Eka Hospital Resmi Menjadi Official Medical Partner Klub Sepakbola Persija

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Eka Hospital Resmi Menjadi Official Medical Partner Klub Sepakbola Persija
Eka Hospital Resmi Menjadi Official Medical Partner Klub Sepakbola Persija. (Dok: Eka Hosital)

Berdiri sejak tahun 2008, Eka Hospital melayani rata-rata 500.000 pasien per tahun.

Suara.com - Eka Hospital Grup mendukung atlet-atlet Persija dengan menjalin kerjasama dalam pelayanan kesehatan, berupa perawatan atlet yang mengalami cedera serta layanan Pre-Competition Medical Assesment (PCMA) untuk atlet Persija sesuai dengan parameter yang ditentukan oleh Asian Football Confederation (AFC).

Chief Operating Officer Eka Hospital, Drg. Rina Setiawati mengatakan, Eka Hospital akan mengawal atlet Persija yang sedang berkompetisi di Liga 1 dan akan memberikan kenyamanan dalam segi fasilitas serta dokter-dokter terbaik yang kami miliki. Eka Hospital juga akan merawat pemain yang mengalami cedera beserta segenap keluarga atlet.

"Tentunya kami tidak hanya bekerjasama dengan Persija tapi kepada segenap keluarga besar Persija yaitu Jakmania, kami memberikan penawaran khusus bagi pemilik KTA Jakmania untuk keringanan biaya laboratorium, radiologi, rehab medik hingga paket kesehatan khusus, tentunya hal ini bertujuan menjaga kesehatan segenap keluarga besar Jakmania yang merupakan sumber tenaga para pemain Persija dan ini berlaku di seluruh cabang Eka Hospital Grup," ujar Drg. Rina Setiawati dalam keterangan pers yang digelar pada Jumat (7/1/2022).

Eka Hospital Resmi Menjadi Official Medical Partner Klub Sepakbola Persija. (Dok: Eka Hospital)
Eka Hospital Resmi Menjadi Official Medical Partner Klub Sepakbola Persija. (Dok: Eka Hospital)

Eka Hospital didukung oleh dokter-dokter konsultan ortopedi yang ahli di bidang Orthopedi, Spine, Hip & Knee, juga Sport Injury yang tergabung dalam sebuah pusat layanan unggulan bernama Gatam Institute.

Baca Juga: Dragan Djukanovic Masih Dikarantina, PSIS Semarang Tetap Optimis Lawan Persjia Jakarta

dr. Ricky Edwin P Hutapea, Sp.OT (K) Hip and Knee- Spesialis Orthopedi Konsultan Pinggul dan Lutut Eka Hospital BSD mengatakan, Eka Hospital juga memiliki fasilitas dan sumber daya pelayanan terpadu di bidang Sport injury, mulai dari instrument penunjang diagnostic, fasilitas instrument operasi paling mutakhir (robotic spine navigation system, the latest generation 4K arthroscopic system), dokter spesialis multidisiplin yang terintegrasi sebagai satu kesatuan (orthopedic, rehab medis, kedokteran olahraga) untuk mengoptimalkan kondisi atlet agar dapat back to sport dalam kondisi terbaiknya dan secepat- cepatnya.

Sementara itu dr. Erick Wonggokusuma, Sp.OT (K) Sport, Spesialis Orthopedi Konsultan Sport Eka Hospital BSD menjelaskan, terkait perawatan seorang atlet. Menurutnya, Perawatan seorang atlet dengan pasien biasa tentunya akan beda, bisa dilihat dari jenis penyakitnya. Kalau seorang atlet atau individu yang berolahraga cukup berat biasanya terkena cedera ligamen lutut (ACL), cedera bahu, cedera otot hamstring dan lain-lain.

"Sedangkan pada pasien biasa cenderung penyakit yang disebabkan oleh faktor usia atau kecelakaan,” paparnya.

Dengan ditunjuknya Eka Hospital sebagai Official Medical Partner oleh salah satu klub sepakbola terbesar di Indonesia, PERSIJA Jakarta, tentunya hal ini menjadi dorongan bagi Eka Hospital Grup dalam memberikan pelayanan yang komprehensif bagi masyarakat serta terus melakukan inovasi dalam dunia kesehatan.

Eka Hospital merupakan jaringan rumah sakit yang mengedepankan mutu dan keselamatan dalam menyediakan layanan kesehatan. Saat ini Eka Hospital memiliki lebih dari 350 dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dengan kapasitas 600 kamar perawatan yang tersedia di 4 lokasi yakni Bekasi, BSD Tangerang, Cibubur, dan Pekanbaru.

Baca Juga: Jelang Laga Kontra Persija, PSIS Semarang Datangkan Bomber Baru dari Jamaika

Eka Hospital menerapkan Rekam Medis Elektronik sehingga data medis pasien tercatat pada sistem secara terintegrasi agar memudahkan kolaborasi tim dokter dalam mengobati pasien dan mengurangi tingkat kesalahan diagnosa/tindakan oleh tim dokter, serta ketentuan Satu Pasien Satu Kamar untuk memberikan kenyamanan pada pasien dan mengurangi kemungkinan berjangkitnya infeksi silang dalam rumah sakit.