alexametrics

Peneliti: Pola Tidur Bayi Bisa Prediksi Risiko Obesitas ketika Dewasa

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Peneliti: Pola Tidur Bayi Bisa Prediksi Risiko Obesitas ketika Dewasa
Ilustrasi bayi. (Pexels)

Peneliti menemukan pola tidur bayi pada awal kehidupannya bisa membantu memprediksi risiko obesitas mereka di masa dewasa.

Suara.com - Pola tidur bayi Anda sepanjang malam bisa menjadi indikator penting untuk kondisi kesehatan mereka di masa depan. Sebuah penelitian telah menemukan anak-anak yang memiliki pola tidur baik pada bulan-bulan pertama kehidupannya berisiko rendah mengalami obesitas.

Para peneliti di rumah sakit AS menguji teori pada bayi baru lahir dan pola tidur mereka. Mereka menemukan pola tidur bayi pada bulan-bulan awal kehidupannya sangat penting.

Hanya satu jam tambahan tidur bisa menurunkan risiko kelebihan berat badan sebesar 26 persen pada bayi. Selain itu, bayi yang jarang terbangun di malam hari cenderung tidak mengalami kenaikan berat badan berlebih di masa mendatang.

Meskipun belum jelas hubungan antara pola tidur yang baik pada bayi dengan obesitas. Hal ini mungkin berdampak pada kebiasaan makan berlebihan pada mereka.

Baca Juga: Dokter Temukan Virus Corona Covid-19 Bisa Picu Diabetes Tipe 1, Ini Sebabnya!

"Hubungan antara kurang tidur dan penambahan berat badan sudah ditemukan pada orang dewasa dan anak-anak yang lebih tua. Tapi, hubungan antara keduanya belum pernah ditemui pada bayi," kata Susan Redline, MD, MPH, dokter senior di Divisi Gangguan Tidur dan Sirkadian di Brigham dikutip dari The Sun.

Ilustrasi bayi. (Unsplash)
Ilustrasi bayi. (Unsplash)

Dalam penelitian ini, mereka menemukan bahwa bayi yang lebih sering terbangun di malam hari juga berkaitan dengan risiko kelebihan berat badan dalam 6 bulan pertama kehidupannya, tidak hanya tidur malam yang lebih singkat.

"Studi ini juga menggarisbawahi pentingnya pola tidur yang sehat untuk Segala usia," kata Susan Redline.

Redline dan rekan lainnya mengamati 298 bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Massachusetts, menyatukan pola tidur mereka menggunakan perangkat kaki.

Para peneliti juga mengukur tinggi dan berat badan serta menentukan indeks massa tubuh untuk mengukur pertumbuhan ratusan bayi tersebut. Bayi yang dianggap mengalami kelebihan berat badan, bila hasil pengukurannya di atas persentil ke-95 pada grafik pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca Juga: Jadi Studi Para Ahli, Perempuan Terinfeksi Virus Corona Hampir Setahun

Komentar