facebook

Meski Punya Tulang Lemah, Penderita Osteoporosis Tetap Harus Rutin Olahraga

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Meski Punya Tulang Lemah, Penderita Osteoporosis Tetap Harus Rutin Olahraga
Ilustrasi osteoporosis (Shutterstock)

Cedera paling umum dari osteoporosis adalah patah tulang pergelangan tangan pinggul, dan tulang belakang.

Suara.com - Penderita osteoporosis sebenarnya tidak perlu takut untuk berolahraga secara teratur.

Ahli mencatat kondisi yang melemahkan tulang dan membuat tulang lebih mudah patah ini telah memengaruhi lebih dari 150 jta orang di seluruh dunia.

Cedera paling umum dari osteoporosis adalah patah tulang pergelangan tangan pinggul, dan tulang belakang.

Karenanya, penderita osteoporisis masih perlu berolahraga secara tertatur untuk memperkuat tulang, mengurangi risiko patah tulang dan jatuh, memperbaiki postur tubuh, serta meningkatkan kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan.

Baca Juga: Tidak Hanya Olahraga Kardio, Latihan Kekuatan Juga Efektif Menurunkan Berat Badan, lho!

Namun, ketidakpastian tentang jenis aktivitas fisik apa yang aman, terutama dalam jangka panjang atau ketika tulang melemah, membuat dokter tidak yakin harus merekomendasikan apa.

Ilustrasi berolahraga (pexels/Tirachard Kumtanom)
Ilustrasi berolahraga (pexels/Tirachard Kumtanom)

Dilatarbelakangi hal itu, panel ahli multidisiplin meninjau bukti yang ada dan menarik pendapat klinis serta pasien untuk mencapai kesepakatan tentang rekomendasi olahraga terbaik untuk meminimalkan risiko patah tulang.

Akhirnya, peneliti menyarankan untuk melakukan latihan rutin yang berfokus pada penguatan otot setiap dua atau tiga hari seminggu.

Mereka juga menyarankan untuk melakukan aktivitas olahraga intensitas sedang, seperti joging, aerobik, atau zumba.

Bagi orang yang belum menderita patah tulang belakang atau orang lanjut usia untuk tetap berolahraga dengan intensitas rendah selama 20 menit.

Baca Juga: Gemar Olahraga Golf? Ini Tips dari Samuel Zylgwyn Untuk Pemula

Penelitian ini didukung oleh Royal Osteoporosis Society, telah diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine.

Komentar