facebook

Peneliti Temukan Hidup Lajang Tingkatkan Risiko Kanker Perut, Kok Bisa?

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Peneliti Temukan Hidup Lajang Tingkatkan Risiko Kanker Perut, Kok Bisa?
Ilustrasi single. (Unsplash.com/Brooke Cagle)

Penelitian menemukan hidup dengan status lajang meningkatkan risiko kematian akibat kanker perut.

Suara.com - Anda mungkin memandang lajang atau menjalin hubungan hanya sekadar status. Tapi, ternyata status hubungan Anda bisa menggambarkan risiko kesehatan di masa mendatang.

Petugas medis di China menemukan bahwa hidup menjadi seorang lanjang meningkatkan risiko kematian akibat kanker perut.

Di Inggris, kanker perut menempati urutan ke-17 sebagai kasus kanker paling umum. Sekitar 18 kasus kanker perut terdeteksi setiap harinya.

Di samping petugas medis menemukan bahaya drai menjalani hidup dengan status lajang, mereka juga mengklaim bahwa orang yang menikahlebih mungkin menderita kanker lebih dini.

Baca Juga: Brad Pitt Diduga Alami Prosopagnosia, Kenali Penyebab dan Jenisnya!

Karena itu, diagnosis dini adalah kunci untuk mendeteksi kanker jenis apa pun. Karena, semakin cepat pengobatan dilakukan maka semakin baik hasilnya.

"Orang yang menikah cenderung lebih baik secara finansial. Mereka mungkin juga menerima dorongan emosional," kata Profesor Aman Xu dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Anhui dikutip dari The Sun.

Para ahli mengamati 3.647 kasus kanker pada pasien AS yang tumornya belum menyebar ke organ. Di AS ada sekitar 26.380 kasus kanker setiap tahun.

Ilustrasi Kanker (Pexels.com/Anna Tarazevich)
Ilustrasi Kanker (Pexels.com/Anna Tarazevich)

Pasien dalam penelitian ini telah didiagnosis menderita kanker antara 2010 hingga 2015. Analisis menemukan bahwa orang yang menikah 72 persen lebih mungkin untuk bertahan hidup.

Wanita terlihat lebih baik daripada pria dan mereka yang kehilangan pasangan tampaknya jauh lebih buruk.

Baca Juga: Brad Pitt Diduga Derita Prosopagnosia, Begini Tanda-tandanya!

Wanita 51 persen lebih berisiko meninggal dunia, yang lebih rendah dibandingkan pria yang sebesar 61 persen risikonya.

Penelitian yang diunggah di Journal of Investigative Medicine ini menyebutkan para ahli telah bagaimana mereka membangun nomogram untuk memprediksi tingkat kelangsungan hidup tiga dan lima tahun.

Variabel berkisar dari 0 hingga 100, dengan pasien yang diberi risiko kematian tinggi atau rendah.

Prof Xu mengatakan ukuran tumor adalah faktor terbesar dan status perkawinan juga cukup berpengaruh pada kelangsungan hidup.

"Semua pasien yang didiagnosis dengan (kanker lambung) stadium awal dapat menggunakan nomogram kami untuk menilai risiko prognostik mereka setelah menerima perawatan yang sesuai," kata Prof Xu.

Pada pasien yang berisiko tinggi, frekuensi peninjauan dan waktu tindak lanjut harus ditingkatkan. Pasien sendiri harus lebih memperhatikan fluktuasi gejala dan perbaikan gaya hidup.

Mereka juga menambahkan bahwa orang yang lajang atau janda membutuhkan lebih banyak dukungan ketika didiganosis menderita kanker.

Komentar