alexametrics

Tidak Semua Serangan Panik Memiliki Gejala yang Sama, Ketahui 3 Faktanya

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Tidak Semua Serangan Panik Memiliki Gejala yang Sama, Ketahui 3 Faktanya
Ilustrasi panik (Shutterstock)

Masih ada banyak kesalahpahaman tentang seperti apa serangan panik itu terlihat dan terasa.

Suara.com - Serangan panik merupakan gelombang ketakutan intens yang bisa melemahkan dan melumpuhkan. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja dan terkadang orang tidak menyadarinya.

Ketakutan ekstrem ini sering menyerang secara tiba-tiba tanpa peringatan apa pun, dan terkadang tanpa pemicu yang jelas. Bahkan, serangan panik dapat terjadi ketika kita sedang santai atau tidur.

Tetapi, masih ada banyak kesalahpahaman tentang seperti apa serangan panik itu terlihat dan terasa.

Berdasarkan Healthline, berikut mitos seputar serangan panik yang sering terdengar di masyarakat.

Baca Juga: Dalih Kesehatan Mental, Mike Tyson Minta Inggris Legalkan Ganja

1. Semua gejala serangan panik sama

Faktanya, gejala serangan panik bisa terasa berbeda pada setiap orang dan tergantung pada pengalaman pribadi.

Gejala umumnya memang berupa sesak napas, jantung berdebar kencang, merasa kehilangan kendali atau keamanan, sakit dada, mual, hingga pusing.

Tetapi ada banyak gejala berbeda dan ada kemungkinan juga hanya merasakan beberapa gejala umum tersebut.

Ada juga orang yang mengalami demam dan wajah memerah ketika akan mengalami serangan panik.

Baca Juga: 6 Manfaat Konsumsi Ikan Secara Rutin, Baik untuk Jantung hingga Kesehatan Mental

Ilustrasi wanita panik. (Pexels/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi wanita panik. (Pexels/Andrea Piacquadio)

2. Serangan panik adalah reaksi berlebihan dan sengaja dibuat dramatis

Kenyatannya, serangan panik bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan. Meski belum diketahui secara pasti penyebab serangan panik, tetapi kondisi ini sering dipicu oleh peristiwa stres atau tekanan, penyakit mental, rangsangan yang tidak terduga atau perubahan lingkungan.

Alih-alih mendramatisir, orang yang mengalami serangan panik justru benci ketika mengalaminya dan merasa malu ketika terjadi di depan umum.

3. Hanya orang dengan diagnosis penyakit mental yang mengalami serangan panik

Sebenarnya, siapa saja bisa mengalami serangan panik. Bahkan, tanpa diagnosis penyakit mental.

Tetapi memang, beberapa orang memiliki risiko besar mengalami serangan panik apabila mengidap gangguan panik, gangguan kecemasan umum (GAD), dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Orang yang memiliki riwayat keluarga serangan panik, pelecehan atau trauma anak juga berisiko tinggi mengalami serangan panik.

Bagian tersulit dari serangan panik adalah menjelaskan apa yang terjadi, atau apa yang terjadi, kepada orang-orang sekitar.

Jadi, memahami serangan panik dan mempelajari cara terbaik untuk mendukung diri sendiri sangat membantu untuk mengatasi saat kondisi ini terjadi.

Komentar