Suara.com - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) terkait penggunaan vaksin Pfizer untuk booster pada remaja usia 16-18 tahun.
Meskipun demikian, hingga kini dari pihak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) belum memberikan informasi lebih lanjut terhadap pelaksanaan vaksin booster kelompok usia tersebut. Apa alasannya?
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan alasan pelaksaan belum juga dilakukan, karena EUA sulit untuk dilakukan secara operasional.
![Tenaga kesehatan menerima suntikan vaksin booster kedua di Gelanggang Remaja Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (2/8/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/02/76070-vaksin-booster-dosis-kedua-bagi-nakes.jpg)
Selain itu, usia yang akan divaksin sendiri juga hanya pada kisaran 16 dan 17 tahun. Sementara untuk usia 18 tahun sudah diizinkan. Hal tersebut yang membuat pihak Kementerian sulit melaksanakan vaksinasi secara operasional.
“Pertama EUA itu sulit secara operasional, terus umurnya juga pendek cuma 16 sama 17, untuk 18 tahun kan sudah. Jadi secara operasional sulit di 16, 17 itu sempit range umurnya,” ucap dr. Maxi saat diwawancarai di Kemenkes, Senin (8/8/2022).
Selain itu, dr. Maxi juga menjelaskan, alasan sulitnya lagi karena booster yang saat ini diizinkan BPOM hanya Pfizer. Sedangkan, jenis Pfizer sendiri bersifat homolog, yang artinya hanya diperbolehkan dengan vaksin sejenis.
Sementara, remaja yang telah melakukan vaksinasi sendiri menggunakan berbagai jenis yang berbeda. Hal tersbeut yang membuat vaksinasi booster untuk remaja masih tertunda karena kemungkinan yang menerima hanya sedikit.
“Satu lagi sulit dilaksanakan karena cuma Pfizer homolog, sementara kita hampir 90 persen remaja disuntik dengan Sinovac. Kalau kita lakukan itu kasihan gitu, yang dapet Pfizer cuma sedikit,” sambungnya.
Tidak hanya booster untuk remaja, booster kedua untuk umum dr. Maxi mengatakan, sampai saat ini belum ada informasi lebih lanjut. Pasalnya, untuk booster pertama saja sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum melakukannya.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini booster pertama masih berada di angka 32 persen. Untuk itu, saat ini masih memfokuskan booster pertama agar masyarakat bisa mendapatkannya.
“(Booster kedua) belum ada kebijakan, kita selesaikan dulu booster pertama itu masih rendah baru 32 persen. Ya itu perlu diselesaikan,” pungkas dr. Maxi.