facebook

Riset CISDI: Rerata Remaja Indonesia Konsumsi Minuman Manis Hingga 4,7 Mililiter per Hari

Risna Halidi | Lilis Varwati
Riset CISDI: Rerata Remaja Indonesia Konsumsi Minuman Manis Hingga 4,7 Mililiter per Hari
Ilustrasi minuman manis. [Freepik]

Dari hasil riset tahun 2018 juga ditemukan, 1 dari 10 anak dan remaja di Indonesia mengonsumsi MBDK lebih dari satu kali.

Suara.com - Masyarakat Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di Asia Tenggara dalam jumlah konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Remaja jadi kelompok paling dominan dalam konsumsi minuman tersebut.

Temuan itu berdasarkan riset yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyatakat Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI). 

"Kami mendapati anak-anak usia 13-18 tahun merupakan konsumsi tertinggi, per harinya sampai 4,7 mililiter per orang per hari," kata Plt. Manajer Riset CISDI Gita Kusnadi, MPH, dalam webinar Aliansi Penyakit Tidak Menular (PTM) Indonesia, Rabu (18/5/2022).

Dari hasil riset tahun 2018 juga ditemukan, 1 dari 10 anak dan remaja di Indonesia mengonsumsi MBDK lebih dari satu kali.

Baca Juga: Calon Anaknya Perempuan, Ria Ricis: Allah Lebih Dengar Doa Suami Saya

Gita menyampaikan, kebanyakan MBDK di Indonesia mengandung gula terlalu banyak. Seperti minuman soda dengan rasa strawberi yang ditaksir mengandung sekitar 46 gram gula atau hampir 5 sendok makan. 

"Kalau kita lihat ini sudah mendekati dari anjuran Kementerian Kesehatan. Produk lain pun ada minuman bersoda kandungan gulanya juga sampai 12 sendok teh, itu sudah melebihi (anjuran Kemenkes). Ini baru dari produk yang MBDK, belum dari asupan gula lain," kata Gita. 

Temuan itu berbading lurus dengan prevalensi pengidap diabetes yang juga tinggi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat, pengidap diabetes di Indonesia per 2020 sebanyak 6,2 persen atau sekitar 10,8 juta orang.

Menurut Gita, kondisi tersebut bukan hanya disebabkan pengetahuan masyarakat mengenai diabetes yang masih kurang, tapi juga mudahnya akses terhadap MBDK dengan harga terjangkau.

"Konsumsi MBDK ini memicu juga obesitas, di mana ini merupakan faktor risiko awal yang dapat memicu adanya PTM yang lain. Seperti diabetes, hipertensi, kerusakan liver, dan ginjal. Kemudian penyakit jantung bahkan juga beberapa jenis kanker," tuturnya.

Baca Juga: 4 Dampak Buruk Terlalu Memanjakan Anak, Pembuktian Sayang Bukan Begitu!

Selain edukasi kepada masyarakat terhadap bahaya konsumsi MBDK berlebihan, CISDI juga meminta pemerintah untuk menaikan cukai agar harga jual produk ikut naik.

"Kenaikan harga itu dapat mendorong masyarakat untuk berpikir dalam mengonsumsi MBDK. Mereka akan menurunkan konsumsi MBDK bahkan mendorong untuk mengubah perilaku untuk membeli produk yang lebih sehat. Pada akhirnya akan memicu penurunan tingkat obesitas dan risiko PTM," tuturnya.

Komentar