Kasus Rabies Semakin Banyak Hingga Sebabkan Kematian, Karena Dianggap Sepele?

M. Reza Sulaiman, Fajar Ramadhan

Selasa, 06 Juni 2023 | 09:59 WIB
Kasus Rabies Semakin Banyak Hingga Sebabkan Kematian, Karena Dianggap Sepele?
Paramedis dari Sudin Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Kota Administrasi Jakarta Timur melakukan vaksinasi hewan penular rabies (HPR) di RT 01/02, Cilangkap, Cipayung, Jakarta, Selasa (7/9/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Tingginya kasus rabies di Indonesia akhir-akhir ini membuat kekhawatiran masyarakat yang memiliki hewan peliharaan, khususnya anjing. Apalagi, belum lama ini ada kisah anak yang meninggal dunia karena rabies.

Namun, sebenarnya seperti apa sih penanganan rabies sendiri setelah digigit oleh hewan? Lalu langkah apa dan berapa lama rabies itu harus diobati agar tidak semakin parah?

Menanggapi hal tersebut Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dr Imran Pambudi, MPHM mengatakan, pada dasarnya rabies kembali pada lokasi gigitan. Jika lokasinya berada di dekat saraf, hal itu sangat berpotensi untuk menjadi buruk.

“Jadi kalau apa yang harus dilakukan prinsipnya itu kalau lokasi gigitannya semakin dekat dengan saraf maka prospeknya lebih buruk. Karena dia akan cepat sampai ke saraf tadi,” konferensi pers Update Situasi Rabies di Indonesia, Jumat (2/6/2023).

Sementara, Dr Imran saat ini banyaknya kasus kematian itu rabies itu terjadi sebab telatnya penanganan. Pasalnya, banyak masyarakat yang menyepelekan gigitan hewan. Sebab digigit, tapi tidak terlalu parah, biasanya orang akan merasa baik-baik saja. Padahal, itu bisa membuat virus masuk dan menjadi parah.

“Sebagian besar kematian-kematian itu, ternyata memang terlambat dibawa ke faskes. Karena mereka itu merasa hanya, ah ini gigitannya kecil kok, enggak sampe berdarah. Kemudian juga ‘itu anjing tetangga saya kok yang biasa main’, jadi menyepelekan gitu,” jelasnya.

Di sisi lain, masyarakat biasanya akan datang saat satu bulan setelah gigitan berlangsung. Bahkan, mereka akan panik jika hewan yang menggigitnya itu telah mati. Oleh sebab itu, kasus kematian karena rabies menjadi tinggi sebab telatnya penanganan.

“Sehingga mereka datang dengan kondisi yang sering ya di atas satu bulan setelah digigit. Nah artinya kalau sudah satu bulan kita gak tau lagi hewannya seperti apa. Dan rata-rata mereka baru panik dibawa ke faskes baru tau kalau anjing yang menggigit itu mati. Mereka baru dibawa ke faskes,” sambung Dr Imran.

Oleh sebab itu, Dr Imran menyarankan, bagi masyarakat yang alami luka gigitan hewan, diharapkan sesegera mungkin melakukan pengobatan ke fasilitas kesehatan terdekat.

baca juga

“Jadi kalau ditanya apa yang perlu dilakukan ya proses sesegera mungkin ketika digigit, terus ke faskes untuk dilakukan pengobatan,” ujar Dr Imran.

Apalagi lukanya berada dekat saraf atau kepala. Hal ini perlu mendapatkan penanganan dengan cepat. Biasanya ini terjadi pada anak-anak karena postur tubuhnya yang pendek. Mereka muda digigit di area dekat kepala.

“Untuk berapa persennya, semakin dekat dengan saraf, dekat kepala semakin cepat. Makannya yang meninggal itu kebanyakan anak kecil karena ketika digigit anjing itu yang kena kepalanya karena dia pendek. Kalau dewasa punya waktu, tapi kalau anak-anak cepat sekali untuk menjadi buruk kondisinya,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Angka Penyakit Rabies Meningkat Hingga 234 Kasus, Ahli Duga Pandemi Covid-19 Biang Keroknya

Angka Penyakit Rabies Meningkat Hingga 234 Kasus, Ahli Duga Pandemi Covid-19 Biang Keroknya

Health | Sabtu, 03 Juni 2023 | 15:11 WIB

7 Cara Merawat Anjing Poodle, Penting untuk Merawat Bulunya!

7 Cara Merawat Anjing Poodle, Penting untuk Merawat Bulunya!

Your Say | Jum'at, 02 Juni 2023 | 20:30 WIB

Gara-gara Wabah Rabies, Anjing Liar yang Muncul Langsung Dikejar Dan Dibunuh

Gara-gara Wabah Rabies, Anjing Liar yang Muncul Langsung Dikejar Dan Dibunuh

Bali | Kamis, 01 Juni 2023 | 15:28 WIB

Terkini

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB

Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri

Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:15 WIB

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB