facebook

Hepatitis Akut Berkaitan dengan Vaksin Covid-19? Dokter Tegaskan Hal Itu Tidak Benar!

Vania Rossa | Lilis Varwati
Hepatitis Akut Berkaitan dengan Vaksin Covid-19? Dokter Tegaskan Hal Itu Tidak Benar!
Ilustrasi Hepatitis Akut. (Elements Envato)

"Banyak berita kejadian hepatitis akut ini dihubungkan dengan vaksin covid, itu tidak benar!"

Suara.com - Wabah hepatitis akut berat masih menjadi misterius karena belum bisa dipastikan penyebabnya. Di sisi lain, muncul anggapan kalau infeksi tersebut berkaitan dengan dampak dari vaksin Covid-19.

Dokter spesialis anak di rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof. dr. Hanifah Oswari, Sp.A(K). menegaskan bahwa penyakit hepatitis akut berat itu tidak ada kaitannya dengan vaksin Covid-19.

"Banyak berita kejadian ini dihubungkan dengan vaksin covid, tidak benar! Karena kejadian hepatitis akut saat ini tidak ada bukti berhubungan dengan vaksin covid. Memang ada berhubungan dengan virus, tapi itu pun belum diberikan informasi bahwa berhubungan secara langsung," jelas dokter Hanifah dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/5/2022).

Hasil penelitian sementara dari para ilmuwan di dunia disebutkan bahwa ada beberapa virus yang diduga jadi penyebabnya, yakni adenovirus tipe 41, SARS CoV, virus EBV, dan lainnya. Akan tetapi, dokter Hanifah menambahkan bahwa temuan tersebut juga masih dugaan.

Baca Juga: UKHSA Menambahkan Dugaan Penyebab Hepatitis Akut Misterius: Virus Corona Omicron

"Karena masih mungkin koinsiden, itu kejadian yang bersamaan tapi bukan sebagai penyebab langsung. Karena itu menghubungkan virus Covid dengan penyakitnya saja belum bisa ditentukan, apalagi dengan vaksin Covid saat ini. Berita seperti itu saya kira perlu diluruskan," ujarnya.

Penyakit hepatitis sebenarnya bukan hal baru di Indonesia, lanjut dokter Hanifah. Hanya saja, khusus kasus hepatitis akut berat saat ini menimbulkan gejala lebih berat.

"Hepatitis akut ini sudah banyak di Indonesia. Memang berat, tapi biasanya pasien datang tidak dalam kondisi seberat ini (pasien hepatitis akut berat) dan datang dalam waktu bersamaan yang cepat. Lebih khususnya lagi, ini menyerang anak-anak di bawah usia 16 tahun. Tapi lebih banyak lagi pada usia di bawah 10 tahun," ujarnya.

Komentar