisa Jadi Stunting Jika Alami Hal Berikut

Bimo Aria Fundrika | Lilis Varwati
Bayi Alergi Protein Susu Sapi Bisa Jadi Stunting Jika Alami Hal Berikut
Ilustrasi susu (Pixabay/Couleur)

Alergi protein susu sapi bisa sampai menyebabkan stunting biasanya lebih dulu diikuti dengan gejala berat pada anak.

Suara.com - Protein susu sapi termasuk jenis makanan yang cukup sering membuat anak di bawah 2 tahun alami alergi. Jika alergi tidak diobati dengan baik dan terjadi dalam waktu lama bisa menghambat pertumbuhan anak hingga menyebabkan stunting.

Dokter spesialis anak konsultan gastro hepatologi dr. Frieda Handayani, Sp.A (K)., menjelaskan, alergi protein susu sapi bisa sampai menyebabkan stunting biasanya lebih dulu diikuti dengan gejala berat pada anak.

"Bila anak mengalami alergi susu sapi yang berat sampai menimbulkan anemia, BAB darah yang terus-menerus, signifikan. Kemudian juga ada kebocoran protein dari usus, tentu dapat membuat anak mengalami gangguan tumbuh kembang yang kronik dan jangka panjang hingga bisa menyebabkan stunting," jelas dokter Frieda saat webinar bersama Danone Indonesia, Rabu (13/10/2021).

Meski begitu, orangtua tak perlu khawatir. Menurut dokter Frieda, persentase anak yang alergi susu sapi dengan gejala berat sangat sedikit, sekitar 1 sampai 2 persen.

Baca Juga: 3 Kreasi Olahan Tahu Susu yang menggoyang Lidah

Ilustrasi stunting, tinggi badan anak. (Envato Elements)
Ilustrasi stunting, tinggi badan anak. (Envato Elements)

"Kebanyakan alergi susu sapi masuk ke dalam gejala ringan, sedang," imbuhnya.

Hal lain yang perlu diketahui orangtua, lanjut dokter Frieda, anak yang tidak bisa mendapatkan protein dari susu sapi bisa diberikan fermentasi kalsium, vitamin D3, juga fosfor dari makanan lain dengan diukur berdasarkan angka kecukupan gizi.

Jika anak sudah mendapatkan makanan pendamping asi atau MPASI, orangtua juga bisa memasukkan sumber makanan yang mengandung kalsium, fosfor, magnesium, zat besi, dan vitamin D3 melalui suplemen juga makanan dari buah, sayur, dan daging. 

"Jadi masih banyak cara agar anak dapat tetap terpenuhi kebutuhan nutrisi. Yang utama tetap ASI memang yang terbaik, tidak ada yang bisa menggantikan," ucapnya.

Selama masa menyusui, ibu juga harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsinya, saran dokter Frieda. Sementara bayi harus dipastikan kecukupan nutrisi yang seimbang dengan berkonsultasi kepada dokter anak dan ahli gizi. 

Baca Juga: Makanan Khas Jawa Barat: Peyeum, Tahu Susu Lembang, dan Cimol, Mana Paling Enak?

Komentar