facebook

Studi: Jadi Korban Pelecehan Seksual, Perempuan Lebih Berisiko Alami Hipertensi

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Studi: Jadi Korban Pelecehan Seksual, Perempuan Lebih Berisiko Alami Hipertensi
Ilustrasi anak perempuan di bawah umur mengalami aksi pedofilia seorang driver ojol di Bekasi. (Pixaby)

Kekerasan maupun pelecehan seksual kepada perempuan tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya, tapi juga fisiknya.

Suara.com - Kekerasan maupun pelecehan seksual kepada perempuan tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan mentalnya, tapi juga fisiknya.

Hasil penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa perempuan yang pernah mengalami kekerasan seksual, seperti penyerangan juga pelecehan seksual di tempat kerja, jadi lebih berisiko alami tekanan darah tinggi selama tujuh tahun setelahnya.

Penelitian tersebut diterbitkan di Journal of American Heart Association, menunjukkan bahwa kekerasan seksual termasuk pengalaman umum, dialami oleh lebih dari 20 perempuan yang jadi responden studi di AS.

"Hasil kami menunjukkan bahwa wanita yang melaporkan mengalami serangan seksual dan pelecehan seksual di tempat kerja memiliki risiko hipertensi tertinggi, menunjukkan potensi efek gabungan dari beberapa paparan kekerasan seksual pada kesehatan kardiovaskular," kata penulis utama studi dari Harvard TH Chan School of Public Health, Boston, Rebecca B. Lawn, Ph.D., dikutip Science Daily.

Lawn dan rekan-rekannya menganalisis hubungan dampak lanjutan dari kekerasan seksual, terutama yang berkaitan dengan tekanan darah. Sambil memperhitungkan kemungkinan dampak paparan jenis trauma lainnya.

Para peneliti menggunakan Nurses' Health Study II (NHS II), sebuah studi longitudinal pada perempuan dewasa di AS yang dimulai pada tahun 1989 dengan 115.000 perawat terdaftar.

Seiring waktu, NHS II telah mengumpulkan data tentang berbagai variabel sosiodemografi, medis, dan perilaku. Sebagai bagian dari sub-studi NHS II 2008, subkelompok peserta melaporkan apakah mereka pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja (baik fisik atau verbal) dan apakah mereka pernah mengalami kontak seksual yang tidak diinginkan.

Mereka juga melaporkan paparan trauma lain, seperti kecelakaan, bencana, atau kematian tak terduga dari orang yang dicintai.

Lawn dan rekan menganalisis data sub-studi NHS II, tidak termasuk peserta yang sudah memiliki diagnosis tekanan darah tinggi atau sedang minum obat untuk tekanan darah tinggi dari analisis mereka. Mereka juga mengecualikan perempuan yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular atau serebrovaskular.

Sampel akhir terdiri dari 33.127 perempuan yang berusia 43 hingga 64 tahun pada 2008.

Komentar