alexametrics

40 Persen Masyarakat Belum Divaksinasi, Epidemiolog Minta Prokes Dijalankan Ketat

M. Reza Sulaiman
40 Persen Masyarakat Belum Divaksinasi, Epidemiolog Minta Prokes Dijalankan Ketat
Ilustrasi anak pakai masker. [Shutterstock]

Memburuknya situasi pandemi di Eropa dan Asia menjadi sinyal prokes perlu diperketat mengingat 40 persen dari total populasi di Indonesia belum divaksinasi.

Suara.com - Meningkatnya kasus Covid-19 di sejumlah negara-negara dunia perlu menjadi perhatian di Indonesia. Sebab di negara yang cakupan vaksinasinya tinggi pun, kenaikan kasus tetap terjadi.

Hal ini membuat Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan pengetatan protokol kesehatan 3T, 5M, dan akselerasi vaksinasi masih diperlukan.

Menurutnya, memburuknya situasi pandemi di Eropa dan Asia menjadi sinyal prokes perlu diperketat mengingat 40 persen dari total populasi di Indonesia belum divaksinasi.

“Saat ini, sejumlah negara di dunia kembali mengalami pertambahan kasus COVID-19, seperti di Eropa dan China. Meskipun telah gencar mengadakan vaksinasi, namun kini mereka kewalahan dengan naiknya tingkat infeksi virus," kata Dicky mengutip ANTARA.

Baca Juga: Pemerintah Ingatkan Euforia Masyarakat yang Tinggi Jangan Sampai Kendorkan Prokes

Hindari Lonjakan Kasus Covid-19 Saat Natal dan Tahun Baru
Hindari Lonjakan Kasus Covid-19 Saat Natal dan Tahun Baru

Menurunnya kasus positif COVID-19 secara nasional tidak boleh membuat masyarakat lengah karena kombinasi populasi yang belum divaksin, peningkatan mobilisasi, dan keberadaan varian Delta dapat memakan korban.

"Meski tidak sebesar gelombang kedua, gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia berpotensi terjadi di triwulan pertama tahun 2022, dengan asumsi tidak ada varian yang lebih 'super’ dari Delta bersirkulasi di Indonesia.

Karenanya, jika kita tidak berhati-hati, masa nataru menjadi momen yang rawan, sehingga kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan harus lebih ketat, apalagi dengan mobilitas yang tinggi dan masa karantina yang dipersingkat,” tambah Dicky yang juga penyusun Peta Jalan Adaptasi Pengendalian dan Pemulihan Dampak COVID-19.

Dicky mengatakan bahwa naskah akademik Peta Jalan Adaptasi Pengendalian dan Pemulihan Dampak COVID-19 memberikan arahan langkah apa saja yang perlu dilakukan oleh semua pihak di Indonesia untuk mempercepat transisi masa pandemi menuju endemi untuk tercapainya target pembangunan kesehatan.

Peta jalan ini mengungkap enam pokok permasalahan sektor kesehatan Indonesia yang perlu dimitigasi dalam upaya pemulihan dampak COVID-19 yakni ambang batas herd immunity yang belum tercapai, deteksi dini dan pencegahan, kapasitas faskes saat kasus melonjak, perilaku adaptif publik, koordinasi dan monitoring, dan kualitas layanan kesehatan yang berpotensi menurun.

Baca Juga: Kasus COVID-19 di Amerika Serikat dan Eropa Naik, Indonesia Perlu Waspada

Peta jalan ini menawarkan solusi berupa kebijakan untuk mendorong masyarakat beradaptasi di tengah COVID-19 agar sektor kesehatan dapat segera pulih.

Komentar