Radang Usus Kronik Meningkat di Indonesia, Mengapa Banyak Pasien Baru Sadar Saat Sudah Parah?

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Rabu, 26 November 2025 | 17:35 WIB
Radang Usus Kronik Meningkat di Indonesia, Mengapa Banyak Pasien Baru Sadar Saat Sudah Parah?
Ilustrasi sistem pencernaan manusia. [Shutterstock]
  • IBD, penyakit radang usus kronik yang meningkat di Asia, sering disalahpahami sehingga diagnosisnya terlambat.
  • Data menunjukkan angka kejadian IBD di Indonesia berada pada 0,77 per 100.000 penduduk per tahun.

Suara.com - Penyakit radang usus kronik atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) kini menjadi salah satu persoalan kesehatan yang makin sering muncul di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Meski begitu, banyak masyarakat masih sulit membedakan IBD dengan gangguan pencernaan umum seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS).

Akibatnya, gejala sering diabaikan, diagnosis terlambat ditegakkan, dan pasien baru datang ketika sudah mengalami komplikasi.

Data Asia-Pacific Crohn’s and Colitis Epidemiologic Study (ACCESS) menunjukkan angka kejadian IBD di Indonesia berada pada 0,77 per 100.000 penduduk per tahun. Angka ini mungkin tampak kecil, tetapi tren peningkatannya konsisten di berbagai rumah sakit rujukan. Minimnya fasilitas pemeriksaan dan penanganan komprehensif membuat pasien sering berpindah dari satu layanan ke layanan lainnya tanpa kepastian diagnosis.

IBD terdiri dari dua bentuk utama, yaitu Crohn Disease dan kolitis ulseratif. Keduanya bersifat kronis dan dapat “mengambil hidup” pasien dalam arti merusak kualitas hidup, meski tidak mematikan secara langsung.

Rasa nyeri perut berulang, diare berdarah, rasa lelah ekstrem, hingga gangguan nutrisi membuat pasien kerap kesulitan menjalani aktivitas normal. Di sisi lain, masyarakat sering salah memahaminya sebagai sakit maag biasa atau gangguan stres.

Kondisi inilah yang mendorong RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo melalui RSCM Kencana menghadirkan Layanan IBD Center, sebuah pusat layanan terpadu untuk diagnosis, perawatan, dan edukasi terkait penyakit IBD. Layanan ini diperkenalkan melalui Soft Launching dan Seminar Awam IBD pada Selasa, 25 November 2025.

Merespons Kebutuhan yang Mendesak

Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, dr. Renan Sukmawan, menegaskan bahwa IBD bukan lagi penyakit yang sulit ditangani apabila pasien memiliki akses pada layanan yang tepat dan terintegrasi.

“IBD bukan lagi menjadi masalah besar, karena seluruh kebutuhannya dapat ditangani di sini. Pendekatan layanan kami bersifat individual dan personal, memastikan bahwa meskipun penyakit ini kronis, pasien tetap dapat memiliki kualitas hidup yang baik,” ujar dr. Renan. “Tujuan kami adalah mengembalikan kualitas hidup dasar pasien seoptimal mungkin.”

Kepala Instalasi Pelayanan Eksekutif Terpadu RSCM Kencana, dr. Gerhard Reinaldai Situmorang, menambahkan bahwa IBD adalah penyakit yang dapat merusak hidup pasien tanpa harus menghilangkan nyawa. Oleh karena itu, penanganannya harus tailored dan komprehensif.

Mengatasi Misinformasi dan Mempercepat Diagnosis

Dalam seminar tersebut, ahli gastroenterologi RSCM Kencana menjelaskan berbagai aspek penting IBD yang selama ini sering disalahpahami pasien.

dr. Amanda Pitarini Utari, Sp.PD, K-GEH, menegaskan bahwa IBD berbeda dari IBS. IBD adalah peradangan kronik pada saluran cerna yang dipengaruhi faktor genetik, sistem imun, lingkungan, dan mikrobiota usus. Hingga kini, belum ada satu pemeriksaan baku emas, sehingga diagnosis harus menggunakan kombinasi evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang.

Sementara itu, dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, K-GEH memaparkan pentingnya penilaian menyeluruh sebelum menentukan terapi. Mulai dari luas lesi, derajat keparahan radang, komplikasi, hingga manifestasi di luar saluran cerna.

Ia menekankan bahwa meskipun IBD adalah penyakit jangka panjang, kondisinya dapat dikendalikan. Keberhasilan terapi ditandai oleh remisi klinis, penyembuhan mukosa, peningkatan kualitas hidup, dan pencegahan komplikasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Cuma Bikin Melek, Ini 6 'Sisi Gelap' Kopi yang Jarang Kamu Sadari

Bukan Cuma Bikin Melek, Ini 6 'Sisi Gelap' Kopi yang Jarang Kamu Sadari

Your Say | Senin, 24 November 2025 | 09:27 WIB

Mitos atau Fakta? Ini yang Terjadi Jika Kamu Menelan Permen Karet

Mitos atau Fakta? Ini yang Terjadi Jika Kamu Menelan Permen Karet

Tekno | Rabu, 12 November 2025 | 18:57 WIB

Normalnya, Sehari Kentut Berapa Kali? Ini Kata Ahli Gizi soal Batas Jumlah yang Sehat

Normalnya, Sehari Kentut Berapa Kali? Ini Kata Ahli Gizi soal Batas Jumlah yang Sehat

Lifestyle | Selasa, 04 November 2025 | 19:35 WIB

Bukan Cuma Bikin Enak, 8 Makanan Fermentasi Ini Ternyata Pahlawan Buat Usus Sehat

Bukan Cuma Bikin Enak, 8 Makanan Fermentasi Ini Ternyata Pahlawan Buat Usus Sehat

Your Say | Selasa, 04 November 2025 | 16:35 WIB

Stop Diet Ekstrem! 3 Langkah Sederhana Perbaiki Pencernaan, Badan Jadi Lebih Sehat

Stop Diet Ekstrem! 3 Langkah Sederhana Perbaiki Pencernaan, Badan Jadi Lebih Sehat

Health | Jum'at, 17 Oktober 2025 | 08:15 WIB

3 Manfaat Kacang Merah, Benarkah Atasi Sembelit?

3 Manfaat Kacang Merah, Benarkah Atasi Sembelit?

Lifestyle | Rabu, 20 Agustus 2025 | 06:10 WIB

Terkini

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB