alexametrics

Hindari 3 Jenis Makanan Ini Demi Menjaga Kesehatan Memori Otak

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Hindari 3 Jenis Makanan Ini Demi Menjaga Kesehatan Memori Otak
Ilustrasi perempuan demensia. [Shutterstock]

Kita mungkin dapat mengurangi kemungkinan demensia dengan menghindari makanan yang membahayakan bakteri usus dan melemahkan memori.

Suara.com - Ada banyak hal yang dapat memengaruhi kesehatan otak, salah satunya pola makan sehari-hari.

Menurut psikiater nutrisi dan anggota dari Harvard Medical School, Uma Naidoo mengatakan bahwa bakteri usus dapat memicu proses metabolisme dan peradangan otak yang memengaruhi memori.

"Studi yang ada menunjukkan bahwa kita mungkin dapat mengurangi kemungkinan demensia dengan menghindari makanan yang membahayakan bakteri usus dan melemahkan memori serta fokus kita," kata Naidoo, dilansir CNBC.

Naidoo menyarankan untuk menghindari beberapa makanan berikut ini demi menjaga kesehatan memori kita:

Baca Juga: Pentingnya Minum Air untuk Kesehatan Otak, Bisa Mencegah Penuaan Dini

1. Gula tambahan

Otak menggunakan energi dalam bentuk glukosa untuk bahan bakar aktivitas seluler. Namun, mengonsumsi terlalu banyak gula dapat menyebabkan kelebihan glukosa di otak.

Menurut penelitian, hal itu dikaitkan dengan gangguan memori dan berkurangnya fungsi plastisitas hipokampus, bagian otak yang mengendalikan memori.

Meski setiap tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda, American Heart Association merekomendasikan agar wanita tidak mengonsumsi lebih dari 25 gram gula tambahan dan pria tetap di bawah 36 gram tambahan gula per hari.

Ilustrasi lansia lupa (Shutterstock)

2. Makanan yang digoreng

Baca Juga: 5 Manfaat Olahraga Lari, Latihan Kekuatan Kaki Jadi Kunci Kesehatan Otak!

Suatu penelitian yang melibatkan 18.080 orang menemukan bahwa mengonsumsi banyak makanan yang digoreng dikaitkan dengan rendahnya skor dalam pembelajaran dan memori.

Mulailah mengurangi konsumsi makanan yang digoreng secara bertahap. Jika biasanya makan gorengan setiap hari, ganti menjadi semiggu sekali. Apabila mengonsumsi seminggi sekali, maka diubah menjadi sebulan sekali.

3. Karbohidrat dengan kandungan glikemik tinggi

Meski makanan berkarbohidrat tinggi, seperti roti, pasta, dan apa pun yang terbuat dari tepung halus dan tidak terasa manis, tubuh masih memprosesnya dengan cara yang sama seperti gula.

Namun, Naidoo menyarankan untuk mengganti sumber karbohidrat yang memiliki indeks kualitas yang baik, yang didefinisikan sebagai biji-bijian, makanan tinggi serat, dan mengandung indeks glikemik (GI) rendah.

GI merupakan ukuran seberapa cepat makanan berubah menjadi glukosa ketika dipecah selama pencernaan. Semakin cepat makanan berubah menjadi glukosa dalam tubuh, semakin tinggi peringkat GI-nya.

Komentar