facebook

Studi: Perempuan Lebih Sering DIam Saat Menderita Karena Menstruasi di Tempat Kerja

Bimo Aria Fundrika
Studi: Perempuan Lebih Sering DIam Saat Menderita Karena Menstruasi di Tempat Kerja
Ilustrasi menstruasi tidak teratur (Pexels/Andrea Piacquadio).

Menurut studi tersebut, sekitar enam dari 10 perempuan mengatakan mereka tidak akan merasa nyaman mendiskusikan topik seperti kram menstruasi, tes smear, pemeriksaan payudara,

Suara.com - Menstruasi masih kerap dianggap tabu di sebagian masyarakat. Bahkan, perempuan seringkali lebih suka memendam rasa sakitnya daripada mengakui kondisi kesehatannya di tempat kerja.

Hal itu berdasarkan sebuah penelitian terbaru. Menurut studi tersebut, sekitar enam dari 10 perempuan mengatakan mereka tidak akan merasa nyaman mendiskusikan topik seperti kram menstruasi, tes smear, pemeriksaan payudara, atau menopause dengan manajer.

Jajak pendapat terhadap 2.000 orang dewasa yang secara biologis perempuan menemukan bahwa 40 persen mengatakan ini karena akan terlalu canggung dan tidak nyaman. Demikian seperti dilansir dari The Sun. 

Sekitar 36 persen mengatakan mereka akan merasa malu, dan 22 persen mengatakan mereka akan tetap diam karena mereka tidak ingin dianggap sebagai 'pemalas' bagi orang lain.

Baca Juga: Setelah Alami Keguguran, Kapan Waktu yang Tepat untuk Hamil Lagi?

Ilustrasi Menstruasi. (pexels)
Ilustrasi Menstruasi. (pexels)

Bukan hanya di tempat kerja di mana perempuan tutup mulut, karena seperempatnya tidak akan membahas masalah pasca-kehamilan dengan keluarga atau teman.

Studi ini dilakan oleh penyedia layanan kesehatan dan perawatan gigi Simplyhealth untuk memicu satu juta 'percakapan yang nyaman' tentang kesehatan perempuan selama Bulan Kesehatan perempuan dengan kampanyenya

Direktur Klinis, Catherine Rutland, mengatakan: “Tidak seorang pun harus menderita dalam diam dan survei kami menunjukkan bahwa terlalu banyak perempuan di Inggris yang melakukan hal itu.

“Apakah itu di tempat kerja, atau dalam kehidupan pribadi mereka, perempuan merasa tidak nyaman atau malu mendiskusikan masalah kesehatan yang normal.

"Sudah waktunya kita mendobrak penghalang itu dan membuang hal-hal yang tabu."

Baca Juga: 5 Sikap Tidak Profesional yang Sebaiknya Jangan Dilakukan di Tempat Kerja

Studi ini juga menemukan 47 persen responden yang bekerja tidak berpikir bos mereka akan memahami masalah kesehatan yang secara khusus mempengaruhi jenis kelamin mereka.

Komentar