Benarkah Anak yang Baru Minum Sufor Setelah Lebih dari 1 Tahun Berisiko Stunting? Ini Kata Ahli

Bimo Aria Fundrika | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 26 Januari 2022 | 09:03 WIB
Benarkah Anak yang Baru Minum Sufor Setelah Lebih dari 1 Tahun Berisiko Stunting? Ini Kata Ahli
Ilustrasi susu (Pixabay/Couleur)

Suara.com - Susu menjadi sumber makanan pokok bagi bayi sejak baru lahir. Hingga usianya 6 bulan, bayi disarankan hanya mengonsumsi ASI. Setelah itu, bayi bisa mendapatkan makanan pendamping ASI atau MPASI.

Meski bayi masih mendapatkan ASI setelah usia 6 bulan, ahli gizi menyarankan agar anak juga disokong susu formula (sufor). Tujuannya, agar nutrisi anak tercukupi dan mencegahnya dari risiko stunting.

"Usia pertama kali anak minum susu pertumbuhan, kalau sudah lebih dari 1 tahun ternyata sudah agak terlambat, berisiko menjadi stunting. Kalau ASI saja, nutrisi ibunya sendiri tidak baik," jelas ahli Gizi sekaligus Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi Dan Kesehatan Keluarga (PKGK) UI Prof. drg Sandra Fikawati, MPH, dalam webinar Hari Gizi Nasional bersama Frisian Flag, Selasa (25/1/2022).

Ilustrasi susu kuda liar (Pxhere.com)
Ilustrasi susu kuda liar (Pxhere.com)

Ia menyampaikan bahwa status gizi ibu hamil di Indonesia juga kurang baik. Di mana 50 persen ibu hamil mengalami anemia dan sekitar 20 persen kurang gizi kronis. Kondisi tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi kesehatan janin dan kualitas ASI.

"Pada saat dia menyusui, otomatis tidak ada perbaikan sebetulnya dari segi gizi," kata dokter Sandra.

Jumlah susu yang yang dikonsumsi anak juga harus cukup. Tidak boleh kurang agar mencegah risiko stunting, tapi juga jangan berlebihan supaya anak tidak mengalami kelebihan gizi atau obesitas.

Dokter Sandra menyarankan, anak sebaiknya konsumsi susu tiga kali sehari dengan jumlah maksimal 300 mililiter.

"Susu merupakan sumber zat gizi yang lengkap, karena ada karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak," ujarnya.

Pertumbuhan dan perkembangan anak paling cepat terjadi selama dua tahun pertama kehidupannya sejak di dalam kandungan. Oleh sebab itu, dokter Sandra mengingatkan, kalau anak yang stunting mulai bisa terlihat sejak usianya 2 tahun.

"Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek pada anak balita. Anak yang stunting akan mulai terlihat pada usia 2 tahun," ucapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Manfaat Besar Susu Sapi untuk Mencegah Stunting pada Anak

Manfaat Besar Susu Sapi untuk Mencegah Stunting pada Anak

Jawa Tengah | Selasa, 25 Januari 2022 | 21:43 WIB

Susu Sapi Bisa Mencegah Stunting pada Anak, Ini Penjelasan dari Ahli Gizi

Susu Sapi Bisa Mencegah Stunting pada Anak, Ini Penjelasan dari Ahli Gizi

Jawa Tengah | Rabu, 26 Januari 2022 | 08:00 WIB

Pemerintah Targetkan Penurunan Angka Stunting Tahun 2022 Hingga 3 Persen

Pemerintah Targetkan Penurunan Angka Stunting Tahun 2022 Hingga 3 Persen

Jawa Tengah | Rabu, 26 Januari 2022 | 06:30 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB