Menuju Indonesia Bebas Stunting, Bisakah Gerakan Makan Telur dan Ikan Setiap Hari Jadi Solusi?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 09 September 2022 | 07:05 WIB
Menuju Indonesia Bebas Stunting, Bisakah Gerakan Makan Telur dan Ikan Setiap Hari Jadi Solusi?
Ilustrasi anak-anak. (Pixabay)

Suara.com - Pemerintah Indonesia punya target ambisius menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia menjadi 14 persen pada tahun 2024 atau  di bawah standar dari  WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Namun, data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menunjukkan bahwa angka prevalensi anak stunting di seluruh wilayah Indonesia masih berada di 24,4 persen atau sekitar 5,33 juta balita.  

Prevalensi stunting dalam SSGI 2021 tadi memang terbilang menurun 6,4 persen dari 30,8 persen pada 2018. Namun, Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin, menyebut bahwa ada tantangan besar untuk menurunkan target di tahun 2024 itu. 

“Dengan target 14 persen  pada tahun 2024, masih ada tantangan besar menurunkan prevalensi stunting 10,4 persen poin dalam 2,5 tahun ke depan.” ujar Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Ketua Pengarah Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S) Pusat saat membuka Indonesian SDGs Corporate Summit (ISCOS) Tahun 2022, Selasa (06/09/2022).

Peta Kabupaten/Kota Prioritas Intervensi Stunting di Indonesia. (Dok: Stunting.ID)
Peta Kabupaten/Kota Prioritas Intervensi Stunting di Indonesia. (Dok: Stunting.ID)

Ma'ruf Amin mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang berlangsung selama dua tahun belakangan menjadi salah satu tantangan besar dalam mencapai target tersebut. Hal itu juga terungkap dalam sebuah studi berjudul “Tantangan Pencegahan Stunting Pada Era Adaptasi Baru “New Normal” Melalui Pemberdayaan Masyarakat Di Kabupaten Pandeglang”, yang dilakukan oleh Candarmaweni pada tahun 2020. 

Dalam studinya, peneliti memaparkan pandemi Covid-19 menimbulkan dampak ekonomi secara langsung yang membuat banyak pengangguran di desa dan tidak memiliki peluang usaha.  SItuasi tersebut membuat pendapatan masyarakat berkurang, dan menyebabkan daya beli menurun. Pada akhirnya situasi itu membuat asupan gizi untuk keluarga juga berkurang.

Pentingnya Asupan Protein Hewani Untuk Cegah Stunting

Padahal, dalam studi “Assessment of protein adequacy in developing countries: quality matters” yang melibatkan data dari 116 negara disebutkan bahwa asupan makanan rendah protein berkualitas sangat terkait dengan kasus stunting anak. Hal itu juga dijelaskan oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), yang mengatakan bahwa dalam masa pertumbuhan anak membutuhkan asupan gizi, terutama protein hewani yang cukup. 

“Secara saintifiknya di anak anak itu kan sedang proses pertumbuhan, ada salah satu kompleks protein dalam tubuh kita namanya mTor, itu semacam switch atau saklar, yang kalau dia aktif akan mengaktifkan pertumbuhan, termasuk pertumbuhan linear, perpanjangan tulang, perbesaran organ, dan macam-macam,” ujar Piprim saat dihubungi Suara.com, Rabu, (8/9/2022). 

Untuk mengaktifkan saklar tersebut, lanjut Piprim, butuh asam amino esensial yang cukup di dalam darah. Asam amino esensial tersebut berasal dari protein hewani. Hal tersebut telah dibuktikan oleh sejumlah penelitian internasional.

baca juga
Ilustrasi tinggi badan anak, tubuh pendek atau stunting. ( Shutterstock)
Ilustrasi tinggi badan anak, tubuh pendek atau stunting. ( Shutterstock)

Dalam sebuah studi berjudul “Child Stunting Is Associated With Low Circulating Essential Amino Acids" yang diterbitkan pada jurnal EBioMedicine, tahun 2016 dan melibatkan lebih dari 300 anak berusia 12-59 bulan di pedesaan Malawi, anak-anak stunting memiliki konsentrasi serum yang lebih rendah secara signifikan dari semua 9 asam amino esensial. 

“Kemudian, anak-anak stunting itu, kalau diteliti asupan protein hewaninya memang lebih rendah dibanding  anak-anak yang tidak stunting, walaupun total kalori yang dia makan sama,” ujar Piprim. 

Piprim melanjutkan, bahwa penelitian yang telah membuktikan bahwa anak-anak stunting yang diberi asupan hewani, seperti ikan, telur, dan ayam bisa mengejar ketertinggalan. Sejumlah dasar itu yang menjadi latar belakang ia mengusulkan gerakan makan telur dan ikan setiap hari. 

“Masih banyak orangtua di daerah-daerah yang anak itu yang penting kenyang saja. Jadi nasi doang nasi pakai mi instan, nasi pakai kentang balado, itu tidak ada perhatian terhadap kecukupan protein hewani, padahal anak sedang tumbuh,” jelas Piprim. 

Butuh Edukasi Bersama

Meski demikian, untuk bisa mengejar target pemerintah menurunkan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024, butuh upaya keras untuk mengedukasi dan memberi pemahaman ke masyarakat tentang pentingnya asupan protein hewani bagi anak. Piprim mengatakan bahwa upaya tersebut tidak hanya harus dilakukan oleh pemerintah atau tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. 

Persembahan Karya Jurnalistik Pencegahan Stunting (Suara.com/ Fajar Ramadhan)
Persembahan Karya Jurnalistik Pencegahan Stunting (Suara.com/ Fajar Ramadhan)

Hal itu yang salah satunya dilakukan oleh JAPFA yang secara aktif mempromosikan kampanye gizi seimbang dalam program sosialnya bertajuk JAPFA for Kids sejak tahun 2008. Direktur Corporate Affairs JAPFA,  Rachmat Indrajaya, juga mengatakan bahwa dalam upaya pencegahan stunting pihaknya sejak 2018 secara aktif berkolaborasi dengan puskesmas dan pemangku kepentingan terkait di tingkat daerah dalam memberikan pendampingan kepada kader posyandu disertai dengan pemberian protein hewani pada balita secara rutin. 

“Kami memastikan kesediaan protein hewani yang terjaga kualitasnya, ASUH (aman, sehat, utuh dan halal, dan tentunya terjangkau oleh masyarakat. Produk protein hewani yang kami hasilkan sangat beragam, terdiri dari dari daging ayam dan olahannya, berbagai jenis ikan seperti nila dan udang. Kemudian daging sapi dan olahannya, hingga susu

Lewat program CSR Posyandu Sehat dan Berdaya, Rachmat mengatakan bahwa pihaknya bekerjasama dengan para pemangku kepentingan terkait dalam memberikan edukasi dan pendampingan secara langsung kepada kader posyandu yang ditujukan untuk Ibu hamil dan Ibu yang memiliki balita. 

Selama tahun  2018-2019, pihaknya mendampingi posyandu secara intensif di 7 lokasi di antaranya Kabupaten Siosar Karo, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Lampung Selatan, Kota Cirebon, Kabupaten Malang, Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Mamuju. Total sebanyak 35 posyandu, 240 kader posyandu dan 2.053 balita yang menjadi penerima manfaat program ini.

“Melalui program dan kegiatan sosial yang telah dilakukan, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat secara luas akan manfaat dan pentingnya mengonsumsi protein hewani, terutama dalam mencegah masalah gizi dan stunting,” kata Rachmat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sumatera Barat Kirim 32.355 Ekor Ikan Hias Laut ke Pasar Domestik

Sumatera Barat Kirim 32.355 Ekor Ikan Hias Laut ke Pasar Domestik

Sumbar | Kamis, 08 September 2022 | 18:59 WIB

Duarr! Bom Ikan Meledak di Gudang Polair Polda Sultra Jelang Subuh, Warga: Saya Kira Ban Kontainer Meletus

Duarr! Bom Ikan Meledak di Gudang Polair Polda Sultra Jelang Subuh, Warga: Saya Kira Ban Kontainer Meletus

Sulsel | Kamis, 08 September 2022 | 15:07 WIB

Berawal dari WA, Dua Pria di Pekanbaru Bawa Kabur 1.000 Papan Telur Ayam

Berawal dari WA, Dua Pria di Pekanbaru Bawa Kabur 1.000 Papan Telur Ayam

Riau | Kamis, 08 September 2022 | 13:05 WIB

Terkini

Diskon Rp100.000 di Sushi Tei Berlaku Nasional, Khusus Nasabah BRI

Diskon Rp100.000 di Sushi Tei Berlaku Nasional, Khusus Nasabah BRI

Bri | Rabu, 23 September 2026 | 16:13 WIB

BRI Private Bawa Pengalaman Kesehatan Premium Lewat Layanan Medical Check Up

BRI Private Bawa Pengalaman Kesehatan Premium Lewat Layanan Medical Check Up

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 16:12 WIB

IMC Dukung RUU Perampasan Aset, Minta Kewenangan Aparat Dibatasi

IMC Dukung RUU Perampasan Aset, Minta Kewenangan Aparat Dibatasi

News | Rabu, 23 September 2026 | 16:10 WIB

Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham GOTO, Harga Diskon 46 Persen

Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham GOTO, Harga Diskon 46 Persen

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 16:09 WIB

Ditolak Mentah-mentah, Restrukturisasi Sukuk Pos Indonesia Gagal

Ditolak Mentah-mentah, Restrukturisasi Sukuk Pos Indonesia Gagal

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 16:08 WIB

Deteksi Dini Lebih Nyaman, BRI Private Hadirkan Premium Medical Check Up

Deteksi Dini Lebih Nyaman, BRI Private Hadirkan Premium Medical Check Up

Lampung | Rabu, 23 September 2026 | 16:07 WIB

Viral Kepala SPPG Tebingtinggi Diciduk Istri Diduga Bareng Wanita Lain, Dilaporkan ke KPPG-Polisi

Viral Kepala SPPG Tebingtinggi Diciduk Istri Diduga Bareng Wanita Lain, Dilaporkan ke KPPG-Polisi

Sumut | Rabu, 23 September 2026 | 16:07 WIB

Kenapa Makanan di Pesawat Terasa Hambar dan Tidak Enak? Ternyata Ini Fakta Ilmiah di Baliknya

Kenapa Makanan di Pesawat Terasa Hambar dan Tidak Enak? Ternyata Ini Fakta Ilmiah di Baliknya

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 16:05 WIB

BRI Private Perkuat Layanan Eksklusif Lewat Premium Medical Check Up

BRI Private Perkuat Layanan Eksklusif Lewat Premium Medical Check Up

Sumsel | Rabu, 23 September 2026 | 16:03 WIB

Cara Bikin NPWP Online Lewat Coretax DJP, Gak Perlu ke Kantor Pajak!

Cara Bikin NPWP Online Lewat Coretax DJP, Gak Perlu ke Kantor Pajak!

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 16:03 WIB

×