Suara.com - Kemajuan kedokteran modern membawa dampak besar bagi kesehatan global. Namun di balik itu, muncul persoalan lingkungan yang kerap luput dari perhatian.
Sejumlah studi menunjukkan residu obat-obatan kini banyak ditemukan di sungai, danau, hingga air tanah di berbagai belahan dunia, menandai bentuk polusi baru yang berkembang di balik keberhasilan medis.
Bahan Aktif Menuju Lingkungan
Berdasarkan data yang dihimpun dari Earth.org, siklus penggunaan obat-obatan ternyata tidak berhenti di dalam tubuh manusia. Sekitar 4.000 bahan aktif farmasi digunakan secara global. Banyak dari senyawa kimia ini tetap aktif secara biologis setelah meninggalkan tubuh.
Ketika kita mengonsumsi obat seperti antibiotik, antidepresan, atau penghilang rasa sakit, tubuh kita sering kali hanya memetabolisme sebagian saja. Sisanya dikeluarkan lalu mengalir melalui sistem pembuangan limbah.
Masalah utamanya terletak pada infrastruktur pengolahan air. Sebagian besar instalasi pengolahan air limbah tidak dirancang untuk menyaring dan menghilangkan bahan kimia kompleks ini. Akibatnya, banyak residu farmasi melewati proses pengolahan dan berakhir di sungai, danau, hingga ekosistem pesisir. Sebuah tinjauan literatur global oleh PBB bahkan mengidentifikasi sekitar 631 jenis obat-obatan atau produk transformasinya di lingkungan yang tersebar di 71 negara.
Sumber Kontaminasi Global
Polusi ini tidak hanya berasal dari konsumsi manusia. Ada beberapa sumber lain yang berkontribusi pada akumulasi limbah farmasi, mulai dari pembuangan yang tidak tepat, produksi industri itu sendiri, hingga di sektor pertanian yang menggunakan antibiotik dan hormon pada hewan ternak yang masuk ke lingkungan melalui kotoran, limpasan irigasi, atau aliran sungai.
Kebiasaan membuang obat kedaluwarsa ke toilet atau tempat sampah rumah tangga membuat bahan kimia meresap ke tanah dan air tanah.
Di sisi lain, instalasi pengolahan air limbah yang menerima pembuangan dari pabrik farmasi dapat memiliki konsentrasi residu 10 hingga 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan area non-industri. Dalam beberapa kasus, bahan kimia ini telah terdeteksi lebih dari 30 kilometer atau setara dengan 18 mill di hilir dari lokasi produksi.
Studi global tahun 2022 dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) melakukan analisis sampel di 104 negara dan mengonfirmasi bahwa kontaminasi ini telah mencapai setiap benua. Konsentrasi yang lebih tinggi sering terlihat di dekat kota-kota besar.
Wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi atau infrastruktur pengolahan yang terbatas menjadi titik yang paling rentan. Hal ini dapat terjadi karena air limbah terkadang tidak diolah atau yang melalui proses pengolahan tetapi tidak maksimal, sehingga residu farmasi bisa langsung terlepas ke sungai, danau, dan ekosistem pesisir. Bahkan, di negara-negara dengan infrastruktur yang maju, masih banyak instalasi pengolahan air limbah yang kekurangan teknologi untuk menghilangkan bahan kimia ini sepenuhnya.
Dampak Biologis pada Satwa dan Kesehatan
Meskipun konsentrasinya di air minum manusia umumnya berada di bawah dosis terapeutik, spesies akuatik mengalami dampak yang jauh lebih nyata. Senyawa seperti hormon sintetis yang digunakan dalam kontrasepsi dapat bertindak sebagai pengganggu endokrin, bahkan pada kadar yang rendah dalam satu nanogram per liter dapat mengubah sistem reproduksi ikan. Hal ini memicu fenomena feminisasi, di mana ikan jantan mengembangkan karakteristik betina.
Selain itu, polusi farmasi berkaitan erat dengan risiko resistensi antibiotik. Ketika antibiotik masuk ke sungai dan sistem air limbah, bakteri bisa menjadi resisten terhadap obat-obatan ini. Keberadaan antibiotik di sistem air tersebut menciptakan lingkungan yang memungkinkan bakteri berkembang menjadi "superbug".
Secara ekologis, penggunaan obat hewan seperti diklofenak (obat penghilang rasa sakit hewan) di Asia Selatan tercatat hampir menyebabkan penurunan hingga kepunahan populasi burung pemangsa pada tahun 1990-an dan awal 2000-an. Burung pemangsa yang memakan bangkai ternak dan diobati dengan obat tersebut populasinya menurun hingga lebih dari 95% dalam satu dekade akibat gagal ginjal fatal.
Solusi Jangka Panjang
Untuk mengatasi krisis yang tidak terlihat ini memerlukan tindakan di berbagai tahap siklus hidup obat. Peningkatan teknologi seperti filtrasi karbon aktif, ozonasi, dan proses oksidasi lanjutan terbukti lebih efektif dalam menghilangkan residu kimia. Di sisi kebijakan, Uni Eropa dan EPA di Amerika Serikat mulai memperketat pemantauan terhadap daftar pantauan kontaminan farmasi.
Solusi jangka panjang juga mencakup pengembangan "farmasi hijau" atau desain obat yang tetap efektif dan lebih mudah terurai di lingkungan.
Para peneliti saat ini sedang mempelajari pengembangan tersebut. Selain itu, program pengembalian obat dan penggunaan teknologi bioremediasi dengan bakteri, alga, dan jamur juga menjadi langkah penting untuk menyeimbangkan kebutuhan medis dengan perlindungan ekosistem air bagi masa depan.