- Setiap tahun, sebanyak 2.500 bayi di Indonesia lahir dengan talasemia mayor yang memerlukan transfusi darah rutin seumur hidup.
- Pemerintah dan berbagai pihak menyelenggarakan rangkaian kegiatan sepanjang Mei 2026 guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang skrining dini talasemia.
- Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan memperkuat pengendalian talasemia sekaligus memutus rantai penurunan penyakit genetik antar generasi di Indonesia.
Suara.com - Talasemia masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Setiap tahunnya, sekitar 2.500 bayi lahir dengan talasemia mayor, yakni kelainan genetik berat yang membuat penderitanya harus menjalani transfusi darah rutin seumur hidup.
Padahal, sebagian besar kasus talasemia sebenarnya dapat dicegah melalui skrining dan deteksi dini.
Talasemia merupakan kelainan genetik yang memengaruhi pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Akibat gangguan tersebut, sel darah merah menjadi mudah rusak sehingga menyebabkan anemia dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap penderita.
Di Indonesia, angka pembawa sifat talasemia tergolong tinggi. Diperkirakan sekitar 2,6–11 persen populasi membawa sifat talasemia alfa, 3–10 persen membawa sifat talasemia beta, dan 1,5–36 persen membawa sifat HbE.
Banyak pembawa sifat talasemia tampak sehat dan tidak menyadari kondisi yang dimilikinya karena sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas.
Kondisi inilah yang membuat skrining menjadi sangat penting, terutama bagi remaja, calon pasangan menikah, keluarga dengan riwayat talasemia, maupun kelompok berisiko lainnya.
Tanpa pemeriksaan sejak dini, risiko penurunan talasemia kepada generasi berikutnya akan terus terjadi.
Bentuk talasemia minor umumnya hanya menyebabkan anemia ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali.
Namun pada talasemia mayor, pasien membutuhkan transfusi darah rutin sepanjang hidup untuk mempertahankan kondisi tubuhnya tetap stabil.
Selain transfusi rutin, penanganan talasemia juga membutuhkan pendekatan menyeluruh mulai dari skrining, diagnosis, terapi kelasi besi untuk mengurangi penumpukan zat besi akibat transfusi berulang, hingga dukungan psikososial bagi pasien dan keluarga.
Dengan perawatan yang optimal, penyandang talasemia tetap dapat hidup produktif dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.
Ketersediaan darah yang aman dan sesuai juga menjadi kebutuhan utama bagi penyandang talasemia mayor. Darah yang digunakan harus melalui proses pengurangan leukosit atau sel darah putih agar transfusi dapat berlangsung lebih aman dan berkelanjutan.
Dalam rangka memperingati World Thalassemia Day 2026 yang jatuh setiap 8 Mei, Sysmex Indonesia bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menggandeng PMI Pusat, BPJS Kesehatan, serta Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) menggelar rangkaian kegiatan bertema “United for Thalassemia”.
Kegiatan ini mengusung tema global “Hidden No More: Finding the Undiagnosed, Supporting the Unseen”. Rangkaian kegiatan yang berlangsung sepanjang Mei 2026.
Di mana, meliputi webinar nasional pada 19 Mei, aksi donor darah pada 21 Mei, serta kampanye digital melalui kompetisi media sosial pada 16–30 Mei 2026.
Seluruh kegiatan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya skrining dini sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian talasemia di Indonesia.
Webinar nasional “United for Thalassemia” menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, PMI, dokter spesialis anak, hingga POPTI sebagai kelompok advokasi penyandang talasemia.
Diskusi membahas strategi nasional pengendalian talasemia, akses layanan dan pembiayaan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), perkembangan deteksi dini dan tata laksana, hingga pentingnya keberlanjutan pasokan darah bagi pasien.
“Deteksi dini, edukasi, dukungan terhadap penyandang talasemia, serta kolaborasi antar pemangku kepentingan adalah bagian penting dalam memperkuat penanggulangan talasemia di Indonesia. Tanpa skrining, talasemia dapat terus berulang antar generasi, padahal risiko ini dapat dikenali lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat,” ujar dr. Andi Saguni, M.A., dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pasien talasemia, Sysmex Indonesia juga menggelar aksi donor darah untuk membantu menjaga ketersediaan darah bagi pasien talasemia mayor yang membutuhkan transfusi secara rutin.
Selain itu, kampanye digital melalui kompetisi media sosial juga dilakukan untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Masyarakat diajak membagikan foto dan cerita inspiratif mengenai dukungan keluarga, peran tenaga kesehatan, harapan hidup penyandang talasemia, hingga pentingnya skrining dan edukasi sebagai langkah pencegahan.
Melalui peringatan World Thalassemia Day 2026, berbagai pihak berharap kesadaran masyarakat terhadap talasemia terus meningkat.
Upaya deteksi dini dan skrining diharapkan dapat menjadi langkah penting untuk memutus rantai talasemia di Indonesia sekaligus melindungi generasi mendatang dari risiko penyakit genetik ini.